MilenialFest, Hipmi Dorong Generasi Muda Jadi Pengusaha

MilenialFest, Hipmi Dorong Generasi Muda Jadi Pengusaha

"Saya jadi pengusaha karena sudah capek miskin. Dari usia 0 sampai 25 tahun, saya merasa belum jadi manusia seutuhkan. Bahkan sampai menderita busung lapar karena sulitnya hidup,"

MilenialFest, Hipmi Dorong Generasi Muda Jadi Pengusaha


Telegraf, Jakarta – Sebelum menjadi pengusaha sukses dari berbagai sektor seperti sekarang, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Bahlil Lahadalia, ternyata harus melalui hidup yang berat.

Saat menceritakan perjuangan hidupnya di acara MilenialFest, putra asli Fak Fak, Papua ini mengaku pernah berjualan kue dan sopir angkot untuk bertahan hidup.

“Di Fak Fak, sejak SD saya sudah berjualan kue. Bukan karena suka, tapi karena terpaksa. Kalau tidak jualan, saya tidak makan dan tidak bisa sekolah. Menginjak SMP, saya menjadi kondektur di sekolah, kemudian jadi sopir angkot sampai mahasiswa. Semua ini saya lakukan untuk bertahan hidup,” cerita Bahlil saat menjadi pembicara di MilenialFest dalam sesi “Inspirasi Papua, Berjuang dari Bawah”, di Jakarta, Minggu (28/10/18).

Keputusannya untuk menjadi pengusaha juga berangkat dari kehidupannya yang getir tersebut. Bahkan saat kuliah di Jayapura, Bahlil mengaku pernah menderita busung lapar akibat tidak bisa membeli makanan

“Saya jadi pengusaha karena sudah capek miskin. Dari usia 0 sampai 25 tahun, saya merasa belum jadi manusia seutuhkan. Bahkan sampai menderita busung lapar karena sulitnya hidup,” cerita Bahlil.

Dari perjuangan hidup yang dijalaninya utu, Bahlil mengingatkan para generasi muda agar berani memulai usaha untuk keluar dari kemiskinan. Sebab menjadi karyawan tidak akan membuat seseorang bisa kaya. Yang juga penting, jangan takut melakukan hal-hal besar yang biasa juga disertai risiko besar.

“Sesuatu yang besar harus dilalui dengan proses dan perjuangan yang besar. Jangan menjadi generasi yang pesimis, tetapi harus jadi generasi optimis. Jangan merasa keberhasilan hanya milik kelompok orang, tapi milik semua orang dari Aceh hingga Papua,” tegas Bahlil. (Red)


Photo Credit : FILE/Dok/Ist. Photo

 

KBI Telegraf

close