Menpora Meminta Suporter Agar Jadi Simbol Pemersatu

"Organisasi kami terbentuk pada 2016 oleh Dewan Pendiri yakni Bapak Soemantri, suporter kami lihat sangat potensial sehingga jadilah kami PSTI, kami ingin sepakbola menjadi tontonan keluarga yang aman karena kita supoter tetapi hal itu belum tercipta,"

Menpora Meminta Suporter Agar Jadi Simbol Pemersatu


Telegraf, Jakarta – Menpora Imam Nahrawi didampingi Plt. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Washinton menerima audiensi Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro yang hadir bersama Humas PSTI Dedie Priyanto (Bojonegoro), Alma Costa, Bendahara Kenrick Philbert (Singkawang) serta Ketua Bidang Organisasi Hazmin A.ST. Muda (Ternate) dan Zico Mulia (Jakarta) di ruang kerjanya lantai 10 Kantor Menpora Senayan, Jakarta, Kamis (2/3/2017) sore.

Kepada Menpora, Ignatius menyampaikan Paguyuban Suporter Timnas belum lama terbentuk. “Organisasi kami terbentuk pada 2016 oleh Dewan Pendiri yakni Bapak Soemantri, suporter kami lihat sangat potensial sehingga jadilah kami PSTI, kami ingin sepakbola menjadi tontonan keluarga yang aman karena kita supoter tetapi hal itu belum tercipta,” katanya.

Kami berharap, lanjutnya organisasi kami dapat menjadi mitra Kemenpora dan PSSI kedepannya untuk mengkoordinir suporter, lomba membuat yel-yel untuk timas dan koordinasi dengan fansbase serta suporter di daerah-daerah, hingga saat ini calon anggota kami sekitar 1000 orang seluruh Indonesia.

“Intinya kami adalah suporter yang sangat mencintai timnas. Suporter Indonesia adalah suporter yang sebeneranya memiliki gairah untuk sportif, kami adalah sekumpulan suporter yang menginginkan wadah untuk suporter pendukung timnas Indonesia,” tambah Dedie Priyanto.

Di Negara Eropa negara dengan suporter bisa bersatu misalnya di Inggris dan negara lain, semoga hal ini juga dapat di terapkan di Indonesia agar tertib, suporter menjadi lebih baik serta di terapkan reward dan punishment. “Kami harap pengelolaan suporter ke depan lebih baik serta pembangunan sentimen Merah-Putih bukan lagi sentimen daerah yang dijunjung apabila timnas bermain,” ujar Hazmin.

Menanggapi hal itu Menpora melihat pengelolaan suporter tidak dapat berdiri sendiri tetapi juga oleh klub, PSSI serta  harus ada sanksi dan sebagainya. “Ujungnya kedepan suporter harus dikelola modern misalnya kedepan  penjualan tiket nonton harus mulai online, tidak ada lagi penjualan tiket secara offline,” tegas Menpora.

Eksistensi suporter sebagai pemain ke-12 di negara kita saat ini belum dihargai secara manusiawi dan menejemen modern. “Masing-masing suporter harus ada saham di klub semisal 10% untuk klub maka konsekuensinya bila ada kerusuhan maka bukan lagi suporter tetapi juga klub, kita harus ciptakan regulasi yang ketat semisal tidak boleh menyuarakan yel- yel  yang mengandung SARA dan sebagainya, apabila di hulunya telah kompak maka tinggal di hilirnya yaitu Timnas,” tambah Menpora.

“Filosofinya adalah sepakbola harus menjadi pemersatu bangsa saya ingin adanya simbolisasi nasional yang dulu dilakukan elit suporter, boleh kita berbeda klub tetapi bicara timnas saat kita dukung timnas maka kita semua suporter harus memakai seragam timnas,” tutur menteri asal Bangkalan, Madura ini. (Red)

Photo credit : Telegraf/Koeshondo W. Widjojo


KBI Telegraf

close