Menkominfo: Hoax Fitnah Yang Sering Dilakukan Berjamaah

"Pengguna media sosial (medsos) agar harus lebih cerdas dalam menanggapi adanya informasi hoax yang beredar di media sosial. Setidaknya tidak mengirimkan ke yang lain atau tidak menjadi yang pertama mengirim informasi hoax tersebut,"

Menkominfo: Hoax Fitnah Yang Sering Dilakukan Berjamaah


Telegraf, Yogyakarta – Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan terkait dengan maraknya penyebaran informasi atau berita bohong (hoax) yang kini semakin menjamur dan merajalela. Menurut Rudiantara, menyebarkan informasi, konten yang tidak benar atau hoax dengan mengirimkan ke media sosial secara berantai itu merupakan perbuatan fitnah berjamaah.

Hal tersebut disampaikan oleh Rudiantara saat meresmikan Graha Suara Muhammadiyah di Yogyakarta, Minggu, (25/02/2018). Rudiantara hadir bersama sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya dalam peresmian itu.

Menurut Rudiantara, dirinya selalu menyampaikan kepada masyarakat mengapa harus membuang pulsa dengan mengirimkan informasi atau pesan yang belum jelas kebenarannya ke media sosial begitu menerima informasi itu.

“Apalagi kalau informasi itu tidak benar atau hoax kita kirim ke mana-mana dan dikirim lagi, itu fitnah berjamaah, karena saking banyaknya,” katanya.

“Pengguna media sosial (medsos) agar harus lebih cerdas dalam menanggapi adanya informasi  hoax yang beredar di media sosial. Setidaknya tidak mengirimkan ke yang lain atau tidak menjadi yang pertama mengirim informasi hoax tersebut,” jelasnya.

Ia juga meminta publik cerdas. Jika dulu orang menelpon maka yang meneleponlah yang dibebani pembayaran. Sedangkan sekarang, jaman pembayaran dengan paket data, orang yang menyebar dan menerima informasi melalui media sosial sama-sama harus membayar.

“Jadi untuk apa buang pulsa, beda dengan dulu kalau yang telpon itu bayar, yang terima tidak bayar, tapi sekarang di medsos dengan data, yang mengirim bayar, menerima bayar, jadi bila kita menerima sesuatu yang tidak benar, sudah rugi pulsa, rugi pula informasi,” katanya.

Menkominfo pun berharap Muhammadyah melalui media Suara Muhammadiyah yang sudah berumur 103 tahun, tidak hanya bergerak dalam bidang cetak. Melainkan juga media online aktif agar turut menyuarakan kebenaran dan membendung berita hoax yang membodohi publik.

Baca Juga :   Sebanyak 1.389.600 Dosis Vaksin AstraZeneca Kembali Tiba di Indonesia

Terkait dengan hal itu, masih belum adanya verifikasi dari ribuan media-media patut dipertanyakan apakah isi dan kontennya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya atau tidak.

Rudi mengatakan, kepercayaan publik pada media arus utama meningkat tajam, sementara kepercayaan pada media online dan sosial menurun drastis.

“Kepercayaan publik Indonesia pada media arus utama di posisi kedua tertinggi setelah Tiongkok,” ucap Rudiantara.

“Indonesia butuh rujukan informasi yang lebih berkualitas. Media harus profesional dan menjunjung kode etik menyuarakan kebenaran,” katanya.

Menkominfo menambahkan, dengan maraknya hoax yang tersebar melalui media online dan sosial saat ini, Indonesia butuh sumber informasi tepercaya. Rudiantara pun berharap media tersebut berperan sebagai sumber informasi tepercaya bagi publik. (Red)


Photo Credit : Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan terkait dengan maraknya penyebaran informasi atau berita bohong (hoax) yang semakin marak. | Telegraf/Koes W. Widjojo

KBI Telegraf

close