Menko Optimistis RI Tak Akan Terseret Perlambatan Ekonomi Global

Menko Optimistis RI Tak Akan Terseret Perlambatan Ekonomi Global

"Kita sudah mulai terbiasa dengan ekonomi global yang menunjukkan suatu situasi perlambatan yang sudah berlangsung beberapa tahun. Dalam situasi ini, pemerintah memulai kebijakan. Tema besarnya bagaimana supaya tidak terseret ke dalam perlambatan atau pusaran perlambatan ekonomi dunia,"

Menko Optimistis RI Tak Akan Terseret Perlambatan Ekonomi Global


Telegraf, Jakarta – Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengaku optimistis Indonesia tidak akan terseret tren pelemahan ekonomi global dengan berbagai upaya yang telah dan terus dilakukan dengan berbagai kebijakan.

“Kita sudah mulai terbiasa dengan ekonomi global yang menunjukkan suatu situasi perlambatan yang sudah berlangsung beberapa tahun. Dalam situasi ini, pemerintah memulai kebijakan. Tema besarnya bagaimana supaya tidak terseret ke dalam perlambatan atau pusaran perlambatan ekonomi dunia,” kata Darmin dalam acara Seminar Prospek Ekonomi Indonesia 2017: Memetakan Sektor-Sektor Unggulan di Balai Kartini, Jakarta, Senin (19/12).

Darmin menyebutkan, upaya agar Indonesia tidak terseret perlambatan ekonomi dunia ini dimulai dengan satu keberanian melakukan pemotongan subsidi besar-besaran pada akhir 2014. Kemudian dana tersebut didistribusikan ke pembangunan infrastruktur, pendidikan, bantuan sosial.

“Itu adalah suatu langkah besar yang kemudian membuka ruang fiskal lebih besar daripada sebelumnya yang sudah sangat terbatas. Pilar pertama pembangunan ekonomi adalah Nawa Cita. Pilar kedua utama adalah pembangunan infrastruktur dengan mengundang investasi asing masuk,” ujarnya.

Lebih lanjut Darmin menyatakan, pilar ketiga adalah paket kebijakan deregulasi dan debiroktratisasi dengan terus melakukan evaluasi dan mengawal implementasinya. Dan sejauh ini yang sudah cukup berjalan dengan baik adalah terealisasinya pusat logistik berikat (PLB) yang menyebar di seluruh Indonesia.

“Kemudian kita juga telah melakukan revisi daftar negatif investasi dan membuka sektor farmasi untuk asing karena selama ini kebutuhan impor bahan baku farmasi sangat tinggi, sementara Indonesia melaksanakan BPJS. Sehingga diharapkan industri hulu farmasi ini bisa dibangun di Indonesia dan memenuhi kebutuhan industri farmasi dalam negeri,” tuturnua.

Baca Juga :   Milad Ke 7 Jamsyar terus Secure, Survive, Sustain dan Catat Aset 1,9 Triliun

Ia menambahkan, upaya pengendalian inflasi juga akan terus dilakukan dengan menjaga sektor pangan agar daya beli masyarakat membaik. Di sisi lain, reformasi perpajakan juga akan terus diperhatikan diperbaiki agar penerimaan negara bisa seperti yang diharapkan dan mendukung perekonomian dalam negeri. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


KBI Telegraf

close