Menggali Lagi Makna Perjuangan Pemuda di Era Globalisasi Digital

Menggali Lagi Makna Perjuangan Pemuda di Era Globalisasi Digital

“Kecanggihan teknologi internet ini mampu memberikan alternatif saluran, salah satunya melalui situs jejaring sosial bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan tanggapannya atas berbagai isu yang ada,”

Menggali Lagi Makna Perjuangan Pemuda di Era Globalisasi Digital


Telegraf, Jakarta – Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat berdiri sendiri tanpa memiliki hubungan dengan manusia lain. akibat dari hubungan yang terjadi di antara manusia, lahirlah kelompok-kelompok sosial dan dilandasi oleh kesamaan kepentingan bersama. Namun bukan berarti semua bisa dikatakan kelompok sosial. Untuk menjadi kelompok sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu. Dalam kelompok sosial yang memiliki susunannya sendiri maka  masyarakatnya akan berdampak dalam sebuah perubahan susunan tersebut terjadi sebuah keniscayaan. Karena perubahan merupakan hal yang mutlak terjadi dimanapun tempatnya hal tersebut coba ditegaskan kembali oleh Yohana Maris Budianti, ketua DPC GMNI Jakarta Timur periode 2015-2017.

Salah satu fenomena menarik dalam perkembangan teknologi adalah adanya internet yang memberi kemudahan bagi orang untuk berhubungan dalam jangka waktu yang cepat, mudah dan massif. Internet juga memungkinkan kita berbagi ide dan mendiskusikan tentang segala hal dari yang bersifat keseharian hingga hal-hal yang lebih serius semisal kritik kebijakan pemerintah, tanpa dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu. “Kecanggihan teknologi internet ini mampu memberikan alternatif saluran, salah satunya melalui situs jejaring sosial bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan tanggapannya atas berbagai isu yang ada,” ungkap Yohana dalam rilisnya, Kamis, (02/11/2017).

Saling ketergantungan dan perkembangan manusia dalam masyarakat semakin meningkat dan senantiasa mengalami perubahan. Proses peningkatan ketergantunngan masyarakat terhadap globalisasi ditandai dengan kesenjangan besar antara kekayaan dan tingkat hidup masyarakat. Menurutnya tiap tahun jutaan penduduk mati kelaparan meskipun produksi makanan di seluruh dunia cukup untuk memberi makan semua gejala orang (Giddens, 1989).  Gejala-gejala perubahan lain yang dicatat Giddens ialah tumbuh dan berkembangnya negara-negara industri baru (newly industrialized countries), dan semakin meningkatnya komunikasi  antar negara sebagai dampak teknologi komunikasi yang semakin canggih.

Dengan perangkat digital, kini setiap orang di dunia memiliki kesempatan yang sama dalam menggerakkan dan mengarahkan perubahan. Perusahaan global yang berbasis new media dan commerce oriented seperti Google, Facebook, Twitter, Yahoo, Blogger dan sederet korporasi media sosial lainnya, menjadi korporasi perubahan yang mentransformasi gagasan dan informasi sampai pada tahap mengubah paradigma masyarakat dalam berinteraksi dan mendesakkan perubahan. Dunia internet yang selama ini dikatakan “maya” telah berevolusi menjadi dunia yang real di tangan jejaring sosial. Hadirnya media sosial yang dijembatani cyberspace telah membentuk perilaku tersendiri. Facebook, BBM, Google, Blog dan Twitter, dalam waktu relatif singkat menjadi ruang raksasa yang menampung segala macam inforamasi, protes dan kritik hingga berbagai tuntutan dari semua lapisan masyarakat.

Internet bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi mentransformasi berbagai protes, kritik dan kekecewaan tersebut ke dalam dunia nyata. Bisa dalam bentuk apatisme terhadap politik, gerakan sosial, hingga tuntutan revolusi. Internet akan menjadi agen perubahan sosial di tangan generasi muda, di Indonesia khususnya. Menggunakan Internet dan media sosial sebagai sebagai platform interaksi, generasi muda Indonesia bisa dengan mudah membentuk kelompok untuk mengusung gagasan perubahan.

Sumpah Pemuda di tahun 1928 sebagai awal dari perubahan dan gerakan dalam melawan penjajahan diprakasai oleh para tokoh pemuda saat itu, mulai dari sabang hingga merauke agar saling berkerjasama dan bersatu padu dalam wadah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa sebagai alat pemersatunya. Tujuannya ialah bahwa gerakan ini semata-mata adalah untuk membangun negeri ini agar berjaya, makmur dan mandiri dari tekanan pihak kolonial pada era tersebut.

Sumpah pemuda inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal Kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945. Dari peristiwa ini kita dapat mengambil benang merah bahwa bangsa ini bisa terbentuk karena peran dari pemuda bangsa ini yang mempunyai semangat yang sama dan bersatupadu demi mewujudkan cita-cita mulia bersama kala itu.

Lalu, sebagai pemuda yang sekarang hidup di era digital, apakah kita bisa tetap mewarisi semangat yang sama sesuai semangat para founding father kita saat membuat gerakan Sumpah Pemuda? Tentu saja bisa, dalam “Era Digital Ekonomi” seperti sekarang ini sudah saatnya kita bangkit dan berjuang bersama seperti para pemuda pada saat jaman dahulu. Mari kita jadikan momentum Sumpah Pemuda ini untuk kita bangkit dan mengingat kembali, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang bisa makmur baik secara teknologi dan ekonomi.

Mari kita lanjutkan tongkat estafet perjuangan ini, dengan membuat inovasi sebanyak-banyaknya, sebaik-baiknya dan secangih-cangihnya, semata-mata demi mewujudkan bangsa ini untuk berdaulat kembali, berjaya kembali dan tentu dapat sejahtera, adil dan beradab dan bebas dari tekanan bangsa lain. Saat ini, seakan-akan pemuda kita merasa kerdil dihadapan bangsa lain dan tidak mampu berdiri tegak dan mantap dihadapan sang Saka Merah Putih. Sungguh ironis sekali memang, jika saat ini potensi Ekonomi Digital kita sangatlah besar.

Indonesia merupakan salah satu negara teratas yang mempunyai jumlah pengguna internet paling banyak didunia, serta perputaran uang dari teknolgi ini juga sangatlah masif, namun kembali lagi ironis, kita masih menjadi sasaran empuk oleh para pemain global, kita hanya menjadi pemakai produk mereka, bahkan sekarang, banyak produk “Karya Anak Bangsa” sudah berpindah tangan menjadi produk yang dimiliki oleh pihak asing.

Kepada seluruh pemuda dan pemudi negeri ini, mari kita bangkit, mari kita rebut kembali kejayaan bangsa ini yang dulu pernah tersohor ke seantero dunia. “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kualitas masyarakatnya tidak boleh diremehkan, sudah sepatutnya kita pun mempunyai produk atau inovasi yang hebat dan mampu mengusai pasarnya sendiri dan tentu pada akhirnya membuat bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri baik secara teknologi, ekonomi dan berdaulat kemudian dalam perekonomian,  namun kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia yang beratapkan Pancasila sebagai rumah bersama dalam indahnya perbedaan.” Tutup Yohana. (Red)

Photo Credit : Ist. Photo


KBI Telegraf

close