Mbah Maimoen: Islam Harus Perkuat Negara Ditengah Kemajemukan

"Dulu Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat juga sama. Di tengah kemenangan dan kekayaannya muncul tak sedikit orang-orang munafik di sekelilingnya,"

Mbah Maimoen: Islam Harus Perkuat Negara Ditengah Kemajemukan


Jakarta, Telegraf,- Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah KH Maimoen Zubair berpesan, Islam di Indonesia harus menampilkan wajah Islam yang Rahmatan lil Alamin, Islam yang begitu ramah, menjaga identitas budaya serta dapat bekerja sama memperkuat negara di tengah kemajemukan.

Indonesia adalah negara mayoritas beragama muslim yang selama ini telah dikenal sebagai Islam yang damai. Namun, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengingatkan bahwa, setiap kemenangan dan kejayaan mesti ada orang-orang-orang munafik. Mereka tidak akan pernah senang dengan Islam yang begitu ramah, menjaga identitas budaya dan menghargai kemajemukan bangsa.

“Dulu Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat juga sama. Di tengah kemenangan dan kekayaannya muncul tak sedikit orang-orang munafik di sekelilingnya,” tutur kiai kharismatik di kalangan Nahdliyin dan para ulama tarekat ini.

Hal itu disampaikan kiai yang kini hampir menginjak usia 90 tahun itu saat menerima rombongan tim Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta, Rabu (25/1) silam di kediaman Komplek Pesantren Al-Anwar.

Belakangan ini disinyalir merebak ajaran atau paham intoleransi pada umat beragama melalui media sosial. Kondisi itu membuat Mbah Maimoen mengingatkan kepada umat bahwa keberadaan Islam Nusantara harus menjaga ukhuwah, baik ukhuwah Nahdliyah maupun ukhuwah Islamiyah.

“Islam Nusantara, ini benar-benar harus menjaga ukhuwah seperti Islam yang dibawa Nabi Muhammad,” tegas Mbah Maimoen sembari menerima kenang-kenangan berupa buku Ensiklopedi Islam Nusantara edisi Budaya dari rombongan Tim Anjangsana.

Selain penegasan Islam Nusantara, Mbah Maimoen juga banyak membahas persoalan bangsa yang selama ini berkembang. Usianya yang sudah tergolong sepuh itu tak melewatkan sedikitpun apa yang sedang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam menjelaskan dan menganalisis peristiwa dan fakta sejarah masa lalu, Mbah Maimoen juga terlihat masih sangat lancar, bahkan memberikan sejumlah perspektif dalam membaca sejarah kepada rombongan tim Anjangsana Islam Nusantara STAINU.

Menurut Mbah Maimoen, sejarah adalah masa lalu, sedangkan saat ini zaman sudah berbeda. Dia ingin menegaskan, sejarah harus dikontekstualisasikan.

“Misal khilafah, itu (khilafah) sudah tidak ada. Saat ini yang ada hanya nasionalisme,” terang Mbah Maimoen.

Dalam setiap kesempatan, Mbah Maimoen memang sering menegaskan bahwa sekarang ini yang ada adalah negara bangsa.

Dia mencontohkan ketika berbagai negara dari belahan dunia melaksanakan ibadah haji. Dulu bendera yang digunakan sama, sekarang setiap jemaah haji menunjukkan bendera dari negara masing-masing. Itulah praktik negara bangsa berdasarkan nasionalisme masing-masing.

Dalam pertemuan tersebut, Mbah Maimoen terlihat begitu telaten melayani sejumlah pertanyaan dari KH Moqsith Ghazali, Zastrouw Ngatawi, Rumadi, dan beberapa akademisi lain yang memimpin kegiatan Anjangsana Islam Nusantara.

Ditempat terpisah Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP), Anshor, Mohammad Khaerul Amri sangat menghormati dan memuji nasehat Mbah Maimoen yang menggaungkan pesan kebangsaan. Pesan dan semangat kebangsaan dari para ulama dan kiai Nahdlatul Ulama.

“Beliau-beliau (para ulama NU,red) terus mendengungkan Islam damai, Islam Rahmatan lil Alamin, Islam yang menyejukkan, tetap menjaga dan merawat keutuhan NKRI,” ujar Gus Aam sapaan akrab Khaerul Amri. (Red)


Edo W.

close