Marsekal Pencetus Alutsista Modern di TNI AU

Marsekal Pencetus Alutsista Modern di TNI AU

Agus memang dikenal sosok yang tegas dan berani berpendapat. Suaranya lantang dan bicaranya ceplas-ceplos. Kalau sudah berpendapat, ia akan teguh mempertahankan pandangannya. Kadang, teman-teman di sekitarnya pula yang harus mengingatkan. Prinsip hidup berani menyampaikan pendapat dan siap ambil risiko, telah menjadi salah satu pegangan hidup Agus Supriatna sejak dulu.

Marsekal Pencetus Alutsista Modern di TNI AU

Meski hanya dua tahun memimpin Tentara Nasional Angkatan Udara (TNI AU), Marsekal Agus “Dingo” Supriatna meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga ksatria angkasa. Ia sosok Marsekal yang teguh dan konsisten meletakkan dasar pengembangan alutsista modern di tubuh TNI AU. Di era kepemimpinannya, “pengawal langit” Indonesia ini banyak mendatangkan alat-alat canggih dan modern. Diantaranya pesawat latih T-50i buatan Korea, Sukhoi Flanker dan Meriam penangkis serangan udara canggih Oerlikon Skyshields dan Rudal Chiron.

======================================

Bhakti mantan Pilot Jet Tempur F-16 dan Sukhoi dengan julukan Dingo tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan memajukan institusinya. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) era 2015-2016 ini salah satu figur yang telah meletakkan pondasi pembangunan sistem pertahanan udara modern dengan paradigma World Airspace Axis. Yakni penguasaan ruang udara dan kekuatan udara yang memadai sangat penting demi mewujudkan supremasi kekuatan maritim dan pulau.

Dalam menahkodai TNI AU, Agus juga adalah salah satu Marsekal Udara yang menjiwai dan terinspirasi semangat dari idolanya, Bung Karno. The Founding Father Republik Indonesia itu pernah mengucapkan “Kuasai udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern”

Kalimat Presiden Republik Indonesia pertama RI Ir Soekarno tersebut oleh Marsekal TNI Agus Supriatna dipampang di ruang tamunya. Kata-kata tersebut dijadikan inspirasi untuk membawa TNI AU kembali meraih pamornya sebagai kekuatan udara yang disegani.

Untuk menjadikan TNI AU sebagai salah satu yang diperhitungkan Agus menyusun rencana strategi yang matang dalam memperkuat alutsista. Marsekal kelahiran Kota Bandung, Jawa Barat, 28 Januari 1959 itu menyiapkan perencanaan pengadaan satu skadron yang diperkuat jet tempur canggih buatan Rusia, Su-35. Skadron ini menggantikan F-5 yang sudah usang.

Jet tempur siluman ini dapat menghilang dari radar, dilengkapi peralatan jamming untuk menurunkan kemampuan radar musuh dan memiliki kecepatan supersonik sekitar 2,25 mach atau dua kali kecepatan udara. Karena kecanggihan teknologinya, pesawat ini masuk dibawah pesawat siluman generasi kelima.

Marsekal bintang empat ini jugalah yang berjasa memutakhirkan armada pesawat angkut berat sekelas Hercules C-130 dengan tipe terbaru dan modern C-130H. Kemudian juga mendatangkan pesawat jet latih T-50i buatan Korea Selatan.

Agus juga melengkapi sistem persenjataan TNI AU dengan perangkat penangkis serangan udara Oerlikon Skyshields, rudal air to ground sebanyak satu paket, dua set rudal jarak sedang dengan kemampuan daya jelajah hingga 100 km. Roket 2’75 MK-66 sebanyak 2000 unit, dan banyak lagi senjata yang menjaga wilayah kedaulatan NKRI.

Prinsip bagi Agus, TNI AU harus membeli persenjataan yang baru, lengkap dan teknologinya diatas yang ada. Jangan sampai ada alutsista yang baru tetapi tidak lengkap.

“Pokoknya, kalau saya sekarang ditanya mau beli pesawat seperti apa, jawabannya harus baru dan lengkap. Kalau uangnya tidak cukup untuk beli baru satu skadron 16 pesawat, ya beli 15 atau 14 pesawat, bahkan 12 pun tidak apa-apa yang penting lengkap, Jadi datang kesini, pesawat betul-betul bisa dioperasikan sebagai pesawat tempur, juga bisa untuk meningkatkan profesionalitas penerbang-penerbang tempur saya,” ujar Marsekal Agus Supriatna dalam sebuah wawancara sebagaimana dikutip dari buku biografinya “Dingo” Menembus Limit Angkasa.

Agus bersyukur bahwa pemerintahan Joko Widodo sangat menaruh perhatian pada gagasan dan usulan yang dia sampaikan. “Alhamdulillah, saya lihat pemerintah sekarang ini betul-betul concern. Jadi, saya minta baru dan lengkap sepertinya dikasih,” kata Agus. Keinginan Marsekal Agus Supriatna tampaknya betul-betul sudah menjadi tekad yang semangatnya dirasakan oleh TNI AU.

Agus memang dikenal sosok yang tegas dan berani berpendapat. Suaranya lantang dan bicaranya ceplas-ceplos. Kalau sudah berpendapat, ia akan teguh mempertahankan pandangannya. Kadang, teman-teman di sekitarnya pula yang harus mengingatkan.

Prinsip hidup berani menyampaikan pendapat dan siap ambil risiko, telah menjadi salah satu pegangan hidup Agus Supriatna sejak dulu. Dari kecil, Agus Supriatna terkenal sebagai anak yang bandel sehingga untuk mengenyam pendidikan SMA pun harus ia tuntaskan di empat sekolah berbeda akibat ulahnya.

Prinsip lain yang ia pegang, mengejar cita-cita harus setinggi langit. Namun tidak menggantungkan nasib kepada orang lain.

“Saya ingat, ada dua hal yang Bapak saya sampaikan kepada saya. Pertama, kalau mengejar cita-cita itu harus tinggi. Kalau kamu masuk Angkatan Darat maka masuklah Korps Infanteri. Kalau masuk Angkatan Laut, pilihlah Korps Pelaut. Kalau kamu masuk Angkatan Udara, maka masuklah Korps Penerbang,” ujar Agus Supriatna dalam sambutan peluncuran buku biografinya “Dingo” Menembus Limit Angkasa di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Yang kedua, Bapak saya mengingatkan. Janganlah kamu menggantungkan nasib kepada orang lain. Biarpun kamu hanya seorang Kopral, Bapak akan bangga kalau kamu bisa hidup dengan kakimu sendiri, tanpa menggantungkan nasib kepada orang lain,” tambah Agus Supriatna, anak seorang tentara Angkatan Darat.

Prinsip hidup lain, adalah menjalani hidup dengan enteng dan ringan. “Mengalir saja, tidak perlu jadi beban atau pikiran. Yang jelas saya percaya, bahwa hidup seseorang itu sudah ada garisnya, ada jalannya masing-masing. Saya misalnya, dulu dari penerbang tempur F-16, tim aerobatik Elang Biru, kemudian dipindah ke Jogja. Lalu dari jabatan Pangkoopsau tiba-tiba ke Wairjen TNI. Ya, saya syukuri saja dan saya jalani apa adanya,” imbuhnya.

Marsekal TNI (Purn.) Agus Supriatna adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara ke-20 yang banyak meletakkan dasar-dasar profesionalisme TNI AU. Agus pernah menjabat sebagai Pangkoopsau II, Wairjen Mabes TNI, dan Kepala Staf Umum TNI berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin 3398/XII/2014 tanggal 30 Desember 2014.

Sebelum menjadi KSAU, ia adalah perwira tinggi bintang dua TNI AU atau Marsekal Muda yang menjabat Wakil Inspektorat Jenderal TNI. Ia naik pangkat menjadi Marsekal Madya pada 31 Desember 2014 dengan jabatan Kepala Staf Umum TNI untuk memenuhi syarat calon KSAU, yaitu perwira tinggi bintang tiga.

Setelah menjabat Kepala Staf Umum TNI selama 2 hari, pada tanggal 2 Januari 2015 ia dilantik menjadi KASAU ke-20 oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara. Pengangkatan KSAU nya berdasarkan Keputusan Presiden No. 01/TNI/2015, yang ditetapkan tanggal 2 Januari 2015, dan dibacakan oleh Sekretaris Militer Kepresidenan.

Agus “Dingo” Supriyatna mengawali karier di militer sejak tahun 1983, saat lulus dari Akademi Angkatan Udara.

Ia mulai meniti karier sebagai penerbang pesawat tempur A-4 Skyhawk Skadron 11 yang berpangkalan di Lanud Iswahjudi, Madiun selepas mengikuti Sekolah Penerbang TNI AU jurusan tempur.

Agus mulai karier sebagai Kasi Opslat Skadud 11 Lanud Iswahjudi (1987), setelah menjalani pendidikan Instruktur Penerbang ia konversi ke pesawat F-5 Skadron Udara 14 Lanud Iswahyudi dan selanjutnya bergabung menjadi penerbang pesawat F-16 Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi.

Papok Instruktur Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (1992), Danflightops D Skadron Udara 3 Lanud Iwj (1994), Kadisops Skadud 3 Wing 3 Lanud Iwj (1996) selanjutnya Danskadik 102 Wingdikterbang Lanud Adi (1998).

Sebagai penerbang tempur ia berpengalaman mengikuti berbagai macam operasi tempur dan latihan di seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga. Kariernya terus menanjak sebagai Pabandya Opsudstrat Paban II/ Ops Sopsau (2000).

Setelah itu karirnya terus meroket, ia menjabat Kabadan Uji Koopsau I (2001), Athan RI KBRI Singapura (2003), Paban Utama B-3 Dit “B” Bais TNI (2006), Danlanud Hasanudin (2010), Kaskoopsau I Jakarta (2011), Panglima Koopsau II Jakarta (2012), Wairjen TNI (2014), Kasum TNI (2014).

Hingga posisi terpuncak dalam karier seorang prajurit TNI AU dengan menjadi KASAU pada 2015-2016. (berbagai sumber)

Edo W.

close