Mantan Dokter Pribadi Pak Harto Gugat Bank Indonesia

Mantan Dokter Pribadi Pak Harto Gugat Bank Indonesia

"BI dinilai telah menyerobot tanah warisan keluarga milik ayah kandungnya di kawasan Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Tak tanggung-tanggung, dokter Rumah Sakit Pertamina itu menggugat BI sebesar Rp 500 miliar lebih atau setengah triliun. Pasalnya, tanah yang dikuasai BI luasnya mencapai 1,5 hektar atau tepatnya 15.080 meter persegi."

Mantan Dokter Pribadi Pak Harto Gugat Bank Indonesia


Telegraf, Jakarta – Dokter Adji Suprajitno, mantan dokter pribadi almarhum Presiden HM Soeharto menggugat Bank Indonesia. Lembaga negara ini dinilai telah menyerobot tanah warisan keluarga milik ayah kandungnya di kawasan Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan yang kini digunakan sebagai kantor dan kegiatan operasional Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI).

Tak tanggung-tanggung, dokter Rumah Sakit Pertamina itu menggugat BI sebesar Rp 500 miliar lebih atau setengah triliun. Pasalnya, tanah yang dikuasai BI luasnya mencapai 1,5 hektar atau tepatnya 15.080 meter persegi.

Hari ini kasus digelar oleh PN Jakarta Selatan dan sudah pada tahap Sidang lapangan. Tiga hakim pengadilan negeri Jakarta Selatan melakukan sidang di tempat obyek perkara yakni tanah yang diatasnya ada bangunan Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI).

Hakim yang memeriksa perkara ini antara lain Made Sutrisna, SH. M.Hum, Krisnugroho, SP, SH. MH, Florensani, S.K, SH.MH dan panitera Kasiran, SH.

“Hakim menanyai kedua belah pihak mengenai batas tanah yang dipersengketakan. Kemudian ada berapa bangunan yang berdiri diatas tanah sengketa tersebut. Dan siapa yang menguasai tanah dan bangunan yang dipersengketakan tersebut saat ini,” ujar kuasa hukum dr Adji Suprajitno, H. Rifky Alfian, SH di lokasi sidang lapangan sengketa tanah.

Si empunya tanah dr Adji Suprajitno berharap Bank Indonesia menghormati hak-haknya selaku pemilik tanah yang sah dan mengembalikan tanah tersebut kepadanya kembali. Ia mengaku tidak akan menuntut uang sewa atas penggunaan lahan itu selama ini oleh Bank Indonesia sebagai tempat pelatihan LPPI.

“Bank Indonesia telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan menerbitkan sertifikat hak milik di tanah kami di Jalan Kemang Raya atas nama Bank Indonesia, padahal tanah di lokasi Jalan Kemang Raya Nomor 35, ada sebagian merupakan tanah milik warisan keluarga kami turun temurun, tanah itu milik ayah kandung kami,” ujar Dr Adji Suprajitno disela-sela menghadiri sidang lapangan gugatan perdatanya atas hak milik tanah di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2017)

Dr Adjie Suprajitno dalam gugatannya mengklaim sebagai anak kandung yang juga ahli waris paling sah pemilik tanah tersebut sejak awal yakni almarhum Abdurahman Aluwi. Pada masa hidupnya almarhum Abdurahman Aluwi membeli tanah itu dari Haji Sainin bin RA.

Adji mengaku memiliki bukti kuat atas kepemilikan tanah tersebut. “Semua dokumen bukti kami miliki lengkap,” ujar dr Adjie Suprajitno.

Dokumen tersebut antara lain, surat girik Nomor 248. Kemudian putusan Pengadilan Negeri di Jakarta tanggal 27 Juni 1959 nomor 916/1959.P yang menetapkan ia dan saudara-saudaranya sebagai ahli waris yang sah dari pewaris Abdurahman Aluwi. Kemudian dokumen ukur tanah dari BPN.

Tanah tersebut, lanjut dr Adji, sudah sejak tahun 1959 milik ayahnya atas nama almarhum Abdurahman Aluwi yang dibelinya dari Sainin bin R.A pada tanggal 12 Mei 1959.

Namun tiba-tiba dikuasai Bank Indonesia secara sepihak. Bank Indonesia tiba-tiba memiliki sertifikat hak milik atas tanah tersebut. Ketika Adji mengecek ke BPN berapa nomor girik yang digunakan BI untuk dasar penerbitan sertifikat tanah tersebut. Ternyata BI tidak memiliki nomor girik.

Sedangkan ia memiliki bukti nomor girik tersebut bahkan sudah dia cek ke kantor kelurahan dan kecamatan dimana girik tersebut diterbitkan.

“Di buku girik desa tercatat tanah itu atas nama Abdurahman Aluwi yang membelinya dari Sainin bin.RA dan ayah kami belum pernah menjual atau memindahtangankan ke orang lain, ada bukti otentik nomor girik kami dimanipulasi oknum, tapi nomor itu tetap tersimpan dan tercatat di buku besar desa,” ujarnya.

Tanah yang diklaim milik dr Adji Suprajitno itu berlokasi di blok Djelawe Persil 17c, D III. dr Adji memiliki bukti surat girik nomor 248 yang dikeluarkan Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Selain itu Adji memiliki bukti akte warisan atas tanah yang dimiliki kakeknya.

Namun anehnya, lanjut Adji, tiba-tiba tanah di lokasi tersebut sudah dterbitkan sertifikat atas nama Bank Indonesia dan didirikan bangunan Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI).

Persoalan inilah yang digugat secara perdata oleh Adji. Mantan Direktur RS Pertamina ini menuntut Bank Indonesia mengembalikan tanah yang bukan menjadi hak nya.

Adji meminta dalam gugatannya agar pihak Bank Indonesia yang selama ini menempati tanah warisan keluarganya turun temurun mengganti rugi sebesar Rp 527 miliar lebih.

Ia berharap pengadilan memutuskan yang seadil-adilnya atas masalah yang dihadapinya.  (Red)

Photo Credit : Ist. Photo


Edo W.

close