Mandeknya Kepemimpinan Mantan Pekerja Migran Medeklarasikan Menjadi Ketua Umum APJATI

Mandeknya Kepemimpinan Mantan Pekerja Migran Medeklarasikan Menjadi Ketua Umum APJATI

“Didalam asosiasi itu ada regenerasi yang harus dilakukan, karena itu adalah kewajiban sebagai manusia, terhadap siapapun yang tidak sepakat dengan regenerasi ini berarti dia telah menafikan sunatullah,”

Mandeknya Kepemimpinan Mantan Pekerja Migran Medeklarasikan Menjadi Ketua Umum APJATI


Telegraf – Mandeknya kepemimpinan selama delapan tahun serta minus visi perbaikan, Ahmad Faisol yang memiliki pengalaman menjadi tenaga kerja Indonesia melalui P3MI medeklarasikan dirinya maju menjadi calon Ketua Umum, Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Masa Jabatan 2020-2024. Bermodal pengalamanlah menjadikan semangat memperbaiki serta mendatangkan manfaat atau kemaslahatan bagi anggotanya.

Hal itu diungkapkan Ahmad Faisol dalam konfrensi pers terkait deklarasi calon ketua umum di Jakarta, Rabu (02/09/2020). Kenapa ini dailakukan karena  ingin APJATI mampu mengayomi seluruh anggota APJATI.

“Didalam asosiasi itu ada regenerasi yang harus dilakukan, karena itu adalah kewajiban sebagai manusia, terhadap siapapun yang tidak sepakat dengan regenerasi ini berarti dia telah menafikan sunatullah,” ungkapnya usai membacakan deklarasi.

Ia mengatakan ada tiga gagasan yang akan diangkat dalam kepemimpinannya untuk memperbaiki kemandegan kepemimpinan selama ini, Rebranding APJATI, marketplace untuk pekerja migran, serta menguatkan sinergi dengan pemerintah.  Bukan  tidak mudah dalam memimpin karena itu  ada dua hambatan antara lain menganggap bahwa regenerasi itu tidak mungkin, nah tugasnya adalah merubah pola fikir tersebut. Bahwa regenerasi itu wajib. Karena dalam AD/ART terdapat klausul menjadi dua periode. Paradigma berfikir status quo ini menjadi kelanggengan yang seharusnya tidak dilakukan. Untuk itu perlu adanya pendobrak.

Faisol mengungkapkan bahwa, rebranding APJATI disini APJATI harus mengubah wajah kelembagaannya. Harus humanis, menasbihkan diri sebagai bisnis yang bersih (bukan bisnis kotor) dan mendorong pemberdayaan pekerja migran dan buka sebaliknya.

“Untuk marketplace untuk pekerja migran. Di masa perkembangan teknologi digital yang secepat ini, sungguh semestinya tidak sulit mendorong kehadiran marketplace yang mempertemukan  kebutuhan pekerja migran dengan P3MI. Marketplace ini boleh jadi dalam bentuk kebutuhan barang atau mempertemukan kebutuhan pekerjaan dan penempatan di masing-masing negara, Marketplace ini juga menjadi jalan untuk memulai sistem pendataan besar pekerja migran.  Untuk menguatkan sinergi dengan pemerintah baik dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) maupun dengan Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker). Sinergi yang baik dan intensif menjadi kunci perbaikan penempatan pekerja migran,” tuturnya.

Faisol menambahkan Sebagai organisasi sosial asosiasi bisnis, APJATI tentu sudah amat banyak berkontribusi kepada republik dan rakyat Indonesia. Pasalnya, sejak berdiri pada 29 Mei 1995 silam, APJATI ikut membantu menyelesaikan ketersediaan pekerjaan di luar negeri, mengatasi pengangguran dan tentu saja mendatangkan devisa yang tak terhitung jumlahnya bagi negara. Capaian-capaian tersebut tentu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan. Capaian tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang harus dibuat APJATI untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. (AK)


Photo Credit: Ahmad Faiso saat membacakan Deklarasi di  Jakarta, Rabu (02/09). TELEGRAF/Ati Kurnia

 

Atti K.

close