LPBI NU Adakan Pelatihan Penyusunan Kajian Resiko Bencana

"Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,”

LPBI NU Adakan Pelatihan Penyusunan Kajian Resiko Bencana


Telegraf, Jepara – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana (KRB). Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respons Bencana yang Cepat dan Efektif.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) yang merupakan sumber terbuka sebagai salah satu tools dalam penanggulangan bencana alam.

Salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk menerapkan aplikasi JOSM dalam melakukan pengkajian risiko bencana di suatu daerah termasuk di dalamnya memetakan risiko bencana dan mengembangkan skenario dalam melakukan penanggulangan bencana dengan menggunakan perangkat lunak InaSAFE.

Ketua LPBI NU PBNU M. Ali Yusuf menyatakan untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah atau kawasan.

“Di sini letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada. Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif”.

“Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” kata Ali Yusuf, Kamis (23/2).

Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT) dan membahas beberapa materi antara lai; Open Street Map, Java Open Street Map, Pengenalan GPS, OSM Trackers, Field Papers, Survery Lapang dan Mapathon.

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, LPBI NU, Pramuka, PMI, perguruan tinggi yang berasal dari Kabupaten Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Pelatihan  berlangsung selama empat hari, 20 – 24 Februari 2017 di BBPBAP Jepara. Pelatihan dibuka oleh Kepala BPBD Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno.

Dalam sambutannya Lulus mengapresiasi program yang dilakukan oleh LPBI NU, karena Jepara terpilih menjadi pilot dari program LPBI NU. Jepara, kata dia, juga sangat rawan bencana, sehingga pelatihan  kajian risiko bencana dapat menjawab kebutuhan yang  selama ini kami harapkan di Jepara.

Asyhadi dari LPBI NU Jepara mengatakan, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk mengetahui dan memahami tahapan dan proses pengkajian risiko bencana, mengetahui dan memahami metodologi, parameter dan indikator dari kajian risiko bencana, dan menyusun peta risiko bencana terpilih berdasarkan ancaman yang ada di wilayahnya masing-masing.

Selain itu dapat menyusun kajian risiko bencana terpilih, serta menggunakan aplikasi Open Street Map (OSM) dalam melakukan analisis spasial sederhana khususnya untuk membantu dalam kegiatan penanggulangan bencana.  (Red)

Photo credit : LPBI NU


KBI Telegraf

close