Legenda Menkeu, Mar’ie Muhammad Sebelum Wafat Derita Pneumonia

Legenda Menkeu, Mar’ie Muhammad Sebelum Wafat Derita Pneumonia

“Pasti ada perasaan sedih, namun kita percaya kehendak Allah itu yang terbaik.”

Legenda Menkeu, Mar’ie Muhammad  Sebelum Wafat Derita Pneumonia


Telegraf, Jakarta – Mantan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad menderita pneumonia atau radang paru-paru sebelum meninggal dunia pada Minggu (11/12) dini hari di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta.

Informasi itu diungkapkan oleh putra sulung Mar’ie, Rifkhi (44), perihal kondisi kesehatan mantan Menkeu era Presiden Soeharto itu sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.

Rifkhi mengungkapkan bahwa sang ayah sempat dirawat di rumah sakit selama hampir sebulan, terhitung sejak 13 November yang lalu.

“Beliau sakit pneumonia, radang paru-paru,” ucap Rifkhi dikutip dari Detikcom.

Ia memaparkan bahwa kondisi Mar’ie harus mengenakan alat bantu pernafasan ketika dirawat di rumah sakit, membuatnya bisa mendengar setiap orang yang menjenguknya namun sulit berbicara.

“Beliau sadar, kalau kita bicara beliau masih mendengar. Namun karena pakai alat bantu nafas, beliau sulit berbicara,” ujar Rifkhi.

Mar’ie mengembuskan nafas terakhirnya pada pukul 01.37 WIB, di usia 77 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. “Tadi malam kesehatannnya drop sekali sampai 40 menit beliau kemudian meninggal, Alhamdulillah dimudahkan, tenang dan lancar,” kata Rifkhi.

Mar’ie Muhammad lahir di Surabaya 3 April 1939. Dia diberi gelar ‘Mr. Clean’ karena perjuangannya memberantas korupsi di lingkungan keuangan. Ia juga berupaya meningkatkan efisiensi dan membersihkan institusi dari pegawai yang korup.

Sebelum menjadi Menkeu, lulusan Master of Arts In Economics, Universitas Indonesia itu mengabdi sebagai Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara Departemen Keuangan RI (1969 – 1972). Kemudian dia menjabat sebagai Direktur di Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN Departemen Keuangan RI (1972-1988).

Kariernya berlanjut di Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan sebagai Direktur Jenderal (1988-1993 ), dan diangkat menjadi Menteri Keuangan Kabinet Pembangungan VI (1993-1998).

Selama menjadi menteri, banyak gebrakan yang dilakukan Mar’ie diantaranya, menolak dana taktis dan anggaran perjalanan dinas yang dinilai terlalu besar.

Gerakan bersih Mar’ie sempat mengantarkan Indonesia menjadi pelopor di Asia Tenggara dalam bidang perekonomian, di awal 1997.

Paripurna sebagai menteri, Mar’ie tercatat pernah menjadi Ketua Oversight Committee (OC) BPPN, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Ketua Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI), Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), dan komisaris utama PT Bank Syariah Mega Indonesia.

Rifki mengenang bahwa ayahandanya merupakan sosok yang sederhana dan peduli pada kaum dhuafa.  “Kesederhaan beliau selalu dikenang,” ucapnya.

“Pasti ada perasaan sedih, namun kita percaya kehendak Allah itu yang terbaik.”

Jenazah Mar’ie disemayamkan di rumah duka, Jalan Taman Brawijaya III, Nomor 139, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Ist)

Photo credit : Kompas/Eddy Hasby


close