Kredit Seret, Menghambat Pertumuhan Ekonomi Menjadi Lamban

Kredit Seret, Menghambat Pertumuhan Ekonomi Menjadi Lamban


Telegraf, Jakarta – Ada fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa instrumen moneter ternyata bukan satu-satunya alat yang mampu mendorong pertumbuhan kredit yang selama ini lamban dan cenderung seret, membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan lamban bahkan menurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Peneliti Institute for Development on Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan diketahui tekanan inflasi sepanjang tahun ini relatif terkendali bahkan cenderung rendah. Namun demikian, rendahnya inflasi ini ternyata tidak terlaku berdampak terhadap penambahan likuiditas perekonomian.

Ia menyebutkan, per Oktober 2016 inflasi tercatat sebesar 0,14% (bulan ke bulan) atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,22%. Bahkan di bulan Agustus lalu sempat mengalami deflasi sebesar 0,02% paska hari rata lebaran.

“Otoritas moneter dan pemerintah beranggapan bahwa rendahnya inflasi merupakan bagian dari keberhasilan pengendalian harga barang-barang konsumsi. Kesimpulan itu tentu berkebalikan dari fakta yang terjadi. Bahwa rendahnya inflasi tahun ini lebih disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat,” kata Bhima.

Secara teori, lanjutnya, inflasi rendah memang membuat ruang penurunan suku bunga terbuka lebar, kemudian suku bunga acuan yang rendah itu diharapkan memacu perkembangan kredit. Namun, kata Bhima, faktanya ternyata tidak demikian.

“Walaupun instrumen BI 7 daya repo rate telah beberapa kali diturunkan, tapi dampak pada pertumbuhan kredit masih belum dirasakan. Ini karena inflasi rendah yang disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat, yang membuat permintaan agregat menurun,” ujarnya.

Akibatnya, lebih lanjut Bhima menyatakan, imbasnya adalah para pelaku usaha lebih memilih menahan permintaan kredit. “Jadi dapat disimpulkan bahwa instrumen 7 days repo rate yang digunakan untuk menurunkan suku bunga kredit terbukti belum efektif, kendati inflasi cukup rendah,” tuturnya. (Red)

Photo credit : Ilustrasi Antara


KBI Telegraf

close