Konsorsium Ecoshape Belanda Aplikasikan ‘Hybrid Engineering’ Untuk Lindungi Kawasan Pesisir Demak

Tanggal:



Telegraf, Jakarta – Reklamasi semakin menjadi perhatian publik di Indonesia seiring rencana pemerintah untuk mereklamasi beberapa kota seperti Jakarta, Makassar dan Teluk Benoa di Pulau Bali. Reklamasi seakan menjadi harga mati untuk mengatasi permasalahan di wilayah pesisir seperti kekurangan lahan, abrasi dan rob. Padahal ada banyak solusi yang bisa ditawarkan, salah satunya dengan pendekatan yang  ramah lingkungan yakni Hybrid Engineering.

Pendekatan Hybrid Engineering diwujudkan dalam bentuk bendungan permeable dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti bamboo, kayu dan ranting-ranting pohon. Teknik sederhana ini mengadopsi dari negara Belanda yang sudah menerapkannya selama ratusan tahun. Melalui sebuah konsorsium bernama Ecoshape, para ahli dari berbagai lembaga seperti Wetlands International, Deltares, Imares, WittevenBoss, dan Wageningen University, Kementrian PUPR, dan Kementrian Kelautan dan Perikanan. saat ini tengah mengaplikasikan teknologi Hybrid Engineering bersama masyarakat lokal di dua desa di Kabupaten Demak dalam sebuah project bernama Buliding With Nature sejak tahun 2015.

Harapannya dengan teknik Hybrid Engineering ini bisa menyelamatkan pesisir di Kabupaten Demak yang selama 10 tahun terakhir sudah semakin parah, sudah ribuan hektar tambak hilang, ratusan KK direlokasi dan desa-desa pesisir terancam tenggelam oleh air rob.

Harapan Baru

Hybrid Engineering merupakan salah satu pendekatan perlindungan pesisir dengan tujuan akhir mengembalikan pertahanan pantai secara alami. Bentuknya berupa bendungan permeable dengan bahan murah meriah dan ramah lingkungan. Fungsi bangunan ini untuk mengembalikan kondisi pantai melalui proses alami seperti sedimentasi, juga untuk meredam gelombang. Tidak dengan menguruk lautan dengan tanah untuk mendapatkan daratan baru, mengatasi abrasi atau membendung air rob.

Cara kerja teknik ini sangat sederhana, pertama gelombang akan mengaduk dan mensuspensi sedimen di laut, kemudian sedimen akan melewati celah berpori saat pasang surut masuk ke pantai.  Gelombang yang berkurang memicu kondisi air menjadi tenang dan mengendapkan sedimen, struktur permeabel (berpori) yang menjadikan sedimen terperangkap. Sedimen yang terperangkap membuat kondisinya sesuai untuk pertumbuhan spesies pionir mangrove, setelah pertumbuhan mangrove mulai kuat konstruksi baru dibangun lagi didepannya, terakhir hutan mangrovelah yang pada akhirnya akan memberikan perlindungan pantai dan proses sedimentasi secara alami.

Untuk melihat perkembangan Hybrid Engineering yang sudah dibangun, pada hari Senin, (13/03/17) rombongan konsorsium Ecoshape dari Belanda mengunjungi Desa Bedono, salah satu desa yang menerapkan Hybrid Engineering. Saat diskusi dengan masyarakat, Jane Madgwick perwakilan dari konsorsium berharap Hybrid Engineering bisa berfungsi dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Selaian itu masyarakat dan pemerintah desa juga harus berperan serta bekerjasama dengan berbagai pihak ditingkat lokal untuk bersama-sama mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi di Desa Bedono.

Menurut Apri Astra Project Cordinator Program BWN dari Wetlands International Indonesia, dalam satu tahun terakhir perkembangan HE di Desa Bedono cukup menggembirakan, hasil pengukuran sedimen pada bulan Februari 2017 ketinggiannya sudah mencapai 57 CM. Di Desa Bedono sendiri sudah dibangun 11 titik lokasi HE dengan panjang secara keseluruhan mencapai 750 M. Kepala Desa Bedono H. Agus Salim menyampaikan bahwa adanya kontruksi Hybrid Engineering memberikan harapan baru bagi masyarakat di desanya dari ancaman abrasi dan air rob sekaligus melindungi kawasan pesisir. Selain itu Kepala Desa Bedono juga mengapresiasi program Buliding With Nature karena menggunakan pendekatan pemberdayaan, masyarakat dilibatkan dalam proses perencanaan dan pembangunan kontruksi Hybrid Engineering.

Ketua kelompok Bedono Bangkit, Kembali menambahkan bahwa dalam program Building With Nature selain dibantu dengan pembangunan kontruksi Hybrid Engineering untuk mengamankan wilayah pesisir, masyarakat yang tergabung dalam kelompok Bedono Bangkit juga dibantu dalam peningkatan mata pencaharian alternatif, diantaranya budidaya lele, peningkatan kwalitas alat tangkap nelayan yang ramah lingkungan, dan rencananya kelompok akan mengelolah hutan mangrove menjadi wisata alternative berbasis komunitas. Untuk mendapatkan bantuan tersebut salah satu syarat yang harus dilakukan oleh kelompok adalah merawat dan menjaga kontruksi Hybrid Engineering secara swadaya.

Hybrid Engineering ala Belanda ini sekarang menjadi harapan baru masyarakat pesisir di Kabupaten Demak, mimpi buruk desa akan tenggelam oleh air laut perlahan surut oleh semangat baru. Memang dibutuhkan puluhan tahun untuk mengembalikan kondisi pesisir Demak seperti semula dengan pendekatan Hybrid Engineering ala Belanda ini. Tapi itu lebih baik daripada solusi instan seperti reklamasi yang akan menelan ongkos politik, sosial dan ekonomi yang sangat tinggi dan tentu saja melelahkan. (Red)

Photo credit : Yus Rusila Noor


Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

Kemampuan Digital Harus Beradaptasi Dengan Pemanfaatannya

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dewan...

Jokowi dan Ganjar Pranowo Takziah ke Kediaman Buya Syafii

Telegraf - Kabar duka menyelimuti tanah air. Cendekiawan muslim...

Sosok Panutan Itu Telah Pergi, Buya Syafii Wafat Hari Ini

Telegraf - Umat Islam bahkan bangsa Indonesia kehilangan sosok...

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...