Kenali Fisik dan Beribadah Menjadi Kunci Keselamatan Pada Saat Mudik

Tanggal:



Telegraf, Jakarta – Saat berkendara seorang pengemudi dituntut mampu menggunakan otak kiri dan kanan secara simultan. Kemampuan kedua sisi otak itu harus maksimal agar pengemudi mampu mengemudikan mobil dengan baik, mengendalikan diri sehingga perjalanan menuju udik menjadi aman dan selamat. Namun seperti diungkapkan oleh Fredrick D. Purba, psikolog dari Universitas Padjadjaran, otak membutuhkan energi untuk bekerja.

Ia menjelaskan lebih spesifik bahwa sebenarnya energi itu dibagi dua; psikis dan fisik. Sesuatu yang terjadi di fisik seseorang akan memengaruhi keadaan psikisnya. Energi psikis itu didapat juga dari makanan dan minuman yang kita konsumsi. Dengan demikian, pada saat puasa, otomatis energi psikis kita akan menurun ketika mengemudi di jam-jam tertentu.

Menurut jam biologis manusia, penurunan energi psikis paling banyak terjadi di siang dan sore hari. Pada bulan puasa khususnya menjelang berbuka, emosi manusia akan cenderung meningkat karena akan segera menyelesaikan puasa. Di sinilah, pengendara mobil harus mampu membaca keadaan dirinya.

“Orang berpuasa akan mengalami penurunan kemampuan otak sekitar 50-70% karena kekurangan energi. Maka dari itu, pengemudi tidak boleh menyepelekan tanda-tanda dari tubuhnya,” ungkap pria yang juga dosen di Fakultas Psikologi Unpad itu.

Manusia akan lebih reaktif ketika lapar. Kontrol diri menjadi lemah dan hal itulah yang biasanya menyebabkan celaka. Pusat energi itu memang pangkalnya di otak. Namun kala sedang kurang tenaga, manusia cenderung memiliki emosi tinggi. Ini disebabkan Frontal Cortex yang terletak di dahi dan menghasilkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (bekerja berat).

“Puasa itu tidak akan mematikan otak. Akan tetapi, pangkal otak kita akan sedikit melemah untuk berpikir. Di sinilah, hati nurani diperlukan untuk membentuk stabilitas perilaku,” ujar pria yang ahli di penataan perilaku orang dewasa tersebut.

Cara yang terbaik untuk melatih kerja otak saat berpuasa adalah dengan ibadah. Di sini, kita belajar untuk lebih menenangkan pikiran dan batin. Lama kelamaan terlatihnya otak akan mewujudkan gerakan fisik yang terkoordinasi baik. Sesungguhnya puasa melatih Amygdala yang merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai pusat pengendali emosi. Jelaslah sudah, beribadah dan pengendalian diri akan menjaga kita dari marabahaya saat mudik. (Red)

Photo Credit : Antara/Rosa Panggabean


 

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

Kemampuan Digital Harus Beradaptasi Dengan Pemanfaatannya

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dewan...

Jokowi dan Ganjar Pranowo Takziah ke Kediaman Buya Syafii

Telegraf - Kabar duka menyelimuti tanah air. Cendekiawan muslim...

Sosok Panutan Itu Telah Pergi, Buya Syafii Wafat Hari Ini

Telegraf - Umat Islam bahkan bangsa Indonesia kehilangan sosok...

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...