Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Kemitraan Petani Kopi Lampung, Pengepul Masih dengan Barter, Pinjaman Tanpa Bunga
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Kemitraan Petani Kopi Lampung, Pengepul Masih dengan Barter, Pinjaman Tanpa Bunga

Atti K. Kamis, 29 Desember 2016 | 02:23 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Petani memetik kopi varietas Robusta di perkebunan kopi Desa Gunung Payung, Candiroto, Temanggung, Jateng, Senin (27/7). Petani kopi di kawasan Temanggung mulai melakukan panen raya, saat ini harga biji kopi Robusta basah berkisar Rp5.000-Rp5.500 per kilogram, sedangkan untuk OC (biji kopi kering) berkisar Rp22.000-Rp23.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/Rei/pd/15.
Bagikan

Jakarta, Telegraf – Kemitraan petani kopi Lampung Barat dengan pengepul belum baku dan berkembang, melainkan hanya sebatas ‘sama-sama untung’. Sistem kemitraan dijalankan dengan saling percaya dan seperti barter kebutuhan sehari-hari petani dengan kopi hasil panen. Pengepul menyediakan sembako (Sembilan bahan pokok), dan petani bayar bukan dengan cash, tapi dengan kopi. “Rata-rata (sistem kemitraan) seperti itu. Beberapa petani sudah merasa comfortable, karena (sistem barter) tanpa bunga (pinjaman). Kalaupun pinjaman uang, juga tanpa bunga,” anggota Komunitas Petani Kopi Lampung Barat, Dedi Suprihadi mengatakan kepada Telegraf.

Pengembangan hubungan kemitraan petani – pengepul kopi juga belum sampai pada sistem Inti – Plasma. Hubungan kemitraan belum sampai pada penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi. Petani juga tidak pernah dapat kesempatan untuk penguasaan, peningkatan teknologi pada pengolahan dan produksi kopinya. “Kami justru berharap dari asosiasi seperti AEKI, GAEKI untuk ikut membangun sistem kemitraan bertingkat tinggi. Tapi tidak ada asosiasi kopi di Lampung Barat. Petani juga butuh penyuluhan misalkan proses pengeringan kopi yang baik,” kata Dedi saat ditemui di Temen Café di Premiere Park Moderland, Tangerang.

Kelompok tani juga tidak bisa langsung bermitra dengan usaha pasar swalayan, supermarket. Petani akan kesulitan kalau management supermarket menerapkan persyaratan dan kualitas produk atas dasar kesepakatan. Lahan perkebunan kopi juga jauh dari jangkauan beberapa pasar swalayan dan supermarket. Kelompok petani biasanya tinggal di perbukitan, pegunungan. Mereka turun ke kota dengan menempuh perjalanan 30 – 60 menit. “Perjalanan menuruni gunung bisa sampai satu jam. (situasi) tergantung ada tidaknya tumpangan kendaraan. Kalau naik motor, bisa setengah jam. Tapi kalau tunggu tumpangan, agak lama.”

Baca Juga :  Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Di luar kemitraan, pola kerjasama petani – pengepul juga bertumpu pada kualitas kopi. Selama ini pengepul dan supplier bersedia bayar mahal kopi, asal proses pengeringan kopi dengan baik. Beberapa petani kopi Lampung Barat masih lekat dengan sistem tradisional, turun temurun. Banyak petani menjemur kopi seadanya, yakni di atas ubin. Kendatipun bukan kopi ‘aspal’ tetapi kualitas kopi tersebut dianggap ‘asalan’. Istilah ‘aspal dan asalan’ yakni permasalahan pada kualitas kopi akibat proses pengeringan biji kopi dengan buruk.

Sebagaimana, petani-petani kopi tradisional seperti di Sumatera Selatan, Toraja (Sulawesi Selatan) cenderung masih melakukan proses pengeringan yang salah. Mereka sering mengeringkan kopi di atas aspal, dan dilindas ban mobil. Sehingga beberapa kali, potret petani dengan kopi aspal/asalan menjadi sorotan industri kopi di luar negeri. “Ini ibaratnya chicken – egg relationship. Petani sangat tergantung pengepul, supplier. Kalau mereka mau bayar dengan harga mahal, petani akan memproses (pengeringan) dengan baik. Tapi kalau supplier bayar dengan harga seadanya, petani juga terus-terusan dengan metode ‘asalan’. Petani kan juga tidak mau ribet dengan proses (pengeringan) yang baik.” (S.Liu)

Photo credit : Antara/Anis Efizudin


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Aktivitas pelayanan di Kantor Regional 2 Jawa Barat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bandung, Jawa Barat. JIBI/Rachman
Ekonomika

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?