Kemendag Klaim Harga Bahan Pokok Turun, Kecuali Cabai

"Kami juga melakukan pengawasan terhadap produk-produk yang beredar secara eceran. Hasilnya, tidak ditemukan produk-produk yang melewati masa kadaluarsa. Kami juga mencatat bahwa tidak ada indikasi barang-barang konsumsi hasil selundupan,"

Kemendag Klaim Harga Bahan Pokok Turun, Kecuali Cabai


Telegraf, Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim bahwa harga-harga kebutuhan bahan pokok pasca Natal 2016 dan jelang tahun baru 2017 relatif mengalami penurunan, kecuali cabai rawit dan cabai merah yang mengalami kenaikan harga.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Ari Satria, dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (28/12), mengatakan relatif menurunnya harga kebutuhan bahan pokok tersebut berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan di Probolinggo, Jawa Timur.

Di kota tersebut, kata dia, harga barang kebutuhan pokok stabil cenderung turun dan pasokan cukup hingga dua bulan ke depan.
Pantauan Kementerian Perdagangan di Pasar Baru Probolinggo pada H+2 Natal atau H-5 Tahun Baru 2017, tutur Ari, menunjukkan harga barang kebutuhan pokok stabil dibandingkan seminggu sebelumnya.

“Harga komoditas seperti minyak goreng curah, daging ayam broiler, dan telur ayam ras tidak fluktuatif,” kata Ari.

Ari mengungkapkan, dalam menghadapi Natal dan Tahun Baru 2017, Kemendag menurunkan tim pemantauan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok ke sejumlah daerah di Indonesia. Para Direktur Jenderal dan unit-unit kerja Kemendag turun langsung blusukan ke pasar-pasar.

“Hasilnya dilaporkan langsung ke Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita). Secara umum, dari hasil pantauan di Probolinggo menunjukkan sejumlah harga komoditas turun,” ujarnya.

Seperti halnya gula pasir yang semula harganya Rp13.000/kg menjadi Rp12.500/kg dan daging sapi dari Rp100.000/kg menjadi Rp95.000/kg. Kemudian harga cabai merah besar turun dari Rp40.000/kg menjadi Rp25.000/kg dan bawang putih dari Rp40.000/kg menjadi Rp35.000/kg.

“Namun ada kenaikan harga cabai rawit merah dari Rp35.000/kg menjadi Rp65.000/kg akibat kurangnya pasokan karena sebagian daerah pemasok mengalami gagal panen,” ungkapnya.

Khusus pantauan barang kebutuhan pokok di Pasar Baru Kota Probolinggo per 27 Desember 2016, harga terlihat relatif terkendali. Harga beras sebesar Rp10.375/kg, gula pasir Rp12.500/kg, minyak goreng curah Rp12.000/liter, dan tepung terigu Rp8.500/kg.

Selain itu, harga kedelai impor Rp9.000/kg, daging sapi Rp95.000/kg, daging ayam broiler Rp30.000/kg, dan telur ayam ras Rp22.000/kg. Sementara itu, cabai merah besar Rp25.000/kg, cabai rawit merah Rp65.000/kg, bawang merah Rp40.000/kg, bawang putih Rp35.000/kg, dan ikan Rp29.500/kg.

Baca Juga :   Ini Kata Presiden FSPPB Terkait Penanganan Kebakaran Kilang Minyak Cilacap

Selain melakukan pemantauan di Pasar Baru, tim juga mengunjungi Gudang BULOG Subdivre Probolinggo. Berdasarkan hasil kunjungan, tercatat bahwa pasokan barang kebutuhan pokok di gudang mencukupi hingga enam bulan ke depan. Stok ketersediaan beras pada saat kunjungan yakni sebanyak 21.209 ton, gula sebanyak459.410 kg, tepung terigu sebanyak 2.176kg, dan minyak goreng sebanyak 3.022 liter.

Tidak hanya memantau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok, tim juga memantau revitalisasi pasar di Probolinggo. Berdasarkan hasil pantauan, revitalisasi pasar yang menggunakan dana alokasi khusus (DAK) tahun 2016 belum dapat terealisasi karena belum adanya anggaran untuk pemindahan pedagang, sehingga ditunda pelaksanaannya menjadi tahun 2017.

Untuk revitalisasi pasar 2017, terdapat tambahan dana dari Pemerintah Daerah Kota Probolinggo senilai Rp1,9 miliar, sudah termasuk anggaran pemindahan para pedagang. Adapun revitalisasi pasar yang berjalan saat ini di Pasar Baru Kota Probolinggo berasal dari DAK tahun 2014.

Pada kesempatan yang sama, tim juga melakukan pengawasan ke pasar rakyat dan toko ritel lokal untuk memastikan produk-produk yang diedarkan memenuhi ketentuan dan tidak ada yang menjual produk kadaluarsa. “Kami juga melakukan pengawasan terhadap produk-produk yang beredar secara eceran. Hasilnya, tidak ditemukan produk-produk yang melewati masa kadaluarsa. Kami juga mencatat bahwa tidak ada indikasi barang-barang konsumsi hasil selundupan,” jelasnya. (Red)

Photo credit : Antara


KBI Telegraf

close