Kembalinya Novel Baswedan Munculkan Banyak Tanggapan

"Oleh karena itu, saya meminta polisi untuk menuntaskan kasus Novel ke publik secara terang benderang, dan transparan sehingga tidak timbul dugaan atau rumor yang tidak-tidak,"

Kembalinya Novel Baswedan Munculkan Banyak Tanggapan


Telegraf, Jakarta – Kepulangan penyidik senior KPK ke Indonesia mendapatkan banyak sorotan luas dari berbagai pihak, Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan dirugikan apabila kasus Novel Baswedan tidak bisa selesai dengan tuntas, Novel disiram air keras oleh orang tidak dikenal di depan rumahnya, April 2017 lalu. Hingga saat ini, belum diketahui siapa pelaku penyerangan terhadap Novel tersebut.

“Pada akhirnya, kalau ini tidak selesai yang dirugikan adalah Presiden,” ujar Zulkifli di Gedung DPR, Jakarta Kamis (22/02/2018), menanggapi kepulangan penyidik KPK tersebut setelah 10 bulan menjalani pengobatan di Singapura pascadiserang 11 April 2017 lalu.

Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut mengatakan, saat ini sudah memasuki tahun politik dimana pada Agustus nanti mulai dibuka pendaftaran calon presiden dan wakil presiden. Oleh karena itu penyelesaian kasus ini harus segera dituntaskan “Momentum kepulangannya Novel menjadi koreksi bagi aparat kepolisian untuk segera menyelesaikan kasusnya,” ungkapnya.

Penuntasan kasus tersebut dibutuhkan, agar tidak menjadi pertanyaan dan tidak menjadi isu yang tidak berkesudahan. Jika dibiarkan, akan berdampak negatif bagi pemerintah menjelang tahun politik. “Oleh karena itu, saya meminta polisi untuk menuntaskan kasus Novel ke publik secara terang benderang, dan transparan sehingga tidak timbul dugaan atau rumor yang tidak-tidak,” katanya.

Ia menilai, publik selalu mempertanyakannya kinerja polisi karena belum mampu mengungkap kasus Novel. “Saya percaya polisi kita masih bisa selesaikan ini. Tapi kalau tidak, ya harus buat tim. Apa boleh buat? Kalau bisa selesaikan, kan bagus polisi. Ini sudah hampir setahun. Kasihlah kesempatan 1 bulan ini. Kalau tidak bisa, saya kira itu (pembentukkan tim) jalan terbaik,” pungkasnya.

Cari Panggung di Kasus Novel

Sementara itu para menanggapi kepulangan Novel Baswedan, para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan agar para politikus tidak mencari panggung atas kasus teror yang dialami oleh Novel. Peringatan itu disampaikan oleh Wakil Ketua Wadah Pegawai KPK, Harun Al Rasyid saat menyambut Novel di Gedung KPK.

Harun meyakini kembalinya Novel ke Indonesia setelah lebih dari 10 bulan dirawat di Singapura akan menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya pihak yang tulus memberi dukungan dan perhatian, terdapat juga pihak-pihak, termasuk politikus yang hanya ini mencari panggung dan ‘numpang’ agar terkenal. “Kami sangat yakin saudaraku bahwa dengan kehadiranmu di negeri ini akan banyak orang-orang yang menumpang tenar dengan dirimu. Akan banyak calon-calon politisi yang mencoba mendekatimu, hanya hadir di rumahmu untuk meningkatkan popularitasnya,” kata Harun di Gedung KPK, Jakarta (22/02/2018).

Untuk itu, Harun juga mengingatkan Novel agar berhati-hati dalam memilih dan memilah pihak-pihak yang memberikan dukungan. Namun, dengan pengalaman sebagai penyidik KPK selama 10 tahun, Novel diyakini dapat memilah pihak mana yang tulus maupun yang hanya menumpang ketenaran. “Saudaraku engkau sudah pintar. Sudah 10 tahun jadi penyidik KPK. Pilih-pilihlah kira-kira mana orang-orang yang hanya menumpang ketenaran dengan kehadiranmu ini. Hati-hati,” kata Harun.

Novel memilih kembali ke Indonesia dan menjalani rawat jalan setelah lebih dari 10 bulan dirawat intensif di Singapura untuk mengobati kedua matanya yang terluka parah akibat disiram air keras. Di Indonesia, Novel masih harus rawat jalan sambil menunggu operasi selanjutnya yang diperkirakan pada akhir Maret atau April mendatang. Hal ini lantaran mata kiri Novel belum sepenuhnya pulih.

Kehadiran Novel di Gedung KPK disambut pimpinan dan para pegawai KPK. Harun mengungkapkan kegembiraan para pegawai KPK menyambut kembali bergabungnya Novel. “Pegawai KPK merasa senang saudaraku bisa kembali lagi ke Tanah Air, tanah tumpah darah ini,” katanya.

Bentuk TGPF Novel ke Presiden

Usulan terkait kasus Novel juga datang dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad yang mendesak pimpinan lembaga antikorupsi saat ini untuk mengusulkan kepada Jokowi agar membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkap kasus teror terhadap Novel Baswedan. Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Namun setelah lebih dari 10 bulan berlalu, Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini hanya mampu membuat sketsa dua wajah terduga peneror Novel. Sementara penerornya sendiri masih berkeliaran dan menghirup udara bebas. Samad meyakini TGPF dapat menjadi solusi mandegnya penanganan kasus teror ini.

“Kami meminta kepada pimpinan KPK untuk segera mungkin mengusulkan kepada Presiden membentuk TGPF. Karena saya sangat yakin pelakunya belum juga ditemukan, maka tidak ada jalan lain,” kata Samad saat menyambut Novel di Gedung KPK.

Samad menegaskan, 10 bulan merupakan waktu yang lama bagi kepolisian dalam menuntaskan kasus teror ini. Namun, dengan waktu yang panjang ini, kepolisian belum juga berhasil membekuk pelaku. Untuk itu Samad menegaskan, tak ada jalan selain membentuk TGPF jika Presiden berkomitmen menuntaskan kasus teror terhadap Novel. “10 bulan ini bukan waktu yang singkat tapi cukup lama, yang sudah dipergunakan oleh aparat tapi sampai saat ini kita bisa lihat semua bahwa penyerang Novel belum ditemukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Samad menegaskan, teror yang dialami Novel jangan sampai menciutkan nyali pegawai KPK lainnya. Sebaliknya, Samad menyatakan, kasus ini seharusnya menjadi pelecut semangat para pegawai KPK untuk memberantas korupsi di Indonesia. (Red)


Photo Credit : Kepulangan penyidik senior KPK ke Indonesia mendapatkan banyak sorotan luas dari berbagai pihak, Novel Baswedan berada di mobil setibanya dari Singapura di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 22 Februari 2018. Antara/Muhammad Iqbal

KBI Telegraf

close