Kematian Chris Cornell Resmi Dinyatakan Bunuh Diri Akibat Pengaruh Ativan

Kematian Chris Cornell Resmi Dinyatakan Bunuh Diri Akibat Pengaruh Ativan

"Apa yang terjadi tak dapat dijelaskan, dan saya berharap laporan medis lanjutan akan memberikan rincian tambahan. Saya tahu dia mencintai anak-anak kami, dan tak akan sengaja menyakiti mereka melalui bunuh diri,"

Kematian Chris Cornell Resmi Dinyatakan Bunuh Diri Akibat Pengaruh Ativan


Telegraf, New York – Vokalis/gitaris dari Soundgarden, Chris Cornell, mendadak dikabarkan wafat pada Rabu (17/5) malam waktu Amerika Serikat, beberapa jam setelah ia tampil bersama bandnya di Fox Theater, Detroit, AS. Rumor yang beredar bahwa Cornell mengakhiri hidupnya sendiri telah diresmikan oleh tim pemerika medis Wayne County pada Kamis (18/05/2017) sore waktu setempat.

Seperti dilansir dari BBC, juru bicara Detroit Police mengonfirmasi bahwa mereka mendapat telepon di tengah malam pada Rabu. “Ia ditemukan di lantai kamar mandi, unit medis kami di telepon dan ia dinyatakan wafat di TKP,” kata juru bicara. “Kerabat dekat keluarganya ingin melihat dan memeriksa Cornell di lantai kamar mandi itu. Jenazahnya sudah dipindahkan ke kantor pemerika medis.”

Pemeriksa medis memberi pernyataan pada Kamis: “Penyebab kematian telah ditetapkan bahwa ia gantung diri. Laporan otopsi selengkapnya belum rampung.”

Cornell wafat di tengah rangkaian tur konser musim semi Soundgarden untuk kawasan Amerika Utara. Ketika berita ini dituliskan, pihak Soundgarden belum berbicara apa pun lewat sosial medianya. Sedangkan para musisi seperti Jimmy Page, Tom Morello, Courtney Love, hingga Nile Rodgers menyampaikan rasa bela sungkawanya.

Penyebab Kematian Cornell

Cornell meninggal dunia gantung diri pada Rabu malam (17/05/2017) di kamar salah satu hotel Kota Detroit, Amerika Serikat (AS).

Menurut sang istri, Vicky Cornell, Chris diduga overdosis obat Ativan yang dipakai untuk meredakan rasa cemas.

Pada percakapan telepon terakhir mereka, Vicky mengatakan Chris tampak berbeda dan kata-katanya kurang jelas.

“Sepertinya, dia minum lebih dari satu atau dua butir Ativan,” kata Vicky.

Ia pun kemudian memanggil petugas keamanan untuk melakukan pengecekan lantaran khawatir atas kondisi Chris.

“Apa yang terjadi tak dapat dijelaskan, dan saya berharap laporan medis lanjutan akan memberikan rincian tambahan. Saya tahu dia mencintai anak-anak kami, dan tak akan sengaja menyakiti mereka melalui bunuh diri,” kata Vicky.

Hasil lengkap otopsi dan laporan kandungan racun dalam tubuh (toksikologi) Chris Cornell diperkirakan keluar beberapa hari lagi. Dengan kata lain, semua pihak masih menunggu adakah peran Ativan dalam kasus bunuh dirinya.

Lantas, apakah Ativan ada hubungannya dengan bunuh diri? Apakah obat itu bisa berkontribusi pada kematian seseorang?

Ativan adalah nama merek dari lorazepam, sejenis obat benzodiazepine yang digunakan untuk mengobati kecemasan dan panik parah seseorang dalam waktu yang singkat.

Benzodiazepines alias benzos adalah obat penenang yang juga berdampak kecanduan tingkat tinggi walau memiliki “beberapa kegunaan medis yang efektif,” kata Dr. Joseph Lee, direktur medis Hazelden Betty Ford Foundation Youth Continuum.

Ativan dan benzodiazepines lain, seperti Xanax atau Valium bisa digunakan untuk mengobati kejang-kejang dan menenangkan orang.

Petugas medis umum tak merekomendasikan obat tersebut pada orang yang punya penyakit kecanduan, depresi, psikosis atau masalah pernafasan.

Benzodiazepines adalah obat depresan yang memperlambat kerja sistem saraf sehingga membuat pengasupnya merasa tenang.

Ativan biasa diresepkan dalam dosis rendah selama beberapa minggu sekali. Kalau digunakan sesuai resep dokter, maka obat itu dapat bekerja ampuh bagi penderita kecemasan atau serangan panik, kata Dr Stuart Gitlow, direktur eksekutif Annenberg Physician Training Program bagian Penyakit Kecanduan.

Contohnya, Ativan bisa digunakan pada orang yang mengalami serangan panik sebelum naik pesawat. Jika disalahgunakan, maka efeknya sama seperti alkohol.

Penyalahgunaan obat atau penggunaan obat dalam jangka waktu lama dapat “meningkatkan toleransi terhadap obat” sampai obat tak lagi bekerja, kata Gitlow kepada Rolling Stone.

Pasien, menurut dia, harus mengonsumsi dalam dosis yang semakin banyak agar  mencapai efek aslinya karena otak melawan pengaruh zat buatan dari luar.

Ia mengemukakan, “Ketika otak menolak, artinya ketika obat habis, maka Anda akan lebih cemas, lebih lekas marah, lebih tertekan dari sebelumnya.”

Ciri orang yang kelebihan dosis Ativan, badannya bergetar, bermasalah dalam bicara atau bicaranya tak jelas.

Riset menunjukkan bahwa efek samping Ativan mirip dengan alkohol, karena benzodiazepines bisa menyebabkan anterograde amnesia alias lupa diri jika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan (overdosis).

Anterograde amnesia atau juga dikenal dengan sebutan blackouts atau lupa diri dapat memicu kemampuan menciptakan memori baru. Artinya otak tidak mampu merekam kejadian-kejadian di masa depan dalam waktu yang tepat. Dalam kata lain: Seseorang akan kehilangan banyak waktu.

Mirip kelebihan alkohol, orang yang kebanyakan konsumsi Ativan akan mengalami perilaku yang berbahaya, termasuk berkendara sambil mabuk-mabukan, melakukan kejahatan, bahkan bunuh diri.

“Jika seseorang bunuh diri menggunakan Ativan, maka kemungkinan mereka mengalami masalah kesehatan mental,” kata Dr. Jeffrey Lieberman kepala psikolog dari New York-Presbyterian/Columbia University Medical Center.

Ia mengungkapkan, “Ativan akan jadi faktor yang paling kecil.”

Meski tak selalu, orang yang punya niat bunuh diri biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti mengatakan tak punya tujuan hidup, ia pun merasa menjadi beban bagi orang lain.

Selain itu, ia tampak tertekan secara mental atau depresi dan cenderung marah. Mereka bertindak ceroboh, berlebihan mengonsumsi obat dan atau mengucapkan selamat tinggal tanpa sebab. (Red)

Photo Credit : Getty Images


KBI Telegraf

close