Jika Tak Ditangani Serius Stanting Ancam Masa Depan Bangsa

Jika Tak Ditangani Serius Stanting Ancam Masa Depan Bangsa

“Stanting cukup banyak dan juga di Indonesia adalah stanting, untuk stanting ini angka menunjukan 156 juta menderita stanting untuk prosentasenya seluruh dunia adalah 23 persen, sementara di kita Indonesia itu 37,6 persen jadi lebih tinggi dari prosentase dunia, kalau untuk dunia itu 156juta dan untuk Indonesia sendiri 9 juta, kita adalah negara ke 5 terbesar yang mengkontribusikan stanting di dunia”

Jika Tak Ditangani Serius Stanting Ancam Masa Depan Bangsa


Telegraf, Jakarta – Stanting Suatu kondisi panjang/tinggi badan balita dibawah standar tinggi anak seusianya, dimana stanting menandakan ketidakmampuan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan normal, bukan saja dari keluarga yang kurang mampu, hal ini bisa terjadi di keluarga yang berada, di sebabkan karena pola makan yang tidak sehat.

Di Indonesia sendiri stanting merupakan masalah yang cukup serius dimana di Indonesia menduduki negara ke 5 terbesar yang masyarakatnya mengalami stanting dengan prosentase 37,6 persen, setara dengan 9 juta anak, sementara prosentase di dunia adalah 23 persen.

“Stanting cukup banyak dan juga di Indonesia adalah stanting, untuk stanting ini angka menunjukan 156 juta menderita stanting untuk prosentasenya seluruh dunia adalah 23 persen, sementara di kita Indonesia itu 37,6 persen jadi lebih tinggi dari prosentase dunia, kalau untuk dunia itu 156 juta dan untuk Indonesia sendiri 9 juta, kita adalah negara ke 5 terbesar yang mengkontribusikan stanting di dunia,” ungkap Pakar Gizi Prof Fasli Jalal.

Fasli juga menjelaskan 3 masalah public healt di dunia adalah yang pertama Stanting, stanting ini tersebar di 72 negara, dan yang kedua adalah anemia, anemia yang terjadi pada ibu, ibu hamil dan remaja, ini terjadi di 125 negara, dan yang ke tiga adalah overweight/obesitas, ini terjadi di negara negara maju dan daerah daerah miskin ini sebabkan karena pola makan dan gaya hidup, obesitas ini tersebar di 95 negara.

Mengapa stanting ini merupakan masalah yang serius di suatu negara, karena kedepan akan berdampak pada pada tingkat kecerdasan anak dan dimana anak stunting rentan terhadap penyakit, selain itu juga produktifitas anak stanting menurun, dan kemudian bisa berakibat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan social.

Sementara untuk 20-30 tahun kedepan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, dimana jika masih belum bisa tertangani sedari dini generasi produktif kedepan akan tergaggu, yang megakibatkan tergangunya pertumbuhan ekonomi negara, serta akan meningkatnya kemiskinan.

Untuk menangulangi hal itu Guru Besar UNJ ini menjelaskan menunda usia perkawinan, bisa menjadi langkah tercepat untuk menekan angka stanting. Jika angka usia dimundurkan dari 16 tahun menjadi 20 tahun, maka banyak hal baik yang berpengaruh positif pada angka stanting.

“Bisa dibayangkan, dengan menunda usia perkawinan menjadi 20 tahun saja, bisa mengurangi stunting sekitar sepertiga,” ujar Fasli dalam taklimat media yang dilaksanakan di kantor IMA World Health di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

“Langkah terbaik untuk mendorong penundaan usia perkawinan adalah mengingatkan posisitioning kita, bahwa penting menyiapkan generasi yang lebih baik, sehat dan berkualitas. Saya kira kalau ini dipahami, maka banyak pihak yang akan setuju untuk menunda usia perkawinan menjadi paling cepat 20 tahun,” ujarnya.

Menunda usia perkawinan, menurut Fasli, artinya memberikan kesempatan yang lebih baik pada calon ibu untuk menyiapkan dirinya secara fisik dan psikologi. Misalnya, dengan penyiapan pemberian tablet tambah daerah bagi anak perempuan remaja. (Red)

Credit Photo:Atti Kurnia/telegraf.co.id


 

Atti K.

close