Jadi Tersangka, Elektabilitas Ahok Diprediksikan Bakalan Menurun Tajam

"Kasus penistaan agama oleh Ahok, kemudian disusul demo 4 November saya yakin menggoyahkan sebagian pemilih loyal Ahok. Saya prediksi sekitar 15% terpengaruh dengan isu kasus hukum Ahok membuat mereka ragu-ragu, wait and see, dan belum menentukan pilihan,"

Jadi Tersangka, Elektabilitas Ahok Diprediksikan Bakalan Menurun Tajam

Telegraf, Jakarta – Tak bisa dimungkiri elektabilitas Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok turun setelah muncul kasus dugaan penistaan agama dan penetapannya sebagai tersangka. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan dukungan untuk Ahok melorot dari 24,6% menjadi 10,6%. Hal itu terlihat dari jawaban atas pertanyaan ‘jika Ahok menjadi tersangka’.

Namun, berdasarkan survei tersebut, mereka yang disurvei ternyata tidak mengalihkan pilihannya ke kandidat lawan Ahok melainkan menjadi swing voters atau massa mengambang yang setiap waktu bisa kembali direbut.

Tahapan pemilihan gubernur (pilgub) terutama dalam debat pasangan calon nanti diyakini para pengamat akan kembali melambungkan elektabilitas Ahok. Teman Ahok serta tim sukses kampanye Ahok-Djarot mengakui adanya penurunan elektabilitas pasangan yang didukungnya, namun mereka yakin bahwa Ahok Djarot telah menemukan titik balik. Hal itu terlihat dari sambutan masyarakat dalam kampanye blusukan Ahok-Djarot serta antusiasme warga yang datang ke Rumah Lembang, markas pemenangan pasangan nomor urut 2 Pilgub DKI.

“Elektabilitas Ahok sama tidak tidak berpengaruh atas penetapan tersangka. Sebenarnya pendukung Ahok dengan yang anti-Ahok sudah lama terbentuk lama, tidak hanya pada saat ini saja. Isu agama juga sudah dimainkan sejak lama,” kata pendiri lembaga survei Cyrus Network, Hasan Nasbi, Kamis (24/11).

Saat ini, katanya, masyarakat semakin terang melihat adanya kelompok yang menganggap Ahok telah menistakan agama. Kelompok ini sejak awal sudah membenci Ahok dan tidak akan memilihnya dalam Pilgub DKI.

“Sementara sebagian besar yang lain, yang mendukung Ahok sejak awal, tidak merasa yang bersangkutan menistakan agama. Jadi, kelompok-kelompok yang mendukung maupun yang anti-Ahok sudah terbentuk jauh-jauh hari sebelum ada penetapan status tersangka,” ucap Hasan.

Penetapan Ahok sebagai tersangka dan maraknya aksi pengadangan kampanye malah membuat pendukungnya di semakin militan dan semakin bekerja keras. “Sebelum ini Ahok maupun Djarot terus dihadang di lapangan. Tetapi, mulai dari beberapa hari terakhir ini, para pengadang malah mulai dikepung, diusir, seperti yang terjadi di Pulomas. Hal itu membuktikan masyarakat semakin militan mendukung Ahok,” katanya.

Dari data survei terakhir yang dilakukan Cyrus Network, elektabilitas Ahok masih berada di sekitar 43%. Namun survei tersebut dilakukan sebelum Ahok tersangka. Karena itu dalam waktu dekat ini, pihaknya kembali meng-update hasil survei. “Desember awal kita akan rilis (hasil survei). Data terakhir kita. Saya rasa elektabilitas itu juga bisa dirasakan di lapangan,” katanya.

Sedangkan menurut Direktur Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas, meski kemungkinan Ahok-Djarot memenangi Pilgub DKI Jakarta satu putaran belum hilang, para penantang sedang mendapat momentum naik. Penantang yang dimaksud yakni pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Abbas menyatakan, proses hukum kasus dugaan penistaan agama membuat peluang menang satu putaran mengecil. “Masih terlalu jauh satu putaran di hari-hari begini. Kalau tidak ada peristiwa kemarin itu (proses hukum), peluangnya sangat besar untuk satu putaran,” katanya.

Selain pasangan Agus-Sylviana mendapatkan momentum naik, pasangan nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinilai tak memiliki lompatan signifikan. “Agus sedang dapat momentum naik. Tapi yang perlu kita lihat sampai sejauh mana momentum naik itu bertahan. Apakah ada lompatan dari Anies? Sejauh ini belum ada,” ujarnya.

Dia menyatakan, manakala isu-isu agama perlahan memudar maka peluang Ahok rebound lebih besar.

Tekanan untuk Ahok, katanya, tertahan karena adanya basis pendukung yang relatif solid. Salah satu basis tersebut bersumber dari pendukung PDI-P. “Pendukung PDI-P tidak banyak terpengaruh dengan isu agama,” tuturnya.

Dia menambahkan, Ahok juga mempunyai kinerja yang terlihat konkret membangun DKI. “Jadi, banyak penduduk moderat di Jakarta yang tidak terlalu mudah juga digeser opininya dan pilihannya dari Ahok,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, pemilih memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih nantinya. “Kalau diurut memang soal kinerja, kemampuan menyelesaikan masalah, tegas dan sifat jujur dan bisa dipercaya. Itu pertimbangannya yang utama, ketimbang agama atau pendidikan tinggi atau ganteng,” ungkapnya.

Disinggung mengenai jumlah kontribusi pemilih Tionghoa Kristen kepada Ahok, menurutnya, tidak seluruhnya condong ke Ahok. “Itu kan komunitasnya kecil. Saya kira kalau dari sisi dukungan enggak 100% ke Ahok juga, ada juga yang pilih Agus,” katanya.

Dari segi usia, dia menyatakan, ketiga pasangan sama-sama kuat, khususnya pada pemilih di bawah 25 tahun. “Tiga-tiganya bagus untuk pemilih pemula. Semakin mapan, semakin tua semakin ke Ahok. Umur 30-an sampai 55 tahun ke atas itu cenderung ke Ahok. Ini konsisten dalam beberapa survei kita,” ujarnya.

Direktur Riset Indonesia Toto Sugiarto mengakui sebagian pemilih loyal atau disebut die hard tetap ada yang terpengaruh oleh berbagai isu yang menghantam Ahok, khususnya kasus dugaan penistaan agama. Namun demikian, mereka ini bukan kemudian meninggalkan Ahok melainkan pada posisi ragu-ragu, menunggu, dan belum menentukan pilihan.

“Kasus penistaan agama oleh Ahok, kemudian disusul demo 4 November saya yakin menggoyahkan sebagian pemilih loyal Ahok. Saya prediksi sekitar 15% terpengaruh dengan isu kasus hukum Ahok membuat mereka ragu-ragu, wait and see, dan belum menentukan pilihan,” ujar Toto di Jakarta, Kamis (24/11).

Sementara, pemilih loyal yang tidak tergoyahkan adalah mereka yang konsisten mendukung karena pertimbangan kinerja dan rekam jejak sang petahana. Tak kalah penting, pemilih loyal ini adalah mereka yang meyakini bahwa kasus dugaan penistaan agama dipolitisasi untuk menjegal Ahok. Rasionalitas mereka mendukung Ahok tidak terpengaruh oleh isu-isu yang dinilai berupaya menjegal Ahok.

“Pemilih seperti ini menjadi modal politik Ahok dan mereka yang sedang labil besar kemungkinan akan kembali memilih Ahok jika kasus hukum Ahok bisa dipertanggungjawabkan dan kepolisian menyatakan bahwa Ahok secara objektif tidak bersalah,” katanya. (Red)

Foto : Ditetapkannya Ahok menjadi tersangka sangat signifikan pengaruhi elektabilitasnya di Pilkada. | Antara Photo


KBI Telegraf

close