Inilah Resep Panjang Umur God Bless, Tetap Bertahan Sampai Hari Ini

Inilah Resep Panjang Umur God Bless, Tetap Bertahan Sampai Hari Ini

"God Bless itu berangkat dari Ahmad dan Donny. Mereka cinta sama God Bless. Mereka mempertahankan God Bless secara luar biasa."

Inilah Resep Panjang Umur God Bless, Tetap Bertahan Sampai Hari Ini


Telegraf, Jakarta – Kesuksesan sebuah band bisa diukur dengan banyak hal. Seberapa banyak penggemarnya, seberapa keren musiknya atau seberapa lama band tersebut bisa bertahan. Dari begitu banyaknya band Indonesia, hanya sedikit nama yang bahkan bisa menggabungkan tiga faktor tersebut. God Bless adalah satu di antaranya. Band rock legendaris ini sudah bertahan selama 43 tahun.

Sejak kemunculan perdana pada Mei 1973, band yang memiliki personel inti vokalis Achmad Albar, bassist Donny Fattah dan gitaris Ian Antono ini masih terus berkarya sampai sekarang. Semangat baja mendorong mereka untuk melewati semua rintangan dan tetap berada di puncak rock musik Indonesia setelah sekian lama.

Tahun ini, God Bless tengah bersiap untuk mengeluarkan album studio ketujuh. Selain tiga personel yang telah bersama puluhan tahun, mereka juga dibantu rekan lama mereka, keyboardist Abadi Soesman dan musisi tambahan Fajar Satritama pada posisi drummer. Album terbaru ini nantinya selain merekam ulang beberapa lagu-lagu lama juga akan menampilkan tiga lagu baru. Rencananya album yang hingga kini masih belum diberi judul ini bakal diluncurkan pada 17 Desember mendatang.

Masih di tahun ini, belum lama berselang, mereka juga berkolaborasi dengan beberapa rocker lain yang lebih muda seperti Armand Maulana, Koil, dan Marcello Tahitoe. Semangat baja God Bless masih terlihat jelas ketika bersama mereka membawakan lagu andalan “Semut Hitam” dalam versi yang lebih modern. Dalam video tersebut para personel God Bless tampak masih luwes saja menghajar musik rock yang menggelora dan bertenaga.

Ian Antono, sang gitaris berbagi cerita tentang perjalanan panjang band rock legendaries tersebut hingga mencapai posisi sekarang. “God Bless itu berangkat dari Ahmad dan Donny. Mereka cinta sama God Bless. Mereka mempertahankan God Bless secara luar biasa.”

Lalu apa resep utamanya hingga God Bless masih bertahan sampai sekarang? Beliau menjelaskan filosofi bandnya, “Saling menghargai. Masing-masing punya ide, semuanya bisa lepas di God Bless. Saling menghormati.”

Selain itu, tentu saja musik memegang peranan penting untuk mendorong semangat baja band ini. “Selalu musik yang dipikirkan. Saya percaya musik punya sihir untuk awet muda,” renung Ian. “Yang saya jalankan kami sangat mencintai musik. Bisa berkumpul berlima sangat luar biasa. Kami hidup dari musik, saya nggak berpikir macam-macam. Mas Iyek (Achmad Albar) nggak punya tujuan jadi direktur. Kami sama-sama suka musik. Itu saja,” lanjutnya.


God Bless saat berkolaborasi dengan Koil, Armand Maulana dan Marcello Tahitoe.


Faktor lain yang mendorong God Bless terus berkarya adalah keluarga. “Kami itu adalah partner dalam bekerja sebagai musisi. Cuma hubungan keluarga rapat. Satu hal yang bikin awet adalah kami itu udah kayak keluarga, bukan band lagi. Tali ikatannya disitu. Kalau mau ngapa-ngapain kami mikir juga,” ujar Ian Antono. Dia menekankan, “43 tahun yang mesti dijaga adalah kebersamaan.”

Sementara menurut salah satu pendiri God Bless, Donny Fattah, band ini bisa panjang umur bertahan hingga saat ini adalah “sebuah keajaiban, karena kami sendiri nggak pernah menyangka atau bermimpi akan dapat bertahan sekian lama. Kalau secara duniawinya sih, rahasianya sederhana, saling menghormati satu sama lain. Saya, Achmad dan Ian itu dunianya sama. Kami sama-sama mencintai musik.”

“Mungkin juga karena namanya God Bless, karunia Tuhan. Jadi kami dapat bertahan sampai hari ini, masih eksis, masih berkarya dan Alhamdulillah, masih disukai oleh sekian generasi. Kalau dihitung sekarang malah sudah masuk generasi keempat,” imbuh Donny.

Donny juga percaya bahwa semangat baja menjadi salah satu bahan bakar bagi God Bless sehingga dapat bertahan selama lebih dari empat dekade seperti sekarang ini. “Semangat itu tumbuh dari latar belakang kami yang sama, sehingga menjadi sebuah spirit yang lebih mempererat kami untuk konsekuen di dunia ini. Karena bisanya cuma bermain musik akhirnya kami total di sini. Selain semangat tentunya juga visi dari band ini. Kami rundingkan bersama visinya apa nih, apa yang mau disuarakan dalam bermusik? Akhirnya semua itu tertuang ke dalam beberapa album God Bless, khususnya di album Cermin, itu paling ketemu visi dan misi kami bersama,” jelas Donny lagi.

Ian Antono menegaskan kembali bahwa semangat baja yang didasari kecintaan pada bermusik juga harus banyak dimiliki band-band muda saat ini. “Dalam menjalani band harus kuat sengsara. Harus tabah. Saya sudah sejak era dulu mengalami pasang surut. Setiap berapa tahun sekali ada siklusnya. Kalau jatuh, ya tahan aja sebentar. Banyak musisi nggak tahan disitu,” jelasnya. “Harus tetap semangat dan harus bergrup. Kita kenal Led Zeppelin dari grup. Begitu diganti orang mikir juga,” katanya mencontohkan pada band yang lebih yang mapan.

Setelah empat dekade berlalu, kapan perjalanan ini akan berakhir? Ian Antono menjelaskan dengan penuh semangat, “Saya paling ngeri dibilang pensiun. Sampai kapanpun saya bisa main gitar saya akan main. Minta ke Tuhan tangan saya bisa jalan terus.”

Sementara Donny Fattah memiliki pandangan yang berbeda saat ditanya mengenai rencana pensiun.

“Sebagai manusia kami menyadari bahwa kami memiliki batas, apalagi di era sekarang dimana semua personelnya sudah berumur di atas 60-an semua… Cuma kalau masalah berkarya, alhamdulilah selama ini kami masih aktif berkarya dan masih diterima di negara ini, jadi insya Allah belum kami putuskan untuk bubar atau malah belum kepikiran untuk berhenti. Intinya, selama karya-karya kami masih diterima, alhamdulilah, nggak ada kata-kata lain lagi yang paling tepat untuk menggambarkannya, “may God bless we all,” pungkas Donny.

Ian Antono, sang gitaris berbagi cerita tentang perjalanan panjang band rock legendaris tersebut hingga mencapai posisi sekarang. “God Bless itu berangkat dari Ahmad dan Donny. Mereka cinta sama God Bless. Mereka mempertahankan God Bless secara luar biasa.”

Lalu apa resep utamanya hingga God Bless masih bertahan sampai sekarang? Beliau menjelaskan filosofi bandnya, “Saling menghargai. Masing-masing punya ide, semuanya bisa lepas di God Bless. Saling menghormati.”

Selain itu, tentu saja musik memegang peranan penting untuk mendorong semangat baja band ini. “Selalu musik yang dipikirkan. Saya percaya musik punya sihir untuk awet muda,” renung Ian. “Yang saya jalankan kami sangat mencintai musik. Bisa berkumpul berlima sangat luar biasa. Kami hidup dari musik, saya nggak berpikir macam-macam. Mas Iyek (Achmad Albar) nggak punya tujuan jadi direktur. Kami sama-sama suka musik. Itu saja,” lanjutnya.

Faktor lain yang mendorong God Bless terus berkarya adalah keluarga. “Kami itu adalah partner dalam bekerja sebagai musisi. Cuma hubungan keluarga rapat. Satu hal yang bikin awet adalah kami itu udah kayak keluarga, bukan band lagi. Tali ikatannya disitu. Kalau mau ngapa-ngapain kami mikir juga,” ujar Ian Antono. Dia menekankan, “43 tahun yang mesti dijaga adalah kebersamaan.”

Sementara menurut salah satu pendiri God Bless, Donny Fattah, band ini bisa panjang umur bertahan hingga saat ini adalah “sebuah keajaiban, karena kami sendiri nggak pernah menyangka atau bermimpi akan dapat bertahan sekian lama. Kalau secara duniawinya sih, rahasianya sederhana, saling menghormati satu sama lain. Saya, Achmad dan Ian itu dunianya sama. Kami sama-sama mencintai musik.”

“Mungkin juga karena namanya God Bless, karunia Tuhan. Jadi kami dapat bertahan sampai hari ini, masih eksis, masih berkarya dan Alhamdulillah, masih disukai oleh sekian generasi. Kalau dihitung sekarang malah sudah masuk generasi keempat,” imbuh Donny.

Donny juga percaya bahwa semangat baja menjadi salah satu bahan bakar bagi God Bless sehingga dapat bertahan selama lebih dari empat dekade seperti sekarang ini. “Semangat itu tumbuh dari latar belakang kami yang sama, sehingga menjadi sebuah spirit yang lebih mempererat kami untuk konsekuen di dunia ini. Karena bisanya cuma bermain musik akhirnya kami total di sini. Selain semangat tentunya juga visi dari band ini. Kami rundingkan bersama visinya apa nih, apa yang mau disuarakan dalam bermusik? Akhirnya semua itu tertuang ke dalam beberapa album God Bless, khususnya di album Cermin, itu paling ketemu visi dan misi kami bersama,” jelas Donny lagi.

Ian Antono menegaskan kembali bahwa semangat baja yang didasari kecintaan pada bermusik juga harus banyak dimiliki band-band muda saat ini. “Dalam menjalani band harus kuat sengsara. Harus tabah. Saya sudah sejak era dulu mengalami pasang surut. Setiap berapa tahun sekali ada siklusnya. Kalau jatuh, ya tahan aja sebentar. Banyak musisi nggak tahan disitu,” jelasnya. “Harus tetap semangat dan harus bergrup. Kita kenal Led Zeppelin dari grup. Begitu diganti orang mikir juga,” katanya mencontohkan pada band yang lebih yang mapan.

Setelah empat dekade berlalu, kapan perjalanan ini akan berakhir? Ian Antono menjelaskan dengan penuh semangat, “Saya paling ngeri dibilang pensiun. Sampai kapanpun saya bisa main gitar saya akan main. Minta ke Tuhan tangan saya bisa jalan terus.”

Sementara Donny Fattah memiliki pandangan yang berbeda saat ditanya mengenai rencana pensiun.

“Sebagai manusia kami menyadari bahwa kami memiliki batas, apalagi di era sekarang dimana semua personelnya sudah berumur di atas 60-an semua… Cuma kalau masalah berkarya, alhamdulilah selama ini kami masih aktif berkarya dan masih diterima di negara ini, jadi insya Allah belum kami putuskan untuk bubar atau malah belum kepikiran untuk berhenti. Intinya, selama karya-karya kami masih diterima, alhamdulilah, nggak ada kata-kata lain lagi yang paling tepat untuk menggambarkannya, “may God bless we all,” pungkas Donny.

Foto : God Bless masih tetap tampil prima didalam setiap aksi panggungnya. | Ist Photo


KBI Telegraf

close