Inilah Beberapa Faktor Yang Membuat Mesin Politik Agus-Sylvi Melaju Kencang

"Ada beberapa faktor, karena biar bagaimanapun ada proses antara PDIP dan Ahok yang tidak berjalan mulus 100 persen,"

Inilah Beberapa Faktor Yang Membuat Mesin Politik Agus-Sylvi Melaju Kencang


Telegraf, Jakarta – Mesin politik pasangan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni dinilai paling solid jika dibandingkan dua pasangan calon kepala daerah DKI Jakarta yang lain. Karena itu hasil jajak pendapat menempatkan pasangan Agus-Sylvi jadi yang paling banyak dipilih saat ini.

Hasil survei Charta Politik menyebut tingkat keterpilihan pasangan ini sebesar 29,5 persen. Sementara di posisi kedua ada pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat 28,9 persen dan pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno 26,7 persen.

Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, pasangan Agus-Syvli didukung suara bulat partai pengusung di akar rumput, terutama Partai Demokrat.

Salah satu faktor utama adalah karena Agus merupakan putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

“Itu yang menyebabkan kenapa bulatnya suara mesin politik partai sangat kuat ada di Partai Demokrat,” kata Yunarto di Kantor Charta Politika, Jakarta, Selasa (29/11).

Di Pilkada DKI Jakarta, pasangan nomor urut satu ini didukung oleh Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional.

Pada poin survei terkait pemilihan pasangan calon berdasarkan pilihan partai, pemilih dari Partai Demokrat menyatakan 85 persen mendukung Agus-Sylvi.

Solidnya dukungan kepada Agus diikuti PAN dengan 77,8 persen, PKB 63,6 persen dan PPP dengan 50 persen. Menurut Yunarto, dukungan solid dari PAN lantaran terdapat kedekatan hubungan darah antara salah satu petingginya dengan Cikeas.

Sementara itu, pasangan nomor urut dua Ahok-Djarot dinilai belum mendapatkan dukungan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan selaku pengusung. PDIP adalah pemilik suara mayorita di DPRD DKI Jakarta.

Meski pemilih PDIP menyatakan mendukung Ahok-Djarot sebanyak 63 persen, jumlah itu masih kalah dengan dukungan Demokrat ke Agus-Sylvi.

“Ada beberapa faktor, karena biar bagaimanapun ada proses antara PDIP dan Ahok yang tidak berjalan mulus 100 persen,” ujar Yunarto.

Proses itu menurut Yunarto, bersifat konflik di internal partai dan baru bisa dikonsolidasikan saat masa pendaftaran pasangan calon Pilkada 2017 akhir September lalu.

Baca Juga :   Puan Ajak Tingkatkan Disiplin Protokol Kesehatan

“Dibutuhkan waktu lebih. Sifat kedekatan juga berbeda. Ahok biar bagaimanapun bukan kader PDIP langsung,” kata Yunarto.

Untuk tiga partai pengusung Ahok-Djarot lainnya, Partai NasDem yang menyatakan dukungan hingga 54,5 persen. Dukungan itu disusul Hanura dengan 40 persen dan Golkar dengan 26,2 persen.

Dua partai terakhir banyak memberi limpahan dukungan kepada pasangan nomor urut satu dan tiga. Pemilih Hanura memberi 40 persen untuk Agus-Sylvi dan Golkar 47,6 persen untuk Anies-Sandi.

Sedangkan, pasangan nomor urut tiga Anies-Sandiaga juga dinilai belum mendapat dukungan secara solid dari partai pengusungnya yakni Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera.

Suara Gerindra di akar rumput tercatat hanya memberi 50,5 persen suara kepada Anies-Sandi, sisanya 25,2 persen ke Agus-Sylvi dan 11,2 persen ke Ahok-Djarot.

Sedangkan PKS yang dikenal solid, hanya menyumbang 55 persen suaranya. Suara lainnya tersebar ke Agus-Sylvi 22,5 persen dan Ahok-Djarot 10 persen.

Kondisi ini, kata Yunarto, merupakan sebuah anomali. Ia pun merasa janggal dengan preferensi pilihan dari partai tersebut. Untuk itu, menurutnya, harus ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. “Survei itu tidak menjelaskan. Harus ada penelitian secara kualitatif,” kata Yunarto. (Red)

Foto : Agus Yudhoyono da Sylviana Murni pada saat melakukan debut kampanyenya. | Antara Photo


 

KBI Telegraf

close