Ini Tanggapan MatahariMall, Terkait Status Emirsyah Jadi Tersangka

“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),"

Ini Tanggapan MatahariMall, Terkait Status Emirsyah Jadi Tersangka


Telegraf, Jakarta – Head of Communication and Partnership MatahariMall.com, Alvin Aulia, mengatakan belum bisa menanggapi kasus dugaan suap pembelian pesawat PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang melibatkan Emirsyah Satar. “Kami menghormati proses hukum yang  sedang berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),”ujar dia ketika dihubungi, Kamis, 19 Januari 2016.

Alvin melanjutkan, MatahariMall pun masih mengamati kasus ini. Musababnya, status tersangka yang diberikan oleh KPK kepada Emirsyah baru saja terjadi. Untuk itu, perusahaan pun belum memikirkan langkah untuk memberikan bantuan hukum maupun tentang bagaimana status jabatan Emirsyah sebagai Chairman di Mataharimall.com.

Sebelumnya, KPK menetapkan Emirysah sebagai tersangka pengadaan pesawat selama periode dia menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia. Emirsyah menduduki posisi tersebut selama sembilan tahun, sejak 2005-2014.

Menurut Alvin, sejak masuk ke dalam MatahariMall, perusahaan yang bergerak di situs e-commerce tersebut, kinerja dan kontribusi Emirsyah sangat positif. Emirsyah telah bergabung di Lippo Group sejak 2015 lalu. “Kami belum ada komunikasi dengan Bapak sejak kasus ini menjadi pemberitaan,” ujarnya.

Selain Emirsyah, KPK juga menetapkan Beneficial Owner Connaught International, Soetikno Soedarjo, sebagai tersangka dalam kasus ini. Soetikno diduga memberikan suap kepada Emirsyah agar pesawat Garuda menggunakan mesin dari Roll Royce.

Menurut Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif, Soetikno diduga memberikan suap sebesar Euro 1,2 juta dan US$ 180 ribu atau setara dengan Rp 20 miliar. Ia juga diduga menerima suap dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta. “Barang itu tersebar di Singapura dan Indonesia,” kata Laode.

Baca Juga :   Tracing dan Testing Covid-19 Alami Penurunan

Rolls Royce merupakan produsen mobil terkenal asal Inggris, yang juga memproduksi mesin pesawat. Perusahaan ini diduga juga menyuap pejabat di negara lain agar membeli mesinnya. Di antaranya adalah Cina, Rusia, Thailand, dan Malaysia.

Akibat perbuatannya, Emirsyah disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

Sedangkan Soetikno sebagai pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1, juncto Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

Laode mengatakan perkara ini tergolong korupsi lintas batas negara atau transnasional, sehingga dalam penanganan kasus ini KPK bekerja sama secara intensif dengan Serious Fraud Office (SFO) di Inggris dan Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB) di Singapura.

“Saat ini kedua badan tersebut juga sedang melakukan penyidikan terhadap tersangka lainnya,” kata Syarif. (Tmp)

Photo credit : Bloomberg /Dimas Ardian


KBI Telegraf

close