Ini Dampak Pornografi Bagi Kesehatan Seksual Pasangan

"Masalah pornografi merupakan faktor krusial. Ini adalah masalah kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia yang tumpang tindih dengan masalah moral, sehingga membutuhkan perhatian dan aktivisme yang lebih besar."

Ini Dampak Pornografi Bagi Kesehatan Seksual Pasangan


Telegraf – Penelitian berikut ini memberikan petunjuk tentang bagaimana pornografi memengaruhi seks. Pornografi yang dimaksud adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi, atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi seks.

Menurut jajak pendapat Gallup 2018, penggunaan pornografi dipandang dapat diterima secara moral oleh orang Amerika dan persentasenya meningkat, bergerak dari 30 persen pada tahun 2011 menjadi 43 persen pada tahun 2018.

Dalam hal ini, perubahan terbesar terlihat di antara orang yang belum menikah dan pria dewasa di bawah usia 49 tahun. Faktor-faktor seperti agama dan orientasi politik memengaruhi penerimaan pornografi, namun persentasenya jauh lebih kecil.

Meskipun semakin diterima, tetapi terdapat kekhawatiran serius bahwa pornografi menyebabkan kerugian nyata seperti eksploitasi dan risiko bagi pelaku, kerusakan hubungan yang sehat suatu pasangan dan mengganggu kepuasan seksual.

Selain itu juga berpotensi adiktif, aktivitas ilegal yang mendukung perdagangan manusia dan pelecehan anak, serta kontribusi terhadap kecenderungan masyarakat umum untuk mengobyektifkan dan menyajikan ekspektasi yang tidak realistis untuk atribut fisik serta perilaku seksual.

Masalah pornografi merupakan faktor krusial. Ini adalah masalah kesehatan masyarakat dan hak asasi manusia yang tumpang tindih dengan masalah moral, sehingga membutuhkan perhatian dan aktivisme yang lebih besar.

Dampaknya Pada Hubungan Berpasangan

Yang menarik adalah dampak pornografi pada hubungan berpasangan. Untuk mencari tahu seberapa selarasnya suatu pasangan terkait penggunaan pornografi adalah bagian penting dari pembicaraan tentang kepuasan seksual mereka dalam berhubungan.

Menurut sebuah studi dalam Journal of Sexual Research (2018), dilansir dari psychologytoday, pornografi berdampak negatif pada sebagian besar komitmen hubungan.

Studi pada 6000 lebih pasangan itu menemukan bahwa kecemasan berhubungan dikaitkan dengan kepuasan yang tinggi terhadap penggunaan pornografi oleh pria dan kepuasan yang lebih rendah pada wanita yang menggunakan pornografi.

Laki-laki tiga kali lebih mungkin melaporkan penggunaan pornografi. Secara umum, penelitian menemukan bahwa penerimaan pornografi yang rendah dikaitkan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah. Namun, penelitian bagaimana penggunaan pornografi memengaruhi kepuasan seksual membutuhkan studi lebih lanjut.

Untuk memahami hubungan antara pornografi dan kesehatan seksual, Vaillancort Morel dan rekannya, melakukan studi terbaru mereka di Archives of Sexual Behavior (2021) dengan mensurvei 217 pasangan, termasuk 72 pasangan sesama jenis.

Melalui statistik dasar, studi itu menemukan lebih dari 35 hari separuh pasangan melaporkan penggunaan pornografi pada hari yang sama mereka berhubungan seks. Secara umum, penggunaan pornografi tidak terkait dengan kesehatan seksual .

Penulis penelitian mencatat bahwa beberapa orang yang menggunakan pornografi sendirian pada hari-hari mereka berhubungan seks mungkin telah berhubungan seks dengan pasangan sebelum menggunakan pornografi.

Para penulis juga mencatat bahwa penggunaan pornografi pasangan dikaitkan dengan keterbukaan seksual yang lebih besar, yang dapat membantu pasangan menormalkan, membicarakan dan memainkan fantasi seksual, dan secara umum memfasilitasi kepositifan seks.

Bagi banyak pasangan, pornografi memiliki efek korosif, seperti perselingkuhan dalam beberapa hal. Ini menyebabkan hubungan mereka jadi tidak sehat.

Sementara bagi pasangan lain yang lebih menerima pornografi dan umumnya seks positif (dengan keterikatan yang lebih aman satu sama lain) pornografi dapat menjadi komponen yang berguna dan menyenangkan dalam kehidupan seks mereka selama tidak menyebabkan ketidakamanan pada pasangan atau berdampak negatif pada perilaku seksual dan sikap.


Photo Ilustrasi SHUTTERSTOCK

 

Aris Maulana

close