Ini Cara Xi Jinping Entaskan Kemiskinan Ekstrem di China

Ini Cara Xi Jinping Entaskan Kemiskinan Ekstrem di China

"Dia sadar bahwa kekakuan jalur kebijakan yang lama tak akan membuahkan hasil, dan reformasi wajib dijalankan,"

Ini Cara Xi Jinping Entaskan Kemiskinan Ekstrem di China

Telegraf – Pada Kamis lalu, Tiongkok mengumumkan “kemenangan telak” dalam pengentasan kemiskinan ekstrem. Sebanyak 98,99 juta warga prasejahtera di pedesaan telah keluar dari garis kemiskinan versi pemerintah, yakni berdasarkan pendapatan per kapita. Prestasi ini menjadi keberhasilan Tiongkok menuju masyarakat dengan tingkat kesejahteraan moderat dalam seluruh aspek secara tepat waktu.

Prestasi ini terwujud 10 tahun lebih cepat ketimbang rencana yang telah ditetapkan negara dengan penduduk terpadat di dunia ini. Sebelumnya, Tiongkok mematok pencapaian target-target Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Agenda 2030 tentang Pembangunan Berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan presiden Tiongkok Xi Jinping. Lebih lagi, prestasi ini terwujud pada tahun yang sama ketika Partai Komunis Tiongkok (CPC) merayakan hari jadi ke-100.

“Pencapaian ini benar-benar menjadi kemenangan besar bagi rakyat Tiongkok, CPC, dan bangsa kita,” kata Xi di Beijing, (01/03/2021).

Xi juga mengapresiasi sejumlah sosok panutan dalam gerakan tersebut, dan memuji pencapaian ini sebagai keajaiban di bumi yang harus tercatat dalam sejarah.

Reformasi Memerlukan Waktu dan Pekerjaan Berat

Awalnya tidak mudah, ketika berusia 30-an, Xi bertugas pada awal 1980-an sebagai pejabat di tingkat akar rumput di Kabupaten Zhengding, sebelah utara Provinsi Hebei, dalam program pengentasan kemiskinan berskala luas. Di sana, Xi mulai melakukan uji coba reformasi, kontrak areal pedesaan. Dia kemudian menjabat Sekretaris Partai di tingkat prefektur, tepatnya di Ningde, sebelah Tenggara Provinsi Fujian.

“Saya selalu resah,” kenang Xi dalam bukunya yang berjudul “Up and Out of Poverty.”

“Pengentasan kemiskinan adalah pekerjaan berat yang membutuhkan upaya beberapa generasi,” terangnya.

Selama dua dekade berikutnya, Xi mengusung impiannya tentang pengentasan kemiskinan ke pusat kehidupan politik Tiongkok.

“Reformasi yang dijalankan Xi berasal dari pengalamannya sendiri,” jelas Shi Zhihong, mantan Deputy Director, Policy Research Office, Komite Sentral CPC.

“Dia sadar bahwa kekakuan jalur kebijakan yang lama tak akan membuahkan hasil, dan reformasi wajib dijalankan,” tuturnya.

Sejak 2012, presiden Tiongkok ini rajin mendatangi komunitas-komunitas prasejahtera sebanyak lebih dari 50 kali, dan dia mempelajari kehidupan masyarakat di sana.

Disusun Sesuai Kebutuhan dan Berdasarkan Kondisi Praktis

Presisi merupakan kunci kesuksesan Tiongkok. Strategi pengentasan kemiskinan yang terarah dikemukakan Xi pada akhir 2013. Dia menilai pendekatan-pendekatan serampangan seperti “membunuh lalat dengan granat”.

Xi menyebut konsep ini sebagai “jalur pengentasan kemiskinan yang berciri khas Tiongkok” ungkapnya.

Dari rumah ke rumah, sejumlah pertanyaan berhasil dijawab, yakni siapa yang sebenarnya membutuhkan bantuan, siapa yang harus menjalankan inisiatif pengentasan kemiskinan, bagaimana pengentasan kemiskinan harus dijalankan, serta standar dan prosedur yang harus diterapkan untuk membawa warga keluar dari kemiskinan.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah pusat juga mengirimkan jutaan pejabat pemerintah kota ke garis depan mengunjungi komunitas-komunitas yang paling tertinggal, dan bekerja sama dengan berbagai individu di tengah kondisi fisik yang sulit.

“Jadi, bagaimana Tiongkok dapat mengentaskan kemiskinan ekstrem? Jawabannya terletak pada filosofi partai yang berkuasa, yaitu tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama,” kata Zheng Yongnian, Dekan, Advanced Institute of Global and Contemporary China Studies, Chinese University of Hong Kong.

Infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di pedesaan berhasil ditingkatkan. Data resmi menunjukkan, lebih dari 9,6 juta warga telah keluar dari rumah kecil berdinding tanah liat. Hunian ini mengancam keselamatan warga. Beberapa rumah sakit di pedesaan juga telah bekerja sama dengan mitra-mitranya di perkotaan untuk menawarkan berbagai layanan medis yang bermutu tinggi bagi para warga desa.

“Kemiskinan yang disebabkan penyakit merupakan salah satu kendala terberat di pedesaan,” jelas Hu Yi, Kepala Rumah Sakit Umum di Kabupaten Zhenxiong, Provinsi Yunnan.

“Kini, warga desa tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan, sekalipun untuk mengobati penyakit-penyakit berat,” ungkapnya.

Peremajaan Desa Mengonsolidasikan Sejumlah Pencapaian

Beijing kini mengharapkan lebih dari sekadar sejumlah pencapaian yang telah terwujud. Beijing telah menargetkan untuk mencapai modernisasi dasar terhadap wilayah-wilayah pertanian dan pedesaan pada 2035. Sementara, tujuan besarnya ialah industri pertanian yang maju, wilayah pedesaan yang indah, serta kalangan petani yang sejahtera pada 2050.

“Demi mempercepat pembentukan pola pembangunan baru ‘sirkulasi ganda’, yakni pasar di dalam dan luar negeri saling memperkuat, sementara, pasar dalam negeri menjadi fokus utama, sektor pertanian, pedesaan, dan para petani harus berperan sebagai stabilisator dan pendukung bagi ekonomi dan pembangunan sosial Tiongkok,” kata Li Guoxiang, Research Fellow, Rural Development Institute, sebuah lembaga yang berada dalam naungan Chinese Academy of Social Sciences.

Bagi warga desa yang hanya menjual hasil pertaniannya di wilayah sekitar, pasar mereka kini bertambah luas berkat perkembangan pesat layanan E-commerce.

Luo Huimin, warga asli Kabupaten Wannian, Provinsi Jiangxi, menganalisis tingkat permintaan terhadap produk-produk pertanian di perkotaan, dan berhasil mengoptimalkan suplai produk pertanian. Dia kini membuka gerai yang menjual berbagai benih dan minyak bagi para warga di seluruh kabupaten tersebut dari Nanchang, ibu kota Jiangxi, hingga kawasan Selatan Provinsi Guangdong.

Didukung lebih dari 90 pekerja semuanya berasal dari kota asal Luo setiap orang menerima penghasilan hingga RMB 15.000 ($2.172) setiap bulan.

Menurut sebuah survei pada awal 2019 yang melibatkan 3.378 pekerja migran, lebih dari 60% responden merasa yakin atas peningkatan sarana dan layanan umum, seperti layanan kesehatan, pendidikan, serta infrastruktur sehingga mereka mau bertahan di pedesaan atau kembali dari wilayah pesisir.

Menurut Xi dalam pidatonya pada Kamis lalu, segala kesulitan yang dihadapi dalam peremajaan desa tergolong ringan jika dibandingkan dengan pengentasan kemiskinan ekstrem.

“Namun, kita akan mempertahankan momentum kerja keras ini, dan terus melangkah ke depan,” pungkas Xi Jinping.


Photo Credit: Presiden China Xi Jinping pergi setelah sesi pembukaan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, 3 Maret 2018. REUTERS/Damir Sagolj

Didik Fitrianto

close