IDI : Stunting dan Katastropik Masih Menjadi Masalah Besar di Indonesia

"Memberikan pelayanan yang terbaik kepada bangsa kita yang sekarang sedang didera oleh beberapa permasalahan dengan stunting gizi buruk dan penyakit tidak menular (PTM), terutama penyakit katastropik yang sekarang angkanya tinggi, adalah fokus arah dan tujuan dari HBD"

IDI : Stunting dan Katastropik Masih Menjadi Masalah Besar di Indonesia

Telegraf, Jakarta – Memasuki Hari Bakti Dokter Indonesia ke 111, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terus tingatkan kesadaran kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, walaupun tanggungjawab tersebut bukan saja tangung jawab profesi kesehatan.

Dari hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan 30,8 persen atau sekitar 7 juta balita menderita Stunting. Penyakit tidak menular sendiri masih menjadi masalah dan cenderung terus meningkat, terutama penyakit katastropik yang menjadi beban berat bagi pelayanan kesehatan saat ini.

“Memberikan pelayanan yang terbaik kepada bangsa kita yang sekarang sedang didera oleh beberapa permasalahan dengan stunting gizi buruk dan penyakit tidak menular (PTM), terutama penyakit katastropik yang sekarang angkanya tinggi, adalah fokus arah dan tujuan dari HBD,” ungkap Ketua Umum PB IDI Dr.Daeng M Faqih, SH.MH dalam sambutan pencanangan hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-111, di Kantornya, Menteng, Jakarta Pusat.

Daeng menjelaskan permasalahan tersebut jika tidak ditangani secara serius,cepat dan tepat penyakit akan terus meningkat dan yang membahayakan adalah berpotensi melemahkan kualitas manusia Indonesia kedepan.

Lanjut Daeng Stunting dalam hal ini adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kurang gizi kronis terutama pada 1.000 hari Pertama Kehirupan (HPK), Stunting sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan otak, sementara prevelensi stunting di 10 tahun terakhir masih tinggi dan belum menunjukan perbaikan yang signifikan.

Sementara itu kenapa PTM sendiri terus mengalami peningkatan, hal ini disebabkan karena tidak ada kesadaran diri dalam pola makan yang seimbang, kurangnya aktifitas fisik, merokok dan stres yang justru hal ini banyak terjadi diperkotaan.

Untuk itu melalui HBDI, IDI terus berupaya membantu pemerintah meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kempampuan hidup sehat setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat sehingga dapan meminimalisir angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit.

“Sejumlah kegiatan dalam meningkatkan asupan gizi seimbang dari masa pertumuhan, remaja, dewasa, orang tua hingga lanjut usia melalui kegiatan pembagian suplemen serta pebagian susu untuk anak dibawah 1 tahun,” kata Ketua Panitia HBDI sekaligus Sekretaris Jendral IDI DR.Dr. Henry Salim Siregar,Sp.OG, Senin,(20/5).

Selain kegiatan tersebut Henry menambahkan, dorongan kesadaran hidup bersih, sehat untuk mencegah penyakit seperti pemberdayaan makanan khas daerah sebagai sumber gizi seimbang serta kampanye sarapan sehat.

Kegiatan akan dilakukan di IDI Wilayah dan Cabang seperti Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Palangkaraya Menado serta Ternate. untuk puncak acara akan dirayakan di DKI Jakarta melalui hiburan masyarakat dan pemeriksaan kesehatan da konsultasi ahli untuk masyarakat. (Red)


Credit Photo : Ketua Umum PB IDI Dr.Daeng M Faqih, SH.MH (ki) dan Ketua Panitia HBDI sekaligus Sekretaris Jendral IDI DR.Dr. Henry Salim Siregar,Sp.OG (ka) saat mencanangkan Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111/telegraf


 

Share



Komentar Anda