Ida Fauziah: Jaringan Terorisme Mulai Libatkan Perempuan Sebagai Pemeran Aktif

Ida Fauziah: Jaringan Terorisme Mulai Libatkan Perempuan Sebagai Pemeran Aktif

"Kelompok radikal bisa memanfaatkan kelemahan dan kodrat perempuan untuk direkrut menjadi teroris".

Ida Fauziah: Jaringan Terorisme Mulai Libatkan Perempuan Sebagai Pemeran Aktif


Telegraf, Jogjakarta – Anggota DPR-RI Ida Fauziyah yang membidangi agama, perempuan dan sosial mengatakan, peran perempuan dalam menangkal radikalisme sangat penting. Karena saat ini terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh dunia.

“Jaringan terorisme mulai melibatkan perempuan sebagai pemeran aktif, seperti: Dian Yulia Novi (calon ‘pengantin’ bom bunuh diri), Ika Puspitasari yang ditangkap di Purworejo, Umi Delima (istri Santoso, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur) ditangkap Poso, Sulteng, dan lainnya”. Papar    Ida Fauziah saat menjadi narasumber pada Seminar “Peran Perempuan Menuju Indonesia Bebas Radikalisme” di Konferensi Besar (Konbes) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Asrama Haji Yogyakarta, Sabtu (28/10/2017) lalu.

“Kelompok radikal bisa memanfaatkan kelemahan dan kodrat perempuan untuk direkrut menjadi teroris”. Papar aktivis perempuan itu.

Menurutnya perempuan dijadikan sebagai kurir dan juga memanfaatkan perempuan untuk merekrut anggota lain. Hal itu dilakukan karena perempuan lebih bisa masuk kemana-mana, bahkan mampu mengelabui petugas.

IPPNU harus menjadi garda terdepan dalam melawan gerakan radikalisme. IPPNU harus menjadi teman untuk para remaja, khususnya pelajar perempuan, karena dengan menjadi teman para pelajar, IPPNU akan mudah dalam mewujudkan deradikalisasi di kalangan pelajar. Pelajar bisa menjadi radikal melalui pengetahuan agama dari sekolah yg kurang baik.

Organisasi IPPNU sangat strategis dalam melakukan deradikalisasi. Karena yg menjadi sasaran gerakan radikal salah para remaja yang juga menjadi konsen kaderisasi IPPNU.

Selain itu, menurut Aktivis perempuan bangsa Rustini Murtadho menyampaikan IPPNU harus menguatkan strategi dalam penguatan ideologi ke-NUan, karakter Aswaja an-Nahdliyah, trilogi ukhuwah, pandai-pandai memilih organisasi di berbagai bidang, termasuk politik, serta fokus pada persiapan ideologi menuju, perguruan tinggi dan pesantren, dan terakhir perkuat perspektif perempuan. (Red)

Photo Credit : Telegraf/Anty Husnawati


KBI Telegraf

close