Fasilitasi Nasib Tukang Bangunan, Aplikasi Tukangharian.id Diluncurkan

“Dan jelas bahwa negara kita ini sedang darurat radikalisme. Tidak puas di Pilkada DKI, mereka gempur lagi melalui Pilpres. Tak berhasil juga mereka tidak berhenti sampai di situ. Lihat, betapa banyak isu-isu yang mereka tunggangi untuk memecah-belah NKRI, kasus di Papua misalnya yang masih hangat dalam ingatan kita,"

Fasilitasi Nasib Tukang Bangunan, Aplikasi Tukangharian.id Diluncurkan

Selain itu juga Haidar menjelaskan, tukang yang dimaksud juga bukan tukang bangunan saja. Aplikasi tukangharian.id masih terus mengembangkan spesifikasi profesi tukang, mulai dari tukang cuci, tukang rias, tukang bangunan, tukang listrik, tukang air, tukang las, hingga tukang masak.

“Nah, di aplikasi itu ada listnya. Tinggal buka aplikasi dan lihat itu banyak jenis tukangnya lalu nanti bayarnya di TuPay atau Tukang Payment. Dan di aplikasi kita juga akan masukkan fitur misalnya toko bangunan dan sebagainya. Nanti bayaran tukang ini langsung masuk ke ATM,” ujar Haidar

Para tukang ini memiliki wadah organisasi yaitu Dewan Pertukangan Nasional (DPN) Perkasa yang kini dipimpin Muhammad Kuswandi Amin. Dalam kesempatan yang sama Muhammad Kuswandi mengatakan organisasi DPN yang akan mengurus kesejahteraan para tukang seperti BPJS dan fasilitas lainnya.

“Termasuk fasilitas untuk anak istri tukang karena DPN sifatnya sebagai organisasi,” kata Muhammad Kuswandi.

Untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi para tukang, DPN Perkasa akan memberikan sertifikasi dan standar tertentu agar tukang yang memberikan layanan memang kompeten serta menghindarkan dari komplain.

Fasilitasi Nasib Tukang Bangunan, Aplikasi Tukangharian.id Diluncurkan

Peresmian dan peluncuran tukangharian.id.

“Kami sudah hitung dan perkirakan semuanya. Lewat aplikasi ini setiap kerja atau orderan datang dan disetujui, maka uang langsung masuk ke rekening. Dengan aplikasi ini tukang bisa kerja fleksibel. Pagi antar anak lalu jam 10 baru terima pesanan sampai sore,” tambah Kuswandi

Muhammad Kuswandi memperkirakan, jika satu orang tukang mendapat orderan tiga sampai lima perhari, itu sudah sampai Rp 400 ribu atau Rp 500 ribu.

“Kesejahteraan tukang itu belum diperhatikan oleh pemerintah sehingga kami akan backup. Untuk tahap awal tukang-tukang di kecamatan se-Jabodetabek kita kumpulkan dulu. Sudah ada korwil masing-masing yang akan bergerak sosialisasi aplikasi sampai edukasi menggunakan ponsel.” pungkasnya.

Sebelumnya, Dewan Pembina Perkumpulan Tukang Bangunan Seluruh Indonesia (PERKASA), Haidar Alwi mengatakan bahwa pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan para tukang bangunan.

Saat ini, tukang bangunan di Indonesia yang berjumlah sekitar 17 juta orang masih berada dalam kelas ekonomi menengah ke bawah. Bahkan, tidak sedikit yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Selain memiliki peranan penting dalam pembangunan infrastruktur, rendahnya kesejahteraan para tukang bangunan menyebabkan mereka rentan terpapar paham radikal.

Ke Pages Berikutnya

A. Chandra S.

Pages: 1 2 3 4