Dua Wanita Ini Mengaku Dilecehkan Trump Dengan Kasus Skandal Cabul

Dua wanita mengaku bahwa Donald Trump telah melecehkannya dengan tindakan pencabulan.

Dua Wanita Ini Mengaku Dilecehkan Trump Dengan Kasus Skandal Cabul

Telegraf, New York – Dua wanita mengaku bahwa Donald Trump melecehkan dan “menyentuh mereka di area yang tidak pantas”, hanya beberapa hari setelah rekaman suara menunjukkan Trump berkata cabul terungkap ke publik. Pengakuan kedua wanita ini dinilai dapat menghancurkan citra calon presiden Amerika Serikat dari partai Republik itu, empat minggu menjelang pilpres.

Setelah rekaman suara Trump berisi perkataan yang merendahkan wanita tersebar pekan lalu, Trump menuliskan permintaan maaf kepada keluarganya dan kepada warga AS. Dalam debat dengan rivalnya, Hillary Clinton, Minggu (9/10), Trump menyatakan bahwa itu hanyalah omongan belaka, dan dia bersumpah tidak pernah merendahkan wanita.

Mendengar pernyataan Trump tersebut, Jessica Leeds, mengaku berang karena menurutnya taipan real-estate itu telah berbohong kepada warga AS. “Saya ingin memukul layar [televisi],” katanya.

Leeds, 74, merupakan satu dari dua wanita yang memutuskan untuk mengungkapkan pengalaman memalukannya ketika dia dilecehkan Trump, lebih dari tiga dekade lalu. Dalam wawancara dengan New York Times pada Selasa (12/10), Leeds menyatakan pelecehan itu terjadi ketika dia beradasatu pesawat dengan Trump dalam penerbangan menuju New York.

Leeds mengaku saat itu ia berusia 38 tahun, belum pernah bertemu dengan Trump, ataupun mengenali pengusaha muda yang baru merintis perusahaanreal-estate itu. Setelah beberapa menit pesawat lepas landas, seorang pramugari mengundangnya untuk duduk di kursi kosong di kelas pertama, di sebelah Trump. Menurut penulusuran NYT, saat itu Trump belum memiliki jet pribadi.

Leeds kemudian memperkenalkan diri dan berjabat tangan dengan Trump. Mereka berbasa-basi, dan Trump bertanya apakah dia sudah menikah. Leeds mengaku bahwa ia sudah bercerai.

Sekitar 45 menit setelah lepas landas, ingat Leeds, Trump kemudian mengangkat sandaran tangan di kursi pesawat, dan mulai menyentuhnya. Menurut Leeds, Trump meraba payudaranya dan mencoba untuk menempatkan tangan di atas roknya.

“Saya marah dan terguncang. Dia seperti gurita. Tangannya di mana-mana,” ujar Leeds, dalam wawancara di apartemennya di New York City.

Leeds kemudian segera melarikan diri ke belakang pesawat. “Itu sebuah serangan,” serunya.

Leeds menceritakan pengalamannya itu kepada setidaknya empat orang yang dekat dengannya. Namun saat itu, Leeds mengaku tidak melaporkan perlakuan Trump kepada staf maskapai, karena perlakuan buruk pria terhadap wanita pada dekade 1970-1980an kerap dinilai wajar.

“Kami menerima hal itu selama bertahun-tahun. Kami selalu diajarkan itu adalah kesalahan kami,” ujarnya.

Wanita lainnya, Rachel Crooks dari Ohio, mengaku ia mengalami pengalaman memalukan serupa dengan Trump pada 2005, ketika dia berusia 22 tahun dan bekerja sebagai resepsionis di Bayrock Group, sebuah perusahaan investasi dan pengembangan yang berkantor di Trump Tower di Manhattan.

Saat itu, dia bertemu Trump di luar lift, dan berusaha bersikap ramah dengannya di dalam lift karena tahu bahwa Trump merupakan mitra bisnis perusahaan tempatnya bekerja. Ia memperkenalkan diri kepada Trump, namun Trump kemudian enggan melepaskan tangannya.

Sebaliknya, ia mulai mencium pipinya. Kemudian, aku Crooks, Trump “mencium saya langsung di mulut.”

Crooks mengaku kejadiaan itu tidak merasa seperti kejadian yang tidak disengaja. “Itu sangat tidak pantas. Saya sangat marah bahwa dia berpikir saya sebegitu rendahnya sehingga ia bisa melakukan itu.”

Seperti Leeds, Crooks hanya menceritakan pengalaman itu kepada sejumlah orang, termasuk saudarinya, Brianne Webb, dan kekasihnya saat itu, Clint Hackenburg.

“Saya rasa, yang lebih memalukan adalah perasan bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa ketika dia [Trump] menciumnya, ketimbang ciuman itu sendiri. Dia baru berusia 22 tahun, baru bekerja sebagai sekretaris setelah lulus kuliah,” ujar Hackenburg.

“Saya ingat dia menangis sembari berkata, ‘Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena pria ini Donald Trump’,” katanya.

Trump Bantah Tudingan Pelecehan

Dalam wawancara dengan New York Times melalui telepon, Trump membantah pengakuan dua wanita tersebut.

“Tidak ada satupun dari tudingan itu yang pernah terjadi,” katanya, sembari menyebut bahwa media hanya mengarang cerita tersebut untuk merusak citranya.

“Kalian manusia yang menjijikkan,” ujarnya kepada reporter NYT, sembari menegaskan ia akan menuntut media AS itu.

Ketika ditanya apakah dia pernah mencium atau meraba perempuan seperti yang dia katakan di dalam rekaman suara yang beredar, Trump sekali lagi berkata,”Saya tidak melakukannya. Itu semua hanya omongan belaka.”

Crooks dan Leeds tidak pernah melaporkan perilaku Trump kepada pihak yang berwenang, namun menceritakannya kepada keluarga masing-masing. Keduanya mengaku baru mengungkapkan hal ini ketika Trump mencalonkan diri sebagai presiden AS. (red/ama)

Foto : Capres Amerika dari Partai Republik Donald Trump dilaporkan melecehkan wanita, hanya beberapa hari setelah rekaman suara cabul Trump tersebar. | Jessica Kourkounis/Getty Images

KBI Telegraf

close