Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Melalui Kolaborasi Menciptakan SDM Handal

"Di masa pandemi saat ini dalam pertumbuhan ekonomi juga kita lihat 5 mesin pengerak ekonomi apakah itu konsumsi menurun, belanja pemerintapun menurun ekspor menurun begitu juga impor menurun, perlu adanya gerakan bersama sama masyarakat bagaimana memutar kegiatan ekonomi dan industri apakah itu industri besar, sedang maupun kecil maupun industri pedesan, untuk kembali menormalkan roda perekonomian"

Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Melalui Kolaborasi Menciptakan SDM Handal

Telegraf – Pandemi covid-19 berimbas ke seluruh negara, bukan saja indonesia, laju pertumbuhan ekonomi tersendat di seluruh belahan dunia. Tetapi untuk Indonesia pada triwulan III sudah menunjukan trend positif, ini membuat optimis masyarakat Indonesia bisa keluar dari efek Covid -19 yaitu perlambatan ekonomi.

“Di masa pandemi saat ini dalam pertumbuhan ekonomi juga kita lihat 5 mesin pengerak ekonomi apakah itu konsumsi menurun, belanja pemerintapun menurun ekspor menurun begitu juga impor menurun, perlu adanya gerakan bersama sama masyarakat bagaimana memutar kegiatan ekonomi dan industri apakah itu industri besar, sedang maupun kecil maupun industri pedesan, untuk kembali menormalkan roda perekonomian,” Founder & CEO IBIMA, Made Dana Tangkas, MSi menerangkan dalam Webinar Insan Bisnis dan Industri Manufaktur Indonesia (IBIMA), Jumat (20/11).

Dana Tangkas mengatakan IBIMA saat ini hadir sebagai aggregator & integrator dan think tank bisnis serta industri melalui program-program unggulan untuk bisa memacu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam upaya membantu ekonomi untuk bangkit dan tumbuh di tengah krisis, dan upaya recovery & rebuild secara mandiri, dengan mengoptimalkan seluruh local resources di Indonesia, di antaranya melalui pemberian dukungan terhadap IKM, UMKM, Koperasi dan upaya riset & inovasi serta pengembangan Bisnis & Industri di masa pandemi.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko SA Cahyanyo menyambut baik program program yang diadakan oleh IBIMA industri tidak hanya bergantung terhadap investasi, serta teknologi, tetapi ada yang lebih penting dari itu yaitu SDM.

“Negara manapun yang maju lebih tergantung kepada SDMnya, sumber daya alam itu faktor kesekian dalam mendukungnya,” tuturnya.

Lanjutnya kita ingin menciptakan skill-skill sehingga bisa membawa industri bertransformasi, mulai dari CEO hingga fronlinernya untuk memiliki kesepahaman yang sama. Selain itu juga mentransformasi industri terutama industri kecil menengan bisa masuk ke 4.0.

Eko mengungkapkan, implementasi making Indonesia 4.0 akan mempercepat pembangunan sektor industri yang berdaya saing global. Sehingga dapat mewujudkan asa Indonesia berada menjadi 10 negara ekonomi terbesar pada tahun 2030.

Dengan itu butuh bimbingan mentoring untuk diharapkan banyak merangkul banyak pihak sehingga bisa bersama sama mentransformasi industri. Sementara industri itu tergantung dengan inovasi tanpa inovasi tidak akan bisa bertahan dan berdaya saing.

“Saya berharap kita semua bersama sama bisa mewujudkan ini semua, melalui 4.0 kita bisa memetakan industri dari mana, dan bisa membuat ekosistem industri 4.0 dan melibatkan seluruh stakeholder,” kata Cahyanyo. (AK)


Photo Credit: Sejumlah mahasiwa jurusan desain manufaktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mengerjakan pengelasan Oxcygen Acetylene Welding/ANTARA FOTO/Moch Asim

 

Atti K.