Dampak Diplomasi Sangat Luas

Dampak Diplomasi Sangat Luas

“Akhir ferbruari akan dilakukan beberapa diplomat ekonomi dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Vietnam adakan pertemuan di NaTrang Vietnam, dan juga beberapa pakar dari IPB, dalam rangka meneruskan diplomasi penting soal Development Products (DevPro) di forum APEC"

Dampak Diplomasi Sangat Luas


Telegraf, Jakarta – Bayu Krisnamurthi mantan Wakil Menteri Perdagangan RI 2011-2014 mengatakan diplomasi sering bekerja dalam senyap, padahal dampak dari diplomasi tersebut apakah berhasil atau tidak itu sangat luas.

“Akhir ferbruari akan dilakukan beberapa diplomat ekonomi dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Vietnam adakan pertemuan di NaTrang Vietnam, dan juga beberapa pakar dari IPB, dalam rangka meneruskan diplomasi penting soal Development Products (DevPro) di forum APEC,” Bayu menuturkan.

Dalam peratemuan DevPro mendatang Bayu menjelaskan akan membahas berbagai produk yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif melalui pembangunan  pedesaan dan pengurangan kemiskinan (RDPA/rural development and poverty alleviation).

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat khususnya yang berpendapatan kelompok miskin, petani dan nelayan kecil, dan masyarakat pedesaan, bahkan sebaliknya jika dihambat akan berdampak buaruk bagi kesejahteraan kelompok masayarakat tersebut.

Sayangnya diplomasi yang dilakukan dari tahun 2013 ini belum menunjukan tanda tanda kemajuan yang signifikan, dimana saat ini 7%-20% penduduk negara-negara maju (developed economies) APEC dan 20%-60% penduduk negara-negara sedang berkembang (developing economies) APEC tinggal di pedesaan.

Padahal dosen Agribisnis IPB ini menegaskan “Ekspor Indonesia untuk 157 produk DevPro ke APEC mencapai USD13,6 miliar (13% dari total seluruh ekspor Indonesia ke APEC), dan ekspor Indonesia untuk 157 produk ke seluruh dunia mencapai USD28,2 miliar (18,7% dari total seluruh ekspor Indonesia)”.

Lebih lanjut Bayu mengatakan seperti di Papua Nugini 87% penduduknya tingal di pedesaan begitu juga di Vietnam yang mencapai 67%, bahkan pada beberapa negara APEC 80% penduduk miskinnya tinggal di pedesaan, di sisi lain sebagian besar penduduk miskin di dunia tinggal di pedesaan.

Pertemuan di Vietnam ini akan fokus membahas dari 157 produk yang sudah disepakati, 15 produk di antaranya adalah usulan Indonesia antara lain perikanan (2 produk/kode HS), sawit (4 produk), karet (1 produk), rotan (3 produk), dan kertas (5 produk), dan Indonesia bukan saja melakukan ekspor untuk 15 produk yang diusulkan tersebut, tetapi juga mengekspor hampir seluruh 157 jenis produk yang telah disepakati.(Red)

Credit Foto : Atti Kurnia


 

Atti Kurnia

close