Cukai Rokok Bakal Naik Lagi?

“Kami melihat ada kemungkinan untuk menaikkan cukai lagi,”

Cukai Rokok Bakal Naik Lagi?

Telegraf, Jakarta – Kementerian Keuangan berencana menekan konsumsi rokok dengan menaikkan harga cukai. Sejak 1 Januari lalu, pemerintah memberlakukan tarif cukai rokok rata-rata 10,54 persen dan mengerek harga jual eceran rokok melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 179/PMK.011/3012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

“Kami melihat ada kemungkinan untuk menaikkan cukai lagi,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara.

Konsultan Dewan Jaminan Sosial Nasional, Hasbullah Thabrany, mengatakan wajar jika semua lembaga berupaya menekan konsumsi rokok. Sebab, mengisap rokok sama dengan menyedot jatah anggaran negara untuk masa depan. Jika terus dibiarkan, generasi mendatang harus merogoh kantong lebih dalam untuk membiayai pelayanan kesehatan.

“Ancaman yang tangible itu biaya berobat makin mahal, dan yang intangible adalah usia harapan hidup lebih rendah,” katanya.

Situasi ini, kata Hasbullah mengingatkannya pada Inggris puluhan tahun silam. Ketika itu, warga Inggris begitu banyak yang kecanduan mengisap tembakau. Hingga akhirnya saat ini pemerintah kesulitan mengendalikan dampak penyakit yang ditimbulkan rokok bertahun-tahun kemudian. “Inggris sekarang babak belur. Makanya mereka sekarang sangat aktif melarang merokok di seluruh negeri.”

Menurut Hasbullah, penyakit yang berkaitan dengan rokok paling membebani JKN. Dia menyebut empat jenis penyakit katastropik mengambil jatah 25 persen dari total biaya klaim JKN. Padahal ada 1.200 jenis penyakit yang mesti ditanggung.

Adapun Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengungkapkan manfaat ekonomi dari cukai rokok tidak ada artinya dalam jangka panjang. Dia memberi ilustrasi, pendapatan dari cukai rokok bisa mencapai Rp 115 triliun setahun, “Tapi apakah manusia yang sakit dan meninggal bisa digantikan oleh nilai uang itu.” (Red)

Baca Juga :   Apa Rahasia SPBU Pertamina Bisa Hemat Biaya Listrik?

Photo credit : Ist. Photo


Tanggapi Artikel