Cegah Radikalisasi, Para Aktivis Muda Dirikan Ormas Tantra

Cegah Radikalisasi, Para Aktivis Muda Dirikan Ormas Tantra

“Ormas Tantra sangat tepat kelahirannya karena diinisiasi oleh anak muda muda dan hadir ditengah situasi menyebarnya aliran radikalisme yang sudah tumbuh."


Telegraf, Jakarta –Radikalisasi merupakan momok masalah yang masih kerap terjadi di Indonesia dan seringkali para pemuda tanah air terjebak di dalamnya. Guna mencegah kaum muda agar tidak terjerumus dalam pemahaman yang cenderung ekstrimis, ORMAS TANTRA (Tenaga Anti Radikalisasi) Indonesia lahir dengan harapan dapat merawat kebhinekaan dan kebangsaan serta kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ormas Tantra sangat tepat kelahirannya karena diinisiasi oleh anak muda muda dan hadir ditengah situasi menyebarnya aliran radikalisme yang sudah tumbuh. Sebagai fasilitator saya sangat bangga atas kelahiran Ormas ini serta optimis Tantra Indonesia dapat mencegah tumbuhnya aliran radikalisasi demi keberlangsungan NKRI,” Ujar Ir. H. Laksamana Sukardi selaku Ketua Dewan Pengawas Ormas Tantra Indonesia usai peluncuran aplikasi Tantra Indonesia serta penandatanganan akte notaris pendirian Tantra Indonesia, di Jakarta Senin (5/2).

Sukardi juga menuturkan bahwa Tantra adalah wadah bagi anak muda yang yang concern terhadap kelangsungan negara Republik Indonesia. Terlebih lagi, belakangan ini aliran radikalisme kian bertumbuh dan sangat mengkhawatirkan, sehingga kelahiran Ormas Tantra ini sangat tepat.

“Untuk itu saya optimis dengan para anak muda Tantra mampu dan dapat terus mendefinisikan tentang adanya perbedaan pendapat atau radikalisasi,” tuturnya.

Ir. H. Laksamana Sukardi memaparkan bahwa Ormas Tantra Indonesia yang diinisiasi oleh para aktivis muda ini dapat mencegah tumbuhnya aliran radikalisasi demi keberlangsungan NKRI mengingat belakangan ini aliran radikalisme kian bertumbuh dan sangat mengkhawatirkan.

Dia juga menambahkan bahwa masyarakat harus berhati-hati karena tidak semua perbedaan atau kebhineka ragaman disebut radikal. Pasalnya, berbeda agama atau pendapat serta aliran itu bukan radikal, terkecuali jika tindakannya kemudian telah memaksa orang lain mengikuti aliran tersebut dan kemudian bertindak kekerasan. Karena agama kata Sukardi, tidak mengajarkan untuk membunuh orang tetapi mengajarkan hidup berdampingan dengan damai.

Perlu diketahui, dalam acara tersebut juga turut hadir Teos Polmes (Politikus Senior), Haris Fadillah S.Sos, MSi (wartawan senior) dan Dr. M. Imdadun Rahmat, M.Si. (ahli Masalah Radikalisme/mantan Ketua Komnas HAM) selaku Anggota Dewan Pengawas DPP Tantra. Serta Ketua Umum DPP Tantra, Yaman Muharam dan Karen Ezana selaku Sekretaris Jenderal, juga berbagai utusan aktivis Pengurus DPW/DPD Tantra dari berbagai daerah Jakarta, Bogor, Bandung, Depok Hingga Papua. (Red)

 

Photo Credit : Para aktivis muda Ormas Tantra berfoto bersama seusai acara. | Ist/Dok.Tantra

A. Chandra S.

close