Cangkang dan Bungkil Sawit Mulai Mengeliat Untuk Ekspor

“Selama ini dikita cangkang itu limbah, dibuang tidak ada nilainya, disana untuk bahan bakar di campur dengan batu bara”

Cangkang dan Bungkil Sawit Mulai Mengeliat Untuk Ekspor


Telegraf, Jakarta – Potensi bisnis kelapa sawit ditahun tahun mendatang diperkirakan akan menikmati masa jaya, tidak hanya Minyak Sawit Mentah (CPO), cangkang dan bungkil yang selama ini dianggap sampah justru tengah diburu oleh negara-negara maju seperti Jepang dan Korea sebagai bahan pembangkit listrik biomassa.

“Selama ini dikita cangkang itu limbah, dibuang tidak ada nilainya, disana untuk bahan bakar di campur dengan batu bara,” Mantan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi usai menghadiri bakti sosial di Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Bogor 4/2/17.

Bayu menjelaskan untuk sekarang harga cangkang kosong itu per ton adalah 40 US$ dan akan terus bergerak naik ini menunjukan pangsa pasar (market share) kedepan akan terus meningkat, “Very very good business,” ujarnya.

Bahkan untuk permintaan ekspor ke Jepang dan Korea untuk cangkang dan bungkil mencapai 30 juta ton per tahun untuk biomassa, belum lagi untuk permintaan bahan bakar nabati dan olichemical seperti untuk sabun dan kosmetik.

Sementara ini Bayu mengatakan dari permintaan jumlah ekspor tersebut Indonesia baru bisa memenuhi ±5,1-5,2 juta ton per tahun, jadi potensi pasr untuk cangkang dan bungkil kelapa sawit ini sangat terbuka lebar. Untuk bisa memenuhi permintaan ekspor yang cukup banyak Bayu menegaskan harus melakukan peningkatan tangki timbun dan replanting.

Belum lagi permintaan ekspor Amerika yang saat ini masih dikisaran 800-1 juta ton, setara CPO, Karena pasar eropa masih didominasi untuk biodiesel, belum lagi nanti jika untuk permintaan minyak goreng, pasti akan meningkat seiring peringatan dari Food and Drug Administration (FDA) United Of America salah satu otoritas keamanan pangan yang paling di rujuk di dunia, yang mana menerangkan minyak goreng dari kelapa sawit tidak memiliki zat yang berbahaya yaitu Trans Fat.

Baca Juga :   Harga Daging Sapi Dibatasi, Tidak Boleh Lebih Dari Rp130.000

“Food and drugs administration United state of america, itu salah satu otoritas keamanan pangan yang paling dirujuk di dunia, telah menyatakan bahwa minyak goreng sawit itu tidak memiliki zat yang berbahaya yang dikenal sebagai transfat, dan FDA justru telah mengeluarkan warning konsumsi minyak goreng yang mengandung transfat, dan yang paling banyak mengandung transfat adalah minyak kedelai,” Bayu menambahkan. (Red)

Credit Foto :  Isw Group


 

Atti Kurnia

close