Bushra Jamal Ath-Thawil Seorang Jurnalis Yang Pernah Ditawan Israel Tanpa Alasan

"Menjadi seorang wartawan harus menyampaikan kejadian secara obyektif, menjelaskan kepada khalayak ramai adalah menjadi wartawan yang diidam-idamkan. Wartawan yang ideal adalah bagaimana melihat, mendengar dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, dengan profesi wartawan saya dapat menyaksikan pelanggaran verbal, fisik , perampasan tanah, penghancuran bangunan, rumah, dan juga perampasan kamera dll yang dilakukan tentara Israel”

Bushra Jamal Ath-Thawil Seorang Jurnalis Yang Pernah Ditawan Israel Tanpa Alasan

Telegraf – Bushra Jamal Ath-Thawil (22), seorang wartawan perempuan Al Quds yang ingin meyampaikaan kebenaran. Bushra panggilan akrabnya memilih menjadi wartawan yang di latarbelakangi kisah kelam keluarganya bahkan dirinya yang ditawan oleh militer Israel tanpa alasan atau dakwaan apapun.

Sejak lahir sampai usianya 6 bulan, ayah Bushra dideportasi. Kemudian dalam kurun waktu 14 tahun, ayahnya ditangkap sebanyak delapan kali sebagai tahanan administratif. Penangkapan tahanan administratif adalah sebuah kondisi yang dianggap darurat, yang mana negara dapat memberlakukan undang-undang darurat sehingga militer Israel memiliki hak menangkap siapa saja tanpa alasan atau dakwaan apapun. Bahkan pengacara tidak bisa memberikan bantuan hukum karena tuduhannya tidak jelas.

“Menjadi seorang wartawan harus menyampaikan kejadian secara obyektif, menjelaskan kepada khalayak ramai adalah menjadi wartawan yang diidam-idamkan. Wartawan yang ideal adalah bagaimana melihat, mendengar dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, dengan profesi wartawan saya dapat menyaksikan pelanggaran verbal, fisik , perampasan tanah, penghancuran bangunan, rumah, dan juga perampasan kamera dll yang dilakukan tentara Israel,” ungkapnya dalam konfrensi pers melalui zoom meeting yang di gagas oleh dara Relief Internasional (sebuah organisasi kemanusiaan yang memiliki fokus dalam membantu anak-anak dan perempuan Palestina), Rabu (4/10).

Bushra menceritakan pemberitaan yang terkait dengan Palestina wartawannya akan dihukum , dikenakan tahanan berbulan – bulan bahkan bertahun – tahun tanpa tuduhan yang tidak jelas. Selama ini, masih sering dilakukan bentuk bentuk intimidasi kepada keluarganya untuk kerjasama menghentikan aktifitasnya sebagai wartawan. Pihak Israel kerap membujuk untuk bekerjasama agar tidak menjalankan aktivitasnya sebagai jurnalis. Bahkan ketika ayah ibunya ditangkap dan ditawan Busro mengaku tidak diperkenankan untuk mengunjungi.

“Jangankan berita tentang tawanan, sesuatu tentang Palestina misalnya Al-Aqsa dll banyak orang tidak tahu, Hukum internasional tidak boleh menangkap orang atau wartawan yang memberitakan sesuatu yang benar-benar terjadi, tapi itulah yang terjadi diPalestina,”kata Bushra.

Ia berharap media media di luar Palestina khususnya di Indonesia bisa bekerja sama menjadi penyambung informasi tentang realita, persoalan penderitaan yang terjadi agar sampai ke seluruh penjuru dunia, semakin banyak media yang mengedukasi dan memberitakan kebenaran “karena menulis untuk Palestina berarti menulis untuk keadilan,” ungkapnya.

Sri Vira Chandra selaku Ketua Adara menceritakan mengenai pernyataan seorang wartawan senior Inggris, Dr. Yvonne Ridley, mengenai revolutionary act of the journalist yang menginspirasi. “Generasi-generasi yang akan datang selalu mencari info-info terbaru yang lebih valid. Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menulis ulang sejarah yang diputarbalikan. Tulisan kita saat ini menjadi referensi bagi generasi ke depan tentang fakta yang terjadi di Palestina.” tambah Sri Vira. (AK)


Photo Credit: Bushra Jamal Ath-Thawil (22) saat konfrensi pers melalui Zoom meeting, Rabu (4/11). TELEGRAF/Dok

 

Atti K.