BSN Review Standarisasi Kontruksi

BSN Review Standarisasi Kontruksi

"Catatan pentingnya adalah standar produk / barang sudah sangat banyak dikembangkan, tetapi standar personal, proses dan sistem industri konstruksi masih belum kontekstual dengan perkembangan praktek baik di sektor konstruksi, seperti lean construction, green construction, constructability, and project development partners"

BSN Review Standarisasi Kontruksi


Telegraf, Jakarta – Banyaknya peristiwa robohnya kontruksi bangunan akhir akhir ini, Badan Standarisasi Nasional (BSN) lakukan Review stadar standar terkait kontruksi dan penerapannya.

Kepala BSN Bambang Prasetya mengatakan diperlukan pemutakhiran standar-standar terkait konstruksi dan kemudian memastikan penerapannya dilapangan melalui sistem penilaian kesesuaian sesuai amanat UU 20 Tahun 2014 dan UU No. 2 Tahun 2017.

“Catatan pentingnya adalah standar produk/barang sudah sangat banyak dikembangkan, tetapi standar personal, proses dan sistem industri konstruksi masih belum kontekstual dengan perkembangan praktek baik di sektor konstruksi, seperti lean construction, green construction, constructability, and project development partners,” ungkapnya usai workshop standar keselamatan kontruksi di Jakarta, Kamis, (01/02/2018)

Bambang menjelaskan tidak terbatas pada evaluasi menyeluruh standar-standar untuk keselamatan konstruksi, dan formulasi bagaimana menyelesaikan perbaikan atau pemutakhiran standar-standar industri konstruksi.

“Standardisasi industri konstruksi itu bukan industri bahan bangunan tetapi industri yang menghasilkan bangunan baik infrastruktur maupun properti seperti jalan, jembatan, bandara, bendung, bendungan, pelabuhan, jalan rel, pembangkit listrik, offshore structure, gedung perkantoran, gedung hunian, rumah tinggal, pabrik, dan gedung khusus lainnya,” kata Bambang.

Untuk inilah Standarisasi Industri Kontruksi sangat penting, dimana BSN akan mendorong prinsip One Nation One Sertification System (ONOSS)

Selain itu BSN bersama DJBK Kementerian PUPR juga akan mendorong adanya kebijakan sistem kelembagaan penilaian kesesuaian di lapangan atau compliance to standar di industri konstruksi, serta mendorong para pelaku industri konstruksi melaksanakan adanya pelatihan-pelatihan quality assurance system termasuk quality control di industri konstruksi.

Bambang menambahkan mebentuk tim perumus standarisasi ndustri kontruksi yang melibatkan plraktisi dan akademisi dalam jangka waktu 3 bulan kedepan yang diharapkan menghasilkan standar proses dan sisitem untuk pekerjaan elevated structure yang berisiko tinggi terhadap kecelakaan konstruksi

“Sebagai wujud konkrit sinergi K/L dan prinsip menunjukan dan memastikan “negara hadir” untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tanpa cacat, tanpa gagal, tanpa kecelakaan sehingga standardisasi dan penilaian kesesuaiannya akan memastikan infrastruktur berhasil dibangun lebih cepat dan lebih banyak serta berkualitas, bermanfaat dan berkelanjutan,” kata Bambang

Bambang juga menjelaskan dari proses review standar suatu produck yang umum itu 6-7 bulan tetapi bisa dipercepat yaitu menjadi 4-5 bulan sudah goal. (Red)


Photo Credit : Soekartono Soewarno Ahli Standar Konstruksi/Anggota Konsil KAN BSN,  Kepala BSN Bambang Prasetya Budi Setiawan Kasubdit Mutu Konstruksi KemenPUPR, Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi BSN Zakiyah, Panani Kesai Pakar Industri Konstruksi, usai melakukan konfrensi pers. (ki-ka). | Telegraf/Atti Kurnia

Atti K.

close