Bonus Demografi Yang Terus Menerus

“Banyak pihak keliru menilai Indonesia menghadapi bonus demografi akan terjadi 30 tahun mendatang,”

Bonus Demografi Yang Terus Menerus

Telegraf, Jakarta  – Negara Indonesia mengalami bonus demografi yang cukup panjang. Namun sayang, bonus itu saat ini belum bisa dinikmati. Pasalnya, usia produktif penduduk yang berada di kisaran bonus demografi rata-rata pendidikannya masih rendah. Indonesia perlu mewaspadai dan meng-upgrade pendidikan anak bangsa, agar bonus demografi memberikan keuntungan di kemudian hari.

Mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Haryono Suyono, saat dikunjungi di ruang kerjanya di bilangan Kalibata Jakarta Selatan mengatakan sebenarnya Indonesia mengalami bonus demografi sejak tahun 1990. “Banyak pihak keliru menilai Indonesia menghadapi bonus demografi akan terjadi 30 tahun mendatang,” terang Haryono Suyono, di Jakarta, (07 12/ 2017).

Bonus demografi pertama, terang Haryono Suyono, terjadi di DKI Jakarta, termasuk di kota besar di Jawa, Sulawesi Utara dan Sumatera Barat. Dikota yang program Keluarga Berencananya (KB) berhasil menekan angka kematian ibu dan anak. Dengan begitu, generasi usia 5-15 tahun terus meningkat. “Piramida penduduk tiap tahun bergeser seperti balon mengecil di bawah, membesar diatas,” terangnya.

Namun saat ini trendnya, bergesar ke pedesaan. Pembengkaan penduduk usia produktif terjadi di pedesaan. “Tahun 1990 awal tahun 2000 hampir seluruh penduduk di DKI dan Jawa Timur sudah mengalami bonus demografi,” tambah Kepala BKKBN yang terkenal dengan program KB era Presiden Soeharto.

Di tahap awal bonus demografi, rata-rata pendidikan rendah dan merembet ke provinsi lain yang juga menghadapi pendidikan yang rendah. Seharusnya memberikan keuntungan, kelimpahan tenaga kerja muda itu masih tetap minim kompetensi, berkutat pada pekerjaan kasar dan sederhana. “Akhirnya industri besar, tenaga kerjanya didominasi tenaga kerja asing,” terang Haryono Suyono.

Bonus demografi tahun 1990, 2000 hingga tahun 2014, masih menghadapi minimnya pendidikan. Jadi pada saat awal bonus demografi Indonesia belum terlalu menguntungkan bangsa ini. Sekarang mulai disadari banyak bonus demografi itu tidak memnguntungkan usaha besar.

Presiden Joko Widodo, terang Haryono Suyono telah mengambil ancang-ancang dengan pembangunan pedesaan dan mengalirkan dana ke pedesaan secara besaran. Konsep ini akan merubah desa menjadi kota yang penuh dengan industri dan perdagangan. Tidak hanya itu, program dana desa juga untuk menyerap bonus demografi yang terjadi di desa.

Dulu terjadi di perkotaan, sekarang bergeser ke pedesaan. Mulai tahun 2000 terjadi revolusi demografi besar-besaran. “Peserta KB tinggi merambah ke desa, tingkat kematian rendah, sehingga struktur penduduk menjadi dewasa,” terang Mantan Menko Kesra Kabinet Reformasi Pembangunan.

Terhitung langkah ini terlambat, tidak dilakukan oleh Presiden sebelumnya. Era Presiden SBY, tidak ada kebijakan seperti itu, yang ada memberikan bantuan tunia langsung, yang menguap begitu saja. Saat ini dana yang digelontorkan ke desa sudah mencapai Rp 60 triliun tiap tahunnya, untuk membiayai program padat karya dan menyerap bonus demografi.

Makanya, Haryono berpesan jangan ada gonjang ganjing politik. Program dana desa harus dioptimalkan, menjadikan desa sumber pangan dan tenaga kerja berkualitas. “Konsep dana desa adalah revlusi besar jika berhasil, bisaa menikmati bonus demografi,” terangnya.

Baca Juga :   Kementrian PANRB Pindahkan 141 Pejabat Struktural Jadi Fungsional

Dapat Terus Bonusnya

Meski demikian, Haryono Suyono, prihatin melihat bonus demografi yang isinya tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi di pedesaan. Ini menjadi kendala ketika mendirikan prabrik secara besar-besaran. Dukungan tenaga kerjanya, masih rendah, sehingga yang dilakukan hanya hany kegiatan yang masih sederhana.

Meski demikian, upaya mengambil manfaat bonus demografi harus terus diupayakan. Membangun embung desa, misalnya untuk kegiatan pengairan sawah, harus diarahkan untuk pertanian modern, sehingga dengan sendirinya penduduk desa hasil bonus demografi bisa bekerja dibidang pertanian modern. “Kalau ini bisa dikerjakan secara massif maka bonus demografi di desa ada lapangan kerjanya meskipun masih disektor pertanian, atau industry pertanian ataupun perdagangan pertanian,” terangnya.

Konsep Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) harus terus dikembangkan untuk menyerap tenaga kerja muda yang berbisnis di pedesaan yang memiliki bonus demografi besar. Selain itu perusahaan antar desa digalakan secara besar-besaran untuk membuat modernisasi pertanian, perkebunan dan usaha lainnya di pedesaan. “Pada tingkat awal akan memakan tenaga besar, akan menyerap tenaga hasil bosnus demografi,” jelasnya.

Pemimpin daerah harus berpikiran dan terus menumbuhkan daerahnya menjadi pusat pertumbuhan pedesaan berbasis hasil pertanian dan perkebunan. Dismaping industri besar lainnya. Bahan baku dan pemasaran hasil olahan bisa dipasarkan antar desa, daerah. “Sehingga kerja sama antar desa dan daerah berkembang,” jelasnya.

Seperti beberapa waktu lalu, ada permintaan dari kerjaan Arab Saudi saat berkunjung ke Indonesia belum bisa dipenuhi. Raja Arab itu berkunjung ke sini meminta pasokan beras organik, namun Indonesia tidak mampu menyediakan. Ini menjadi peluang bagi usaha di desa untuk memproduksi beras organik. Jika ini hasil pertanian organik bisa digalakan, dan dikelola oleh perusahaan antar desa (Prudes), dan bekerjasama antar daerah sehingga kita bisa mengeksport.

Agar bonus demografi tidak keluar dari desa, maka desa harus dilengkapi sarana seni dan olah raga sebagai gaya hidup. Mereka bekerja di bidang pertanian, selepas kerja bisa menikmati olah raga futzal, atau hiburan yang tidak keluar dari desa. “Jika ini berjalan, bonus demografi tidak pindah ke kota. Bisa dirasakan masyarakat desa,” terangnya. Kalau toh pindah ke kota mereka akan menjadi pengangguran, tidak bisa kerja ke pabrik,” terangnya.

Bonus demografi di Indonesia akan berlangsung lebih lama. Sampai Indonesia 100 tahun nanti, bonus demografi akan berlangsung karena masih ada propinsi-propinsi yang belum masuk,  seperti NTT, Papua dan sebagainya. “Kita beruntung suplay tenaga muda tidak terjadi dalam serentak, namun berturut-turut yang tidak ada habisnya,” jelasnya.

Pasokan tenaga kerja silih berganti, saat ini diisi dari pulau jawa, nanti akan diisi dari pulau lain dan seterusnya. Maka beberapa waktu mendatang tenaga kerja akan berasal dari propinsi lain. “Jadi kita tidak akan kehabisan tenaga muda karena akan datang dari propinsi-propinsi yang baru mengalami bonus demografi,” tambahnya. (Atr)

Photo Credit : Antara


Tanggapi Artikel