Bob Dylan Terpilih Menjadi Peraih Nobel Sastra, Berikut Alasan Para Juri Kenapa Memilihnya

Bob Dylan Terpilih Menjadi Peraih Nobel Sastra, Berikut Alasan Para Juri Kenapa Memilihnya

"Hari ini, setiap orang, dari Bruce Springsteen hingga U2 berhutang pada Bob akan sebuah ucapan terimakasih,"

Bob Dylan Terpilih Menjadi Peraih Nobel Sastra, Berikut Alasan Para Juri Kenapa Memilihnya

Telegraf, Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, penulis dan penerbit memperbincangkan akan pemberian Nobel Sastra yang kerap mengusung pesan politis pada tokoh yang populer. Akan tetapi pemilihan tersebut kerap melenceng dan keluar dari tradisi sastra itu sendiri.

Seperti halnya saat penetapan Bob Dylan sebagai peraih Nobel Sastra yang diumumkan pada Kamis, juga dinilai demikian.

Ini bukan yang pertama kalinya penyerahan nobel membuat bias pada kategori sastra. Pada 1953, Winston Churchill menerima penghargaan yang sama, dengan alasan pidato politiknya yang bermuatan sastra, dan Academy menilainya sebagai ‘orator yang baik dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan’.

Tahun lalu, Nobel Sastra juga membuat kejutan ketika penhargaan diberikan pada jurnalis asal Belarusia, Svetlana Alexievich, akan karyanya dengan gaya bercerita naratif.

Dalam situs resminya, Swedish Academy beralasan, Dylan telah berkontribusi dalam menciptakan ekspresi sajak baru dalam lagu-lagu Amerika.

Mengutip New York Times, Sara Danius, peneliti sastra dan sekretaris tetap dari 18 anggota Academy menyebut Dylan sebagai ‘penyair hebat dalam tradisi lisan bahasa Inggris’.

Dylan juga disandingkan dengan Homer dan Sappho, yang karya-karyanya disampaikan secara lisan atau pengucapan.

Saat ditanyai, apakah pemberian nobel kategori sastra pada Dylan ini berarti memperluas definisi sastra, Danius mengatakan, ‘bisa jadi, waktu yang membuat segalanya berubah.”

Selain alasan di atas, Academy juga mengacu pada sejumlah album milik Dylan, yang dinilai memberi pengaruh besar terhdap dunia musik populer.

Di antaranya, album Bringing It All Back Home dan Highway 61 Revisited (1965), Blonde on Blonde (1966), Blood on the Tracks (1975), Oh Mercy (1989), Time Out Of Mind (1997), Love and Theft (2001) dan Modern Times (2006).

Total ada 38 album Dylan yang terjual lebih dari 125 juta kopi di seluruh dunia.

Academy menambahkan: “Dylan adalah ikon. Pengaruhnya terhadap musik kontemporer sangat besar, dan ia juga merupakan objek akan percepatan dari bentuk sastra kedua.”

Penghargaan Nobel menambah daftar panjang penghargaan yang diraih Dylan. Ia sebelumnya juga pernah meraih Grammy, Academy Awards dan Golden Globe Awards.

Dylan juga masuk dalam Rock and Roll Hall of Fame yang bergengsi pada 1988. Ia memenangkan Pulitzer Prize pada 2008 dan juga Presidential Medal of Freedom pada 2012.

“Hari ini, setiap orang, dari Bruce Springsteen hingga U2 berhutang pada Bob akan sebuah ucapan terimakasih,” ujar Presiden AS, Barack Obama dalam acara penyerahan penghargaan.

“Ini menjadi momen penting bagi sejarah musik Amerika. Dalam beberapa tahun mendatang, ia akan terus mencari bentuk musik baru, dan saya merupakan salah satu penggemar terbesarnya.” (rah/ist)

Foto : Bob Dylan sebagai salah satu ikon musik internasional yang dekat dengan syair dan sastra. | Reuters Photo

KBI Telegraf

close