BI: Rupiah Rp 13.900 Per Dolar Masih Undervalue

"Berdasarkan survei pemantauan harga minggu pertama bulan Februari, kami perkirakan pada bulan Februari ini, inflasinya adalah 0,07 persen month-to-month (mtm). Kalau year on year (yoy), 2,72 persen,"

BI: Rupiah Rp 13.900 Per Dolar Masih Undervalue

Telegraf, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa nilai tukar rupiah yang dalam beberapa hari terakhir terus menguat di kisaran Rp 13.900 per dolar AS masih terlalu murah (undervalue), dan mengindikasikan terdapat ruang penguatan dalam waktu ke depan.

Dikatakan Perry di Jakarta, Jumat (08/02/19), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan fundamental perekonomian yang terus membaik, seperti terlihat dari indikator inflasi, prospek pertumbuhan ekonomi 2019, dan juga neraca pembayaran.

“Secara hitung-hitungan fundamental, rupiah kita masih undervalue (terlalu murah), baik dari inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang akan lebih baik, dan juga NPI (neraca pembayaran Indonesia) yang lebih baik,” katanya.

Merujuk kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sejak Jumat (01/02/19), terus merangsek ke kisaran Rp 13.970 dari sebelumnya di Rp 14.072. Pada Jumat ini, kurs tengah BI menetapkan rupiah di Rp 13.992 per dolar AS. Adapun di pasar spot, Jumat pagi ini, kurs rupiah dibuka di level Rp 13.995 per dolar AS atau melemah 22 poin dibanding posisi sebelumnya Rp 13.973 per dolar AS

Menurut analis ekonomi Samuel Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, pada Jumat ini, nilai tukar rupiah kemungkinan bergerak melemah karena pesimisme yang kembali muncul pada pelaku pasar atas penyelesaian perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Kendati belum ada pernyataan resmi, tetapi Presiden Donald Trump menyatakan tidak ada pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping, seperti mengonfirmasi potensi kebuntuan pembicaraan mengenai kesepakatan dagang tersebut pada saat ini.

Inflasi Februari 2019 Capai 0,07 Persen

Bank Indonesia (BI) juga menyatakan, inflasi pada minggu pertama Februari 2019 tercatat 0,07 persen secara bulanan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi pada minggu pertama Januari 2019 sebesar 0,5 persen.

Baca Juga  Menhub Targetkan MRT Beroperasi Bulan Depan

“Berdasarkan survei pemantauan harga minggu pertama bulan Februari, kami perkirakan pada bulan Februari ini, inflasinya adalah 0,07 persen month-to-month (mtm). Kalau year on year (yoy), 2,72 persen,” kata Perry.

Perry mengatakan, berdasarkan hasil pantauan BI, semua harga komoditas penyumbang inflasi, terutama pangan masih relatif terkendali.

Ferry optimistis, inflasi sepanjang Februari kemungkinan akan lebih rendah dibanding Januari 2019 yang sebesar 0,32 persen. Dengan demikian, kata Perry, inflasi secara tahunan akan berada di bawah sasaran BI dan pemerintah sebesar 3,5 persen.

“Ini sekaligus mengkonfirmasi perkiraan kami bahwa inflasi akhir tahun kita perkirakan akan lebih rendah dari titik tengah sasaran inflasi yaitu 3,5 persen,” ungkapnya. (Red)


Photo Credit : Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (30/5). Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
Share



Komentar Anda