Bertindak Kontroversial, Trum Ingin Pindahkan Kedubes AS ke Yerussalem

"Dia mengatakannya dengan sangat jelas selama kampanye. Dan sebagai Presiden terpilih, saya mendengar dia mengulang kembali janjinya itu selama pertemuan tertutup setelah Pemilu,"

Bertindak Kontroversial, Trum Ingin Pindahkan Kedubes AS ke Yerussalem


Telegraf, New York  – Bukan Donald Trump namanya jika tidak melakukan tindakan kontroversial. Presiden Amerika Serikat terpilih ini punya rencana mengejutkan ihwal Kota Yerussalem yang kini diduduki Israel. Trump ingin, Kedubes AS untuk Israel dipindah dari Tel Aviv ke Yerussalem. Ide ini sepertinya bakal mendapat kecaman dari dunia.

Kabar pemindahan Kedubes ini disampaikan penasihat senior Trump, Kallyanne Conway. Rencana ini akan direalisasikan setelah Trump resmi dilantik menjadi Presiden, Januari 2017. Di AS sendiri, kebijakan ini kontoversial karena mengubah kebijakan yang dilakukan bertahun-tahun. Conway pun irit bicara ihwal rencana tersebut. Menurutnya, pemindahan kantor kedubes itu merupakan realisasi janji Trump saat kampanye. Menurutnya, pemindahan kedutaan itu telah menjadi salah satu prioritas utama Trump.

“Dia mengatakannya dengan sangat jelas selama kampanye. Dan sebagai Presiden terpilih, saya mendengar dia mengulang kembali janjinya itu selama pertemuan tertutup setelah Pemilu,” ujar Conway, seperti dilansir dari The Guardian, kemarin.

Conway tidak menjawab kebijakan ini akan menambah musuh AS di dunia. Pasalnya, Yerussalem dalam sejarahnya merupakan kota suci tiga agama : Islam, Kristen dan Yahudi. Nah, sejak 1980, Yerussalem dikuasai oleh Israel, negara Yahudi.

Meski begitu, Conway mengatakan kebijakan ini pastinya akan diapresiasi oleh Israel sebagai sekutu abadi AS di Timur Tengah. Tidak hanya itu, warga Yahudi di AS pun diyakininya sangat mendukung kebijakan ini. Bagi dia, langkah ini dianggap baik dan yang diinginkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang telah lama berusaha memindahkan Kedubes AS.

Seperti diketahui, saat masih kampanye di medio September 2016, Trump secara empat mata melakukan pertemuan tertutup selama satu jam dengan Netanyahu di Israel. Seusai itu, kantor PM Netanyahu mengeluarkan pernyataan. “Netanyahu membahas isu-isu Trump yang berkaitan dengan keamanan Israel dan upaya untuk mencapai stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah,” demikian pernyataan dari kantor PM Israel saat itu.

Dikabarkan, Trump juga menjanjikan kepada Netanyahu, AS akan memberikan Israel kerjasama strategis, teknologi dan militer yang luar biasa jika dia terpilih. Di antaranya, soal kesepakatan nuklir dengan Iran, pertempuran melawan ISIS hingga tembok keamanan yang memisahkan Israel dengan Tepi Barat, Palestina. “Trump memahami Yerussalem telah lama menjadi Ibu Kota abadi dari kaum Yahudi selama 3.000 tahun, dan AS di bawah kepemimpinan Trump akan menerima mandat kongres yang telah lama didirikan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota penuh dari Israel,” demikian pernyataan kampanye Trump.

Dalam sejarahnya, Israel merebut paksa bagian timur Yerussalem yang diduduki masyarakat Arab selama perang Arab-Israel 1967. Dan Israel kemudian mencaploknya pada 1980 dan menyatakan semua wilayah terpadu Yerussalem adalah milik Israel. Namun sejak saat itu, dunia melalui PBB dan AS serta sebagian besar negara-negara anggota PBB lainnya tidak mengakui sikap Israel ini. AS dan PBB mempertimbangkan status akhir Yerussalem menjadi isu utama yang harus diselesaikan dalam negosiasi perdamaian dengan Palestina.

Namun, pada Oktober 1995, Kongres AS meloloskan Undang-Undang yang menyerukan Yerussalem tidak dibagi dan hanya mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Dan memberikan otorisasi untuk pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerussalem. (Red)

Photo credit : Reuters


KBI Telegraf

close