Bekraf Bawa Ghose Parade Ke San Fransico

"Kita melihat potensinya sangat besar hanya memang belum kita garap dengan optimal penciptaan ekosistem paragame developer kita itu bisa menciptakan game game unggulan yang tidak hanya untuk dipasar dalam negeri tetapi dibawa ke pasar luar negeri,"

Bekraf Bawa Ghose Parade Ke San Fransico


Telegraf, Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) hadirkan game prodak dalam negeri di kancah dunia yaitu Game Connection America 2018, yang berlangsung di San Fransisco Amerika serikat Maret lalu.

Sebuah game produck anak bangsa dengan nama Ghose Parade (game petualangan) bersanding dengan Guilty Gear series, Blazblue series, Tokyo Xanadu, dan Code Realize, game yang merupakan besutan Aksys game publisher kelas dunia.

“Kita melihat potensinya sangat besar hanya memang belum kita garap dengan optimal penciptaan ekosistem paragame developer kita itu bisa menciptakan game game unggulan yang tidak hanya untuk dipasar dalam negeri tetapi dibawa ke pasar luar negeri,” ungkap Deputi Pemasaran Josua Simanjuntak, di Jakarta.

Josua juga mengatakan Bekraf konsisten mempromosikan game-game berkualitas keluar negeri dimana kontribusi dari industri aplikasi dan game ini telah menyumbang sebesar 1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2015.

Josua menjelaskan game Ghost Parade, yang sudah dilirik perusahaan asing terbukti Aksys Game sebagai publisher akan merilis Ghost Parade di seluruh dunia dalam berbagai platform, diantaranya Nintendo Switch, PlayStation 4, dan PC via Steam pada tahun 2019.

Ditemui di tempat yang sama Azizah Assatari selaku CEO dari Lentera Nusantara yang menaungi game Ghost Parade menjelaskan Game petualangan @ D side -Scrolling dengan gameplay yang menceritakan kisagh seorang gadis bernama suti yang tersesat di hutan dan sedang berusaha untuk pulang dimana sepanjang jalan bayak menemukan hantu yang membimbingnya untuk ulangsebagai imbaannya suri diminta membantu mengembalikan hutan yang sudah dihancurkan oleh manusia.

Banyaknya game yang marak di pasaran yang mana banyak merisaukan para orang tua Azizah meyakinkan bahwa gamenya ini game keluarga, tidak ada kekerasan dan akan lebih menambah wawasan dimana didalam game tersebut terdapat budaya Indonesia.

“Kami punya misi supaya local culture budaya indonesia itu bisa dibawa keluar negeri bisa dilihat oleh masyarakat di dunia disitu kita kepikiran apa yah mediannya, nah pertama sekali itu kami memulai dengan game,” ungkapnya, Sabtu (14/7).

Azizah melanjutkan game yang kami angkat karena game mudah di lihat prosesnya dimana dari awal sampai ahkir develope dari pembuatan konsep hingga marketing semua terbawa.

Seperti contoh sebuah game tidak hanya membawa gamenya saja melainkan pasti banyak membawa yang lain seperti my producknya, fanbase, dan merchandise, dari sinilah bisa di bungkus budaya ke sebuah media, yang akhirnya membawa keseluruhan IT yang berbasis local culture ke seluruh dunia. (Red)


Credit Photo : Deputi Pemasaran Josua Simanjuntak dalam bincang sore di Jakarta/telegraf


Atti K.

close