Bahrun Naim Kontak Terduga Teroris Bekasi Dengan Aplikasi Telegram

Bahrun Naim Kontak Terduga Teroris Bekasi Dengan Aplikasi Telegram

"Mereka berkomunikasi selama ini dengan medsos, dengan menggunkan Internet, menggunakan saluran aplikasi Telegram. Termasuk informasi penting kemudian cara-cara pembuatan bomnya dari sana dikirimkan,"

Bahrun Naim Kontak Terduga Teroris Bekasi Dengan Aplikasi Telegram


Telegraf, Jakarta – Polisi mengatakan, anggota Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia Bahrun Naim menyebarkan ajaran merakit bom lewat internet.

“Mereka berkomunikasi selama ini dengan medsos, dengan menggunkan Internet, menggunakan saluran aplikasi Telegram. Termasuk informasi penting kemudian cara-cara pembuatan bomnya dari sana dikirimkan,” kata Kepala Bagian Mitra Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono di Jakarta, Selasa (13/12) siang.

Pria yang bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo itu disebut sebagai dalang bom Thamrin pada Januari 2016. Saat ini Bahrun tinggal di Raqqa, Suriah.

Nama Bahrun Naim kembali mencuat saat polisi menangkap tujuh orang yang diduga merupakan anggota Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) pimpinan mantan penjaga warung internet itu.

Tujuh orang tersebut adalah Nur Solihin, Agus Supriyadi dan Dian Yulia Novi yang ditangkap di Jakarta Timur, Sabtu (10/12) lalu. Barang bukti yang diamankan adalah bom rakitan berbentuk penanak nasi.

Lalu, polisi menangkap terduga teroris perakit bom Bekasi berinisial SY alias Abu Izzah di Dusun Sabrang Kulon, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Keesokan harinya, polisi menangkap KF di Ngawi, APM di Solo dan WP di Klaten.

Awi menjelaskan, ketujuh orang tersebut berkomunikasi dan menerima perintah dari Bahrun lewat media sosial. Awi menjelaskan polisi sudah lama mengamati pergerakan Bahrun Naim di medsos.

“Yang bersangkutan memang pandai di bidang medsos, kemudian membuat blog, membuat artikel kemudian dikirimkan. Perbuatan yang bersangkutan secara masif di media sosial, sehingga dengan mudah masyarakat bisa mengakses itu,” kata Awi.

Menurut Awi lewat media sosial pula Bahrum Naim berkomunikasi mengenai aliran dana. Sampai saat ini polisi masih mendalami terkait aliran dana tersebut.

“Kan kemarin baru pengaduan, ini sudah masuk ke ranah hukum. Polisi harus mencari fakta hukumnya, bukti transfer atau melalui apa transaksinya,” kata Awi.

Lebih lanjut, Awi menjelaskan akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melakukan pencegahan pergerakan teroris di media sosial.

“Kemkominfo yang leading sector untuk membangun ini. Kalau kami kan terkait cyber crime-nya, pemantauan pengawasan tindak pidana di bidang cyber khususnya media sosial,” kata Awi. (Red)

Photo credit : Telegraf Photo/Koeshondo W.W.


KBI Telegraf

close