Artis Mendadak Politis, Seberapa Besar Pengaruh Mereka Dalam Meraup Suara?

"Jika dilihat dari perspektif citra atau image secara umum yang dihasilkan dari respon publik nyaris semua artis tidak luput dari perbincangan. Dari perbincangan tersebut bisa diukur frekuensi perbincangan dan sentimen positif dan negatifnya. Untuk mendapatkan validitas data tentang hal ini tentu harus ada data survey kuantitatif atau model survey tracking netizen di sejumlah media sosial tentang persepsi publik terhadap sejumlah artis tersebut."

Artis Mendadak Politis, Seberapa Besar Pengaruh Mereka Dalam Meraup Suara?

Telegraf, Jakarta – Dukungan artis kepada pasangan capres merupakan fenomena politik yang wajar. Hal itu bagian dari strategi endorsement tokoh yang menjadi public figure. Tujuannya adalah untuk menjadikan public figure tersebut menjadi vote getter atau pengepul suara bagi pasangan capres. Pun demikian, dukungan Lucinta Luna, Ahmad Dhani dan sejumlah artis lainnya yang mendukung pasangan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Dilain pihak, ada aktor sekaligus sutradara senior Deddy Mizwar, artis film dan penyanyi Nafa Urbach, Krisna Mukti dan sejumlah artis lainnya yang mendukung pasangan capres nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Nama-nama artis tersebut bisa menjadi vote getter bagi masing-masing pasangan capres.

Namun tentu saja pengaruh elektoral masing-masing artis dalam mendongkrak suara bisa berbeda. Besar kecilnya pengaruh artis dalam mendongkrak suara tergantung beberapa faktor. Pengaruh elektoral seorang public figure akan ditentukan minimal 5 faktor. Pertama, seberapa besar jumlah pemilih di suatu wilayah yang pilihannya bisa dipengaruhi oleh tokoh.

Faktor kedua adalah kekuatan citra masing-masing artis atau public figure. Ssberapa kuat ketokohan artis tersebut di tengah masyarakat. Faktor ketiga adalah image atau citra artis tersebut apakah lebih besar positifnya atau justru lebih besar negatifnya di mata publik. Faktor keempat adalah kompetensi dan rekam jejak masing-masing artis. Faktor kelima adalah intensitas dan aktifitas masing-masing artis terjun langsung di tengah masyarakat dalam rangka menggalang dukungan pemilih, demikian analisa serta pendapat pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo kepada redaksi Telegraf, Rabu, (07/11/18).

Jika dilihat dari perspektif citra atau image secara umum yang dihasilkan dari respon publik nyaris semua artis tidak luput dari perbincangan. Dari perbincangan tersebut bisa diukur frekuensi perbincangan dan sentimen positif dan negatifnya. Untuk mendapatkan validitas data tentang hal ini tentu harus ada data survey kuantitatif atau model survey tracking netizen di sejumlah media sosial tentang persepsi publik terhadap sejumlah artis tersebut.

Namun demikian, dari penelusuran di media dan media sosial secara sederhana artis Lucinta Luna pernah menjadi cemohan publik dan netizen terkait adanya dugaan transgender alias merubah jenis kelamin. Lucinta diduga netizen berjenis kelamin laki-laki tapi berpenampilan layaknya perempuan.

Sementara Ahmad Dhani terlalu sering mengumbar pernyataan kontroversial yang mengundang respon negatif. Kasus perceraiannya dengan Maia Estianty dan kasus tabrakan maut oleh salah satu putranya yang mengemudikan mobil tanpa SIM, ditambah lagi statusnya sebagai tersangka atas dugaan pencemaran nama baik tentu menambah rekam jejak yang negatif.

Dari rekam jejak Lucinta dan Ahmad Dhani ini bisa dibuat asumsi bahwa kedua figur tersebut memiliki image negatif di mata publik, meskipun tidak bisa dipungkiri kedua artis tersebut memiliki penggemar setia. Namun, secara tidak langsung, image negatif kedua artis tersebut bisa juga berdampak negatif bagi pasangan Prabowo – Sandiaga. Karenanya, jika Prabowo – Sandi ingin menggunakan artis sebagai vote getter maka harus menghimpun artis yang memiliki kompetensi, image dan rekam jejak yang positif di mata publik. (Red)


Photo Credit : Ahmad Dhani pada saat menjalani persidangan. Liputan6/Faizal Fanani

 

Share



Komentar Anda