Telegraf — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir April 2025 menunjukkan kinerja yang positif. APBN mencatatkan surplus sebesar Rp4,3 triliun, didorong oleh penerimaan negara yang melampaui kecepatan belanja negara.
Hingga 30 April 2025, pendapatan negara telah mencapai Rp810,5 triliun, atau 27% dari target tahunan. Pendapatan tersebut terdiri dari:
- Penerimaan perpajakan sebesar Rp557,1 triliun (25,4% dari target Rp2.189,3 triliun),
- Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp100 triliun (33,1% dari target Rp301,6 triliun), dan
- Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp153,3 triliun (29,8% dari target).
Dari sisi belanja, realisasi Belanja Negara sebesar Rp806,2 triliun, setara dengan 22,3% dari total alokasi Rp3.621,3 triliun. Rinciannya:
- Belanja pemerintah pusat sebesar Rp546,8 triliun (20,2%),
- Di antaranya belanja K/L Rp253,6 triliun (21,9%)
- Belanja non-K/L Rp293,1 triliun (19%)
- Transfer ke daerah sebesar Rp259,4 triliun (28,2%)
Sri Mulyani menegaskan bahwa pendapatan negara tumbuh lebih cepat daripada belanja, dengan realisasi bea dan cukai bahkan telah mencapai lebih dari 33%. “Kita melihat kecepatan dari pendapatan negara sudah mendahului belanja, yang secara total baru berada di sekitar 20–22%,” ungkapnya dalan konfrensi pers di kantornya Jakarta, Jumat, (23/5).
Dari sisi fiskal, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp173,9 triliun, sementara pembiayaan anggaran telah terealisasi Rp279,2 triliun atau 45,3% dari target Rp616,2 triliun, menandakan strategi front-loading pembiayaan yang agresif di awal tahun.
Sri Mulyani juga mengulas dinamika global yang memengaruhi kinerja fiskal Indonesia. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.406/USD pasca-Lebaran, sementara rata-rata Januari–April berada di Rp16.460/USD. Di sisi lain, rata-rata harga minyak dunia tercatat USD71,9 per barel, di bawah asumsi APBN sebesar USD82.
Lifting minyak dan gas juga masih di bawah asumsi, yakni 573.900 barel per hari untuk minyak dan 985,7 ribu BOE per hari untuk gas.
Sri Mulyani mengingatkan bahwa ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok turut berpengaruh terhadap outlook global. Meski terdapat upaya diplomasi, tarif tinggi masih diberlakukan, yang menambah tekanan pada proyeksi pertumbuhan global.
“Dengan surplus APBN dan keseimbangan primer yang tetap positif, ini menjadi sinyal bahwa fundamental fiskal kita masih kuat di tengah ketidakpastian global,” ujar Sri Mulyani .