Aksi Tindakan Kekerasan Terhadap Jurnalis Dapatkan Kecaman Dari Rumah Gerakan 98

Aksi Tindakan Kekerasan Terhadap Jurnalis Dapatkan Kecaman Dari Rumah Gerakan 98

"Tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah cara-cara premanisme yang merupakan tindakan pidana dan pelanggaran hukum, sebab jurnalis dalam kegiatan jurnalisnya dilindungi UU,"

Aksi Tindakan Kekerasan Terhadap Jurnalis Dapatkan Kecaman Dari Rumah Gerakan 98

Telegraf, Jakarta – Rumah Gerakan 98 menyesalkan terjadinya pemukulan terhadap salah seorang jurnalis Kompas TV, Muhammad Guntur, saat aksi 4 November kemarin.

“Tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah cara-cara premanisme yang merupakan tindakan pidana dan pelanggaran hukum, sebab jurnalis dalam kegiatan jurnalisnya dilindungi UU,” kata Jurubicara Rumah gerakan 98 Bernard Haloho, dalam rilis yang diterima redaksi, Senin (7/11).

Lanjut Bernard, Rumah Gerakan 98 mengecam keras aksi pemukulan yang dilakukan oknum peserta Aksi 4 November. Serta meminta kepolisian serius menangani aksi kekerasan tersebut, dan memandangnya sebagai upaya penghalangan kerja jurnalistik sebagai mana diatur dalam UU 40/99 tentang Pers.

Dalam Pasal 18 Ayat 1 disebutkan “setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah)”.

“Menghimbau masyarakat untuk memahami kerja jurnalistik yang sejatinya merupakan perwujudan dari pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Bila jurnalis dihalang-halangi, hal itu berarti menghalangi pula hak masyarakat untuk mendapatkan informasi,” pungkas Bernard. (Red)

Foto : Ilustrasi peliputan berita oleh jurnalis dilapangan. | Reuters

KBI Telegraf

close