2017, Pendapatan Lippo Karawaci di Prediksi Bisa Tumbuh Hingga 20%

“Kalau perusahaan lain kan tidak dijual, sehingga neraca menjadi gemuk, karena asetnya dikumpulin terus. Biasanya, kalau tidak nambah modal, utangnya yang nambah. Itu yang kami ingin hindari,”

2017, Pendapatan Lippo Karawaci di Prediksi Bisa Tumbuh Hingga 20%


Telegraf, Tangerang – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) optimistis pendapatan tahun depan tumbuh sebesar 20%, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi 2016 yang sebesar 13%. Pertumbuhan bahkan bisa lebih tinggi, jika perseroan merealisasikan penjualan mal sebagai bagian dari program asset light.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan, dengan asset light berupa penjualan satu mal di Yogyakarta, pendapatan perseroan pada 2017 diproyeksikan tumbuh sebesar 24%. Sedangkan dengan penjualan satu mal di Bali, pertumbuhan pendapatan tahun ini bisa mencapai 22%.

“Kami sedang dalam proses akhir untuk menjual satu mal di Bali. Kalau itu terealisasi sebelum tutup tahun, bakal ada tambahan pendapatan sebesar Rp 760 miliar. Sebab, penjualan mal dianggap seperti kami menjual rumah atau apartemen atau produk properti lainnya,” kata Ketut Budi Wijaya, di Tangerang, Banten, baru-baru ini.

Ketut menjelaskan, mal tersebut dijual kepada Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT). Asset light tersebut menjadi salah satu kunci pertumbuhan perseroan pada 2016 dan 2017. Lippo Karawaci juga masih memiliki satu mal yang belum diproses untuk dijual, yang merupakan mal terbesar di Jakarta Barat.

Terobosan

Lebih lanjut Ketut menjelaskan, program asset light tergolong bisnis yang sustainable. Saat ini, belum ada perusahaan properti lain yang melakukan hal serupa, hanya Lippo Karawaci.

“Kalau perusahaan lain kan tidak dijual, sehingga neraca menjadi gemuk, karena asetnya dikumpulin terus. Biasanya, kalau tidak nambah modal, utangnya yang nambah. Itu yang kami ingin hindari,” tutur dia.

Selain asset light, Lippo Karawaci menyiapkan sejumlah terobosan yang tak kalah penting untuk meningkatkan kinerja tahun depan. Salah satunya adalah mengembangkan produk properti middle-low, dengan brand Urban Homes.

Perseroan berencana meluncurkan 5.000-10.000 unit Urban Homes per tahun untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Harga per unit di bawah Rp 500 juta. “Produk-produk ini memiliki daya tahan terhadap siklus penurunan pasar properti. Pembelinya tetap ada, mengingat backlog (kekurangan pasokan rumah) yang disebut pemerintah ada sekitar 11 juta,” ujar Ketut.

Perseroan akan membangun Urban Homes di lahan yang sudah ada. Lahan-lahan itu tersedia di kawasan Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, dan tempat-tempat lain. Dengan demikian, perseroan tidak memerlukan belanja modal (capital expenditure/capex) yang relatif besar.

Saat ini, total cadangan lahan (land bank) perseroan seluas 1.300 hektare (ha). Sebagian besar lahan sudah dilengkapi infrastruktur. Dengan demikian, lahan tersebut siap dibangun. Urban Homes menyasar konsumen yang masih lajang dan keluarga kecil. Sebab, menurut data statistik, sebanyak 60% penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Jadi, potensi pasarnya sangat besar.

Selain membangun Urban Homes, Lippo Karawaci melakukan terobosan lain dengan membangun rumah sakit (RS) baru. Anak usaha perseroan, yaitu PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), telah merampungkan pembangunan tiga RS dan saat ini masih menunggu izin operasional. Diharapkan, tiga RS yang berlokasi di Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi itu bisa beroperasi pada 2017.

“Sudah pasti yang tiga ini siap masuk pada 2017. Selain itu, ada 16 rumah sakit lagi yang sedang dalam pembangunan. Itu semua targetnya tahun depan. Kalau sekarang, sudah ada 23 rumah sakit, lalu ditambah tiga, dan nanti ada tambahan 16, berarti totalnya bisa mencapai 42 rumah sakit,” ungkap Ketut. (Red)

Photo credit : Ilustrasi Lippo Mall


KBI Telegraf

close