2016, Akhir Era Kebijakan Pelonggaran Moneter BI

2016, Akhir Era Kebijakan Pelonggaran Moneter BI

"Nah, untuk meminimalisir efek kenaikan Fed rate secara bertahap di tahun 2017, diperkirakan Bank Indonesia akan cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan,"

2016, Akhir Era Kebijakan Pelonggaran Moneter BI


Telegraf, Jakarta – Institute for Development on Economics and Finance (Indef) menilai tahun ini merupakan masa di mana akan berakhirnya era kebijakan pelonggaran moneter, yang selama ini gencar dilakukan oleh bank sentral Indonesia (BI) sepanjang 2016.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, berasalan berakhirnya era kebijakan pelonggaran moneter karena pengaruh dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang diperkirakan bakal cenderung menaikkan tingkat suku bunganya (Fed Fund Rate) secara gradual sepanjang tahun 2017.

Kenaikan Red rate tersebut, lanjutnya, akan memberikan peningkatan ancaman terhadap keluarnya dana asing dari Tanah Air, mengingat porsi Surat Berharga Negara (SBN) sekitar 39,2% data per September 2016. Hal ini bisa berpotensi semakin melemahkan nilai tukar rupiah.

“Nah, untuk meminimalisir efek kenaikan Fed rate secara bertahap di tahun 2017, diperkirakan Bank Indonesia akan cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan,” kata Bhima dalam diskusi catatan akhir tahun 2016 di Kantor Indef, Jakarta, Kamis (29/12).

Lebih lanjut Bhima menyatakan, kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45 diperkirakan bakal memicu bank sentral Amerika untuk menaikkan tingkat suku bunganya. Karena kepemimpinan Trump dinilai mampu membawa perekonomian Amerika mampu tumbuh lebih baik lagi.

“Prospek perekonomian AS di bawah kepemimpinan Trump memberikan harapan bagi warganya. Beberapa program seperti belanja infrastruktur yang besar, pemotongan pajak diprediksi mendorong naiknya inflasi. Proyeksi kenaikan inflasi direspon dengan meningkatnya bunga obligasi,” ujarnya.

Ketika inflasi meningkat dan pertumbuhan ekonomi membaik, Bhima menuturkan, maka bank sentral Amerika, the Fed, akan merespon kebijakan moneternya. “Fed rate bakal naik terus, dan BI 7 days repo rate tidak mungkin lagi dipangkas, dan berpotensi terus dipertahankan bahkan dinaikkan,” jelasnya. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


KBI Telegraf

close