Isu Perpecahan Selalu Ada: Kita Harus Berkaca Pada Mosi Integral NKRI

"Dan harus diingat, kita pernah mengalami perpecahan pada Tahun 2000, yaitu Timor Leste lepas dari negara Republik Indonesia, yang artinya secara historis dan isu perpecahan itu selalu ada dan problemnya sekarang adalah bagaimana solusinya agar bangsa kita tidak pecah,"

Isu Perpecahan Selalu Ada: Kita Harus Berkaca Pada Mosi Integral NKRI

Telegraf, Jakarta – Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Sumardiansyah Perdana Kusuma menyatakan bahwa secara narasi sejarah fakta negara bubar itu sudah terjadi jika berkaca pada negara Uni Sovyet yang pecah menjadi Rusia, Belarusia, Georgia, Ukraina, Kazakhstan, Uzbekistan dan Tarzikistan yang di kawasan Asia.

Hal tersebut diungkapkannya saat diinterview oleh Telegraf usai acara Seminar dengan Tema: “68 Tahun Mosi Integral NKRI Mr. Muhamad Natsir” yang diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Orasi 86 dengan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) di Aula Museum Nasional Proklamasi Jl. Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat, Selasa, (10/04/18).

Menurut Sumardiansyah Perdana Kusuma, kita juga bisa belajar dari Yugoslavia, bagaimana pecah menjadi Serbia, Montenegro, Bosnia, Herzegovina dan Kosovo. Dan kita juga bisa belajar dari Chekoslovakia.

“Dan harus diingat, kita pernah mengalami perpecahan pada Tahun 2000, yaitu Timor Leste lepas dari negara Republik Indonesia, yang artinya secara historis dan isu perpecahan itu selalu ada dan problemnya sekarang adalah bagaimana solusinya agar bangsa kita tidak pecah,” ungkapnya.

Menurut Sumardiansyah, dalam konteks ini kita harus belajar dari Mr. Muhamad Natsir, dimana Belanda ketika Pasca Konferensi Meja Bundar itu menjadikan Indonesia dalam bentuk negara bagian atau federasi. Yang oleh sebagian kalangan terutama yang pro republik dan negara kesatuan, bahwa negara bagian yang merupakam sebuah konsep boneka yang dibuat untuk memecah belah Republik Indonesia.

“Nah disitulah Mr. Muhamad Natsir tampil dalam bentuk Mosi Integral, ketika tanggal 3 April, 68 tahun yang lalu, beliau tampil berpidato untuk mengembalikan kembali negara RIS ke dalam NKRI dan gagasan beliau ini merupakan sebuah kompromi dan jawaban atas sebuah polemik yang terjadi dalam negara bagian,” terangnya.

Baca Juga  Terlibat Penyuapan, Politisi PKS Dilapaskan ke Sukamiskin Oleh KPK

Pidato dari M. Natsir semakin memperkuat keyakinan Soekarno dan juga didukung oleh parlemen bahwa memang kembali ke NKRI dan meninggalkan negara bagian itu merupakan jalan yang kita tempuh pada masa itu. Dan tanggal 17 Agustus 1950 dikenal dengan lahirnya kembali NKRI jilid II, setelah kita sebelumnya dengan NKRI juga pada tanggal 17 Agustus 1945. (Red)


Photo Credit : Sejumlah warga membubuhkan tanda tangan di spanduk bergambar tokoh nasional di area car free day, Jakarta, Minggu (14/5/2017). Kegiatan itu sebagai bentuk simpati terhadap kondisi nasional yang ramai akan isu perpecahan dan perbedaaan. | Munzir

Share



Loading...