68 Tahun Mosi Integral NKRI Mr. Muhamad Natsir

"Iya dia diposisi yang terdepan untuk selalu memperjuangkan perbaikan-perbaikan terhadap nasib umat, tetapi lebih daripada perbaikan terhadap nasib umat, tetapi lebih daripada itu Mr. Muhamad Natsir tidak seperti para pemimpin Islam kebanyakan, mungkin prioritas utamanya dalam memperjuangkan umat Islam,"

68 Tahun Mosi Integral NKRI Mr. Muhamad Natsir

Telegraf, Jakarta – Komunitas Orasi 86 bekerjasama dengan Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) menyelenggarakan acara Seminar dengan Tema: “68 Tahun Mosi Integral Mr. Muhamad Natsir” di Aula Museum Nasional Proklamasi Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat, Selasa (10/04/18), yang dibuka dengan pidato dari Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon. Acara seminar ini juga dihadiri oleh narasumber diantaranya, Prof. Dr. Dwi Purwoko, Peneliti LIPI Bidang Humaniora, Dr. Bondan Kanumoyoso, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan Sumardiansyah Perdana Kusuma, Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI).

Dalam acara seminar ini, peneliti Humaniora LIPI, Prof. Dr. Dwi Purwoko saat diinterview oleh Telegraf menyatakan bahwa Indonesia akan bubar kalau umumnya ada patologi sosialnya tidak diatasi dengan baik seperti pengangguran, kesenjangan sosial dan seterusnya, umpamanya governmentnya kuat dan punya konsentrasi yang sangat serius untuk menangani patologi sosial.

“Insya Allah NKRI yang kemudian didengung-dengungkan pada tahun 1950-an dengan Mosi Integralnya M. Natsir tetap ada,” ungkap Dwi Purwoko.

Menurutnya, dengan catatan negara Soviet pun kalau tidak dikelola dengan baik akan pisah juga. Makanya kalau ada seseorang tokoh yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan bubar, itu sebagai sebuah masukan maupun juga kritik, supaya kerja dari pemerintahan lebih baik lagi dan lebih serius lagi dalam menangani persoalan-persoalan sosial, politik dan ekonomi di Indonesia.

Sementara itu dikesempatan yang sama, dosen ilmu sejarah Universitas Indonesia, Dr. Bondan Kanumoyoso menyatakan bahwa menurutnya Mr. Muhamad Natsir menunjukkan satu sosok yang konsisten sejak muda sampai dengan usia beliau lanjut, perjuangannya itu jelas.

“Iya dia diposisi yang terdepan untuk selalu memperjuangkan perbaikan-perbaikan terhadap nasib umat, tetapi lebih daripada perbaikan terhadap nasib umat, tetapi lebih daripada itu Mr. Muhamad Natsir tidak seperti para pemimpin Islam kebanyakan, mungkin prioritas utamanya dalam memperjuangkan umat Islam,” ungkap Bondan Kanumoyoso.

Baca Juga  KPK Telah Kantongi Peran Berbagai Pihak Yang Terlibat Century

Menurutnya, Mr. Muhamad Natsir juga punya kecintaan dan perhatian terhadap bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dan ini dibuktikan ketika beliau rapat, itu penghargaan bukan hanya muncul dari tokoh-tokoh nasional tetapi juga dari dunia luar.

“Bahkan obituari dan in memoriam yang mengenang kehidupan Pak Muhamad Natsir itu terbit di satu Majalah Jurnal Indonesia di Amerika yang ditulis oleh seorang tokoh Ilmuwan yang ahli Indonesia berkebangsaan Amerika. Dengan kata lain adalah satu bentuk penghargaan bahwa Pak M. Natsir ini dibalik kebersahajaannya, beliau itu memiliki pencapaian-pencapaian yang melampaui pencapaian dari para politisi Indonesia kebanyakan,” jelasnya. (Red)


Photo Credit : Mohammad Natsir, seorang pejuang Islam di tanah air yang mendapatkan gelar pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2008. | File/Dok/Ist. Photo

Share



Loading...